
Pak Sarif sepertinya sedang ganti suasana karena dari tadi dia mendengar lagu Malaysia saja di radio.
"Mbak?" panggil Pak Sarif.
Gantari kira sudah sampai rumah, dia melihat keluar jendela dan rupanya mereka sedang terjebak macet.
"Iya, Pak?"
Sejenak Pak Sarif tampak ragu. Namun, kemudian dia melanjutkan, "Tuan Darya itu sebenarnya sayang banget sama mbak Gantari."
Gantari terperangah karena hari ini saja sudah dua orang yang membicarakan kakek.
"Tuan Darya sebenarnya tau mbak setiap hari ke rumah sakit," lanjut Pak Sarif hati-hati.
Kali ini Gantari tertegun. Dia sudah tertangkap basah rupanya.
"Tuan juga tau," Pak Sarif menoleh, lalu melanjutkan dengan pelan sekali, "Kalau ibunya mbak udah sadar."
Deg!
Gantari tidak bisa merasakan lagi jantungnya berdetak. Ia terlalu takut memikirkan jika ia harus berpisah lagi dengan sang ibu.
Sesampainya di rumah, Gantari langsung masuk kamar karena belakangan rumah semakin sepi saja. Sekarang ia juga jarang mengobrol dengan Shanessa lantaran sang sepupu kerap kali mengurung diri di kamar. Gantari pernah penasaran dan mencoba mengintip, rupanya Shanessa sedang sibuk dengan laptop dan setumpuk buku. Nampaknya semangat mengejar gelar Sarjana sedang berkibar.
Pagi-pagi sekali sebelum berangkat kerja Gantari sarapan terlebih dahulu. Di hadapannya ada kakek yang sedang menyesap teh hijau bersama roti gandum. Diusianya yang tak lagi muda, kakek memang harus menjaga pola makan.
Sempat terbersit ucapan ibu dan Pak Sarif mengenai sang kakek, dan itu cukup mampu meredupkan kobaran amarahnya meski sedikit. Dia masih bertanya-tanya, kenapa kakek diam saja ketika tau ibunya sudah sadar, bahkan dikunjunginya setiap hari?
Lamunan Gantari buyar, ketika Shanessa datang dan berdeham. Ia mengulurkan kotak makan berwarna pink pada Gantari. "Aku benar-benar menyesal," ucapnya kemudian.
Gantari mendongak, bahkan kakek juga ikut melirik mereka. Shanessa yang salah tingkah, langsung tersenyum kikuk dan memutar tubuhnya ingin segera kembali ke kamar, namun Gantari buka suara.
"Semoga skripsimu lancar."
Shanessa merasakan dadanya sesak. Ia berlari mendekati Gantari, lantas memeluknya dari belakang.
***
Di kantor, Nanda sedang merengek minta Gantari ikut makan bersama di kantin. Hari ini ulang tahunnya, begitu alibi Nanda. Akibat tak enak hati, Gantari menyetujui permintaan tersebut. Ia bisa pergi menjenguk sang ibu nanti setelah makan dengan cepat, begitu rencananya.
Nanda bersorak melihat Gantari mengangguk, lantas ia sibuk mengajak Fikri, Utami, Widia, Elma, Ahmad, dan lainnya untuk bergabung. Dia yang teraktir, begitu rayuannya.
"Pakai pamrih kado nggak nih, Nan?" goda Widia.
Nanda menggeleng. "Nggak usah. Udah tiga tahun aku kerja, belum pernah neraktir kalian sekali pun."
Elma sontak memeluk Nanda dari samping. Ia tahu jelas, jika rekan kerjanya itu menjadi tulang punggung keluarga, membuat Nanda berkaca-kaca.
"Kok bisa, saya nggak masuk dalam tamu undangan kamu, Rama Ananda?"
__ADS_1
Nanda terlonjak. Setiap mendengar nama lengkapnya disebut Nevan, entah kenapa membuat bulu kuduknya merinding. Sambil meringis, Nanda berujar, "Kalau bapak mau ikut, boleh, kok."
"Kok nggak ikhlas gitu," balas Nevan sambil lalu. Namun, ia berjalan juga menuju kantin dengan diekori karyawan-karyawannya.
Elma menghentakkan kakinya. "Bakalan kaku, nih," ucapnya cemberut.
Fikri adalah orang yang paling duluan memesan, tapi dia tau diri dan tidak memesan banyak. Sedangkan, yang lainnya ikut menyusul. Sebelum makan, mereka menyampaikan doa dulu untuk yang punya hajat.
"Selamat ulang tahun, Nanda. Tetap bahagia dan jadi orang positif, ya," mulai Gantari.
Nanda langsung memeluk Gantari yang duduk di sampingnya. "Aku baru kenal kamu, tapi udah sayang banget sama kamu, Tar."
Semua ikut bersorak melihat pemandangan itu dan ada juga yang berkaca-kaca.
"Gue apa lagi. Gue sayaaaaannggg banget sama ....," Fikri menghentikan ucapannya, ketika melihat Nevan melirik tajam padanya. "Sama Utami," lanjut Fikri datar.
Utami yang mendengarnya langsung bergidik dan menjambak rambut Fikri, hingga lelaki cengengesan itu meringis kesakitan.
"Tugas loe disini tinggal dua minggu lagi, kan, Tar?" ujar Ahmad tiba-tiba.
Membuat semua orang menoleh cepat pada Gantari yang sedang mengangguk, kecuali Nevan.
"Padahal kita udah solid," Ahmad menyayangkan.
