Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
S2: Salah


__ADS_3

"Loe kenapa?"


Nevan yang sedang mengutak-atik ponselnya dengan tak minat, lantas menoleh pada Fikri. Sejak tadi dia memang belum menyentuh makanan siang di hadapannya dan memilih menyesap kopi saja. Kebiasaan Nevan jika sedang ada yang menganggu pikiran.


"Kenapa apa?" balas Nevan tanpa rasa berdosa.


Fikri meletakkan sendok ditangannya ke atas piring, lalu menatap Nevan serius. Dia memang tidak pernah makan dengan lambat.


"Beberapa hari ini loe terlambat masuk kantor terus. Jangan bilang kalau loe keasikan mesra-mesraan di rumah sampai males berangkat kerja!" sungut Fikri.


"Gantari pergi dari rumah."


"Hah?" Fikri menyatukan alisnya. "Ini bukan gara-gara insiden di Surabaya, kan?"


Nevan tidak menjawab pertanyaan Fikri kali ini. Ia justru memilih meraih cangkir kopi dan menyesapnya sekali lagi. Kemudian, meletakkannya kembali ke atas meja.


Melihat tingkah Nevan tersebut, Fikri sudah tahu jawabannya. Ia mengembuskan napasnya kasar, lalu menggeleng tak habis pikir. "Kapan?"


"Udah dua hari."


Mata Fikri sontak melebar. Ia bahkan sedikit menggebrak meja saking terkejutnya. "Udah dua hari dan loe nggak jemput dia?"

__ADS_1


"Dia yang mutusin buat pergi," balas Nevan dingin.


"Van! Loe ... loe nggak ingat dengan perjuangan kalian selama ini buat bisa balik lagi?"


"Bukan gue yang nggak ingat, tapi dia!" Nevan memalingkan wajahnya, lalu tampak menghela napasnya dalam. "Kalau dia ingat, dia nggak akan semudah itu pergi."


Fikri mengatup bibirnya pasrah, lalu kembali menggelengkan pelan kepalanya sembari menatap Nevan lekat.


"Mungkin ... perjuangan kami selama ini memang nggak ada artinya buat dia," gumam Nevan, lantas tersenyum pahit.


...****************...


"Gantari!"


Ardiman mengetuk pintu kamar sang keponakan dan dengan tak sabar menunggu Gantari membukanya. Dia baru saja pulang dari luar kota dan sengaja langsung menemui Gantari di rumah.


"Iya, Om?" Gantari yang baru saja keluar dari kamar mandi, berjalan tergesa dan membuka pintu.


"Kamu baik-baik aja, Nak?"


Hati Gantari berdesir, hingga membuat matanya berembun tanpa kendali. Namun, kemudian ia menganggukkan kepalanya tanpa menjawab.

__ADS_1


"Wajah kamu pucat. Kita periksa ke rumah sakit, ya?"


Kali ini Gantari menggeleng. Bersamaan dengan gelengan kepalanya, setetes air meluncur dari matanya. Membuat Ardiman langsung menarik Gantari dalam pelukan.


"Nggak apa-apa, sayang. Semuanya akan berlalu."


Shanessa memang sudah menceritakan semua masalah Gantari padanya via telepon. Dia juga mengadu, jika Gantari menolak untuk diajak ke dokter, meski ia dan kakek sudah membujuknya.


Karena itulah, Ardiman jadi khawatir dan tidak sabar untuk bertemu Gantari. Sekadar untuk melihat keadaan keponakan tersayang.


Dulu, mendiang istrinya pernah mengalami keguguran anak kedua mereka dan ia tahu pasti gangguan emosional yang akan dialami pasangan yang baru kehilangan. Apalagi ini anak pertama bagi Nevan dan Gantari.


"Dion, marah sama aku, Om. Dia membenciku," isak Gantari akhirnya. Air matanya menetes kian deras dalam dekapan Ardiman. Sebuah pelukan yang selama ini ia harapkan dari suaminya, Nevan.


Ardiman menggeleng, lalu mengusap belakang kepala Gantari. Rasa sakit yang dirasakan Gantari seolah tersalurkan padanya. "Enggak, Gantari. Suamimu nggak membencimu. Nggak ada yang marah sama kamu."


"Aku yang salah Om. Ini semua gara-gara aku."


...****************...


Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit. Iya, kan? Iyain, deh.

__ADS_1


__ADS_2