
Nevan tidak langsung pulang. Masih ada satu hal lagi yang harus ia selesaikan.
"Kamu lega, kan, sekarang? Mantan istrimu rupanya tidak seburuk yang kamu pikirkan." Shanessa bicara tanpa menatap Nevan. Ia lebih memilih menatap lampu-lampu taman.
"Kalau sekarang kamu ingin aku tetap disini, maka aku akan disini," ujar Nevan.
"Aku nggak akan melepaskanmu," balas Shanessa parau.
"Kalau begitu jangan."
"Aku nggak akan mengalah lagi," lanjut Shanessa akhirnya tersedu. Ia menunduk dan menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Meski sejak kecil aku tinggal di rumah, dan Gantari tinggal di luar, tapi kakek selalu membanggakan Gantari," isak Shanessa.
"Gantari juara umum lah, Gantari cerdas dan mandiri lah, semua Gantari."
Nevan diam saja. Ia tahu hal yang dibutuhkan Shanessa saat ini adalah hanya didengar.
"Bahkan, waktu aku bilang ingin mengambil jurusan seni, tidak ada yang melarangku karena perusahaan memang disiapkan untuk Gantari." Shanessa menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah.
"Termasuk papa." Shanessa menegakkan tubuhnya, tatapannya menerawang, "Semua perhatian milik Gantari. Aku nomor dua dan selalu begitu." Ia menoleh pada Nevan dengan wajah basah, lalu melanjutkan, "Kali ini aku nggak akan mengalah lagi."
Pandangannya perlahan tertunduk, lalu kembali terjebak dalam Isak tangis. Nevan mengangkat tangannya dan mengelus kepala Shanessa lembut.
Shanessa tidak bersalah. Mereka terjebak dalam situasi ini bukanlah salah Shanessa.
***
"Maaf mengganggumu." Pagi-pagi sekali Gantari sudah ke rumah sakit untuk menemui Farez. Ia datang dengan mata sembab dan tanpa polesan make up sedikit pun, tapi bagi Farez, Gantari tetap terlihat cantik. Maka, ia mengembangkan senyum lebar ketika menemuinya.
"Aku senang kamu menemuiku," katanya sungguh-sungguh. Ya, sungguh-sungguh karena semalaman Farez tidak fokus akibat memikirkan keadaan Gantari.
Gantari mengulas senyum tipis. Hanya bibirnya saja yang melengkung, namun matanya tak ikut tersenyum senyum seperti biasa.
Salah satu yang membuat Farez tergila-gila pada Gantari adalah cara ia tersenyum. Senyumnya tak hanya terukir di bibir, melainkan juga matanya yang membentuk seperti bulan sabit. Cantik sekali.
Ok. Ini bukan saatnya membicarakan keterpikatan Farez pada Gantari, karena wanita itu masih dalam keadaan duka.
"Terakhir kali aku bertemu dengannya, Ibu terlihat sangat sehat," bibir Gantari bergetar ketika melanjutkan, "Tapi kenapa ...," Gantari tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia menunduk dan air matanya kembali menetes.
"Terminal Lucidity," timpal Farez.
Gantari mendongak. Ia sudah menyeka air matanya.
"Kondisi ketika seseorang tampak kembali sehat sebelum meninggal dunia," lanjut Farez. Ia menautkan jarinya, sembari menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Aku beberapa kali melihatnya, ketika pasien yang terbaring tak berdaya dalam kondisi kritis, namun tiba-tiba kembali sehat dan bisa beraktivitas normal. Fenomena ini sudah diteliti, namun belum ada penjelasan medisnya." Ia menarik napas sebentar, lalu menoleh menatap lembut Gantari.
"Masyarakat kita mengatakan, dia ingin pamit sebelum benar-benar pergi," lanjut Farez hati-hati.
Gantari menunduk, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika ini adalah takdir terbaik meski air mata masih saja keras kepala yang mengalir membasahi pipi begitu saja.
***
Gantari kembali ke rumahnya sendirian, meski tadi Farez menawarkan diri untuk mengantar. Ia sedang memutar anak kunci ketika Bu Fatimah berteriak dari depan pintu rumahnya meminta Gantari untuk sarapan di rumahnya saja.
"Anwar kerja sift malam, nanti pulangnya paling jam 10an. Jadi Neng nggak usah malu," teriak Bu Fatimah lagi yang disambut tawa geli Gantari. Dan lagi, sepertinya tetangganya itu sedang menggoreng karena sesekali beliau menoleh dan berlari ke dalam.
Perutnya memang terasa perih, lantaran belum diisi makanan sejak kemarin. Ia beranjak menuju rumah Bu Fatimah ketika lagi-lagi wanita bersahaja itu muncul melambai minta dihampiri.
"Nggak usah repot-repot, Bu," ujar Gantari begitu memasuki dapur. Aroma sayur asem menguar menguasai seluruh dapur. Ada tempe goreng juga disana.
Bu Fatimah menggeleng. "Mas Mamad kalau jualan suka siang, jadi ibu nggak bisa belanja dulu beli ayam," ucapnya merasa bersalah, "Makan seadanya nggak apa-apa, ya, Neng."
Gantari terharu. Dia menatap Bu Fatimah lama.
"Kenapa?" tanya Bu Fatimah kikuk.
Kali ini Gantari yang menggeleng. "Dihyan lebih suka tempe dari pada ayam."
Mendengar ucapan Gantari barusan membuat Bu Fatimah tersenyum sumringah. Ia mengusap lengan Gantari sebentar, kemudian lanjut menggoreng tempe.
Seorang bapak yang sedang membawa pot berisi bunga mawar mengangguk padanya. Belum sempat Gantari bertanya, sebuah suara menginterupsi. "Rupanya cuma kesini si cecunguk itu membawa kabur kamu."
Gantari menoleh dan mendapati kakek muda sudah duduk di teras. Ia berdiri dan menghampiri Gantari yang sedang melebarkan matanya.
"Sia-sia dong kakek ngebiarin kamu ditarik-tarik," sungutnya lagi.
"Kakek tau dari mana Dihyan disini? Bunga-bunga ini dari kakek?" Gantari jalan mendekat sembari melebarkan pandangannya melihat satu persatu bunga-bunga yang ia maksud.
Melihat reaksi Gantari, kakek muda