Nanda memeluk Gantari lagi. Matanya masih berkaca-kaca.
Elma yang tidak sabar, mulai mengeksekusi makanan di depannya. Jamur krispi adalah makanan yang pertama kali ia cicipi.
"Loe belum pernah nyoba roti selai alpukat telur, Gantari, kan?" Fikri ikut menimpali, "Beugh! Enak banget," lanjutnya sambil mengunyah.
"Gimana mau nyicip? Udah loe bawa kabur duluan," sungut Widia yang membuat Fikri langsung garuk-garuk kepala.
Usai makan, Gantari berniat izin pada Nevan untuk ke rumah sakit. Jadi dia mengetuk pintu dan masuk setelah dipersilakan, namun kedatangannya disambut keluhan oleh Nevan.
"Makanan di kantin kadang tidak cocok untuk saya," ucapnya sembari memegang perut.
"Mulai besok, kamu yang siapkan makan siang saya," titahnya kemudian, membuat Gantari melotot kaget.
"Saya tidak buka catering, Pak," balasnya sebal.
"Emang saya bilang begitu?" sungut Nevan. "Hanya selama dua minggu saja. Gajinya setara dengan sebulan kerja."
Gantari tertawa hambar, lalu ingin kembali membantah, namun Nevan kembali menyela, " Dan .... waktu kunjunganmu ke rumah sakit diperpanjang sampai jam 3 sore."
Senyum kemenangan terukir di bibir Nevan ketika melihat Gantari mulai memikirkan tawarannya. Entah bagaimana, tapi kesepakatan telah terjadi.
Gantari kembali ke kubikelnya hendak mengambil tas dan pandangannya terhenti pada kotak pink yang tadi pagi diberikan Shanessa padanya. Ia duduk dan membuka kotak tersebut. Rupanya berisi mushroom omelette dengan saos sambal bertuliskan "Sorry". Manis sekali, sampai-sampai Gantari mengukir senyum.
***
__ADS_1
Dari semalam, Gantari sudah sakit kepala memikirkan mau masak apa pagi ini. Makanan yang kira-kira tetap dimakan Nevan, tapi bukan makanan favoritnya. Bisa besar kepala nanti dia kalau sampai Gantari memasak makanan kesukaannya.
Dua kotak makan sudah siap dihidangkan di depan Nevan. Nevan membukanya dengan gaya sesantai mungkin, lantas memandang kecewa menu yang dimasakan Gantari, ayam rica-rica, tempe goreng dan cah kangkung. Pada hal dia menerka, Gantari akan memasakan cumi asam manis kesukaannya.
Gantari tersenyum tipis ketika membaca raut kecewa Nevan, lalu pamit undur diri. Namun, Nevan menghentikannya. "Saya tidak mau makan sendiri," sergahnya.
"Duduk."
Gantari sedang mati-matian menahan diri agar tidak berucap kasar pada bosnya itu, jadi dia buat alibi, "Maaf, Pak. Tapi pekerjaan saya sangat banyak."
"Dan ini salah satunya. Profesional, dong," balas Nevan cuek, lalu membuat kode dengan jarinya agar Gantari segera duduk.
Oke, Gantari duduk. Mari diperjelas, yang dimaksud Nevan dengan tidak mau makan sendiri bukan berarti dia ingin berbagi makanan dengan Gantari, namun hanya sekedar menemani. Gantari duduk melihat Nevan makan, titik. Ya, memang begitu saja.
Gantari menghela napasnya kasar berkali-kali, karena Nevan ini makannya lama bukan main. Sesuap makan, lalu membaca bekas. Begitu saja sampai nenek moyang pensiun jadi pelaut.
"Maaf, Pak," Gantari memulai lagi, membuat Nevan melirik padanya dengan sebelah alis terangkat. "Saya haus, mau minum dulu," lanjutnya basi.
Nevan mengangguk paham, lalu mengangkat gagang telepon dan menghubungi Utami.
"Tolong siapkan dua gelas kopi hitam, ya."
Panggilan terputus setelah Utami menyanggupi dan memanggil Pak Dodi untuk dimintai tolong membuat kopi.
"Saya haus, Pak. Bukan mau minum kopi," protes Gantari.
"Ya udah, nih." Nevan menyodorkan minumannya pada Gantari, membuat Gantari mau mencak-mencak saja. Namun, tak jadi karena ponselnya berdering.
"Halo, Farez."
Nevan mengangkat sebelah alisnya.
"Iya. Sebenar lagi ke sana."
Sontak kening Nevan terkekuk. Ia menoleh pada jam di ponselnya. Baru lewat lima menit saja si Farez itu sudah sibuk begini.
Dasar nggak sabaran, gerutu Nevan dalam hati.
"Saya harus pergi sekarang," beritahu Gantari, setelah panggilan terputus.
"Sebentar lagi," balas Nevan.
Gantari tidak peduli. Dia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Gantari! Aku bilang sebentar lagi." Nevan makin gelagapan karena omongannya tidak juga digubris.
"Ok. Aku antar," ucap Nevan akhirnya, lantas berdiri untuk meraih kunci mobil.
Ucapan Nevan barusan sukses membuat Gantari menoleh. Dia menatap dalam Nevan sebentar, hingga pandangan mereka bertemu. Namun, kemudian ia kembali berbalik dan melanjutkan langkah, lalu hilang di balik pintu meninggalkan Nevan begitu saja.
__ADS_1
Nevan tertegun. Ada sudut di hatinya yang mendadak perih.