Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
S2: Jangan Ulangi Lagi


__ADS_3

"Berbalik arahlah, Gantari. Aku masih ada di belakangmu."


Bruak!


Sebuah hantaman keras tepat di wajah Angkasa sukses melepaskan cengkraman tangannya di lengan Gantari. Angkasa terhuyung ke belakang. Ia menyentuh rahangnya sebentar, lalu mengertakkan giginya ketika melihat siapa pelakunya.


Nevandra Ardiona.


Angkasa menegakkan tubuhnya, lalu mengusap ujung bibirnya yang terasa asin. Kemudian, mendecih ketika menatap Nevan.


"Kalau loe nggak sanggup, mundur Van! Biar gue yang bahagiain Gantari."


Nevan merangsek maju, lantas kembali melayangkan tinjunya pada Angkasa. Namun, kali ini Angkasa siaga, hingga ia membalas pukulan itu dan menarik Nevan, hingga keduanya membentur kursi taman dan akhirnya jatuh ke tanah.


Gantari berteriak panik. Terlebih ketika Nevan dan Angkasa mencoba saling menggulingkan dan melayangkan pukulan secara membabi buta. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama tidak mau mengalah, meski darah sudah mulai mencuat.


Beruntung Pradana muncul. Security keluarga Ardiwinata yang tampaknya sedang melakukan sesi sarapan itu langsung sigap melerai mereka meski kewalahan. Pradana menarik paksa Angkasa menjauh. Sedangkan, Nevan yang siap kembali menerjang langsung didekap Gantari.


"Aku nggak akan kemana-mana, Dion. Nggak akan!"


Sorot gelap di mata Nevan mulai meredup. Napasnya yang terdengar memburu mulai berangsur teratur. Ia menunduk dan melihat Gantari memeluknya dengan erat.


Angkasa yang juga mendengar ucapan Gantari tersebut kian terluka. Bukan! Rupanya tidak hanya terluka, tetapi hancur hingga tak berbentuk lagi. Ia menatap Gantari yang memeluk Nevan begitu erat dengan dada naik turun.

__ADS_1


Angkasa menyentakkan tangan Pradana dari tubuhnya dengan kasar, hingga terlepas. Kemudian, melangkah pergi dari sana. Sekali lagi, cinta menghancurkannya.


...****************...


Gantari sedang sibuk membersihkan luka di wajah Nevan. Sejak tadi ia mondar-mandir mencari air bersih, tisu, dan salep setelah berhasil menarik Nevan masuk ke rumah dan mendudukannya di sofa ruang tengah.


Bahkan, ia baru tahu jika tangan suaminya juga terluka. Gantari meringis setiap kali melihat luka demi luka di tubuh Nevan. Seolah, merasakan sakit yang sama.


"Ini nggak sakit."


Gantari yang kini sedang fokus mengolesi salep, lantas melirik. "Gimana nggak sakit? Berdarah semua gini. Habis ini pasti biru-biru."


Nevan tersenyum kecil. Mendengar Gantari mengomel berkali lipat jauh lebih baik, ketimbang tidak bisa mendengar suaranya sama sekali.


"Beneran nggak sakit. Sakitnya nggak ada apa-apanya ketimbang ... jauh dari kamu."


"Hm?"


"Maaf karena aku nggak bisa menjaga anak kita." Gantari menggeleng, lalu mengoreksi ucapannya sendiri. "Maaf karena aku yang membuatnya pergi."


Setetes air mata lolos dari mata Gantari. Bersamaan dengan rasa pahit dan pedih di tenggorokannya. Sebuah penyesalan yang seumur hidup tidak akan pernah bisa ia bayar.


Nevan mengembuskan napasnya pelan, lalu menarik Gantari dalam pelukannya. Kemudian, mengusap pelan belakang kepala Gantari, lalu mengecup singkat puncak kepalanya.

__ADS_1


"Maafin aku juga karena aku tau perasaanmu, tapi pura-pura nggak tau. Maaf karena aku cuma mikirin diriku sendiri."


Gantari mulai memecahkan tangis. Kali ini ia memberi hak pada dirinya untuk menangis hingga puas. Menumpahkan rasa sedih dan sesalnya yang teramat sangat. Dan yang terpenting, kali ini ada Nevan di sisinya.


Diam-diam Darya memperhatikan mereka dari beranda samping rumah. Ia tersenyum lega, lantas menyeruput teh hijaunya lagi.


"Dihyan, boleh aku minta sesuatu?"


Gantari mendongak, lantas mengendurkan pelukannya. "Apa?"


Nevan membalas tatapan Gantari dalam, baru kemudian menjawab, "Sebesar dan seberat apapun masalah yang akan kita hadapi di masa mendatang, berjanjilah jangan pergi dari rumah."


"Kamu marah?"


Nevan mengangguk. "Aku nggak suka dan jangan ulangi lagi."


Kali ini Gantari yang mengangguk. "Nggak akan aku ulangi lagi."


Nevan tersenyum, lalu menarik Gantari dalam pelukannya lagi. "Ayo pulang. Hari ini aku mau libur kerja."


...****************...


Hastaga! Nyari nama security keluarga Ardiwinata, aku sampai ngubek-ngubek semua bab Cinta Tertinggal. Lupa bab berapa 🤕

__ADS_1


Ini demi kamu, loh, demi sinkronisasi tiap bab. Duh! Bahasa. Terus, kamu masih tega gitu, baca doang tapi nggak like, nggak komen?


Parah kamu.


__ADS_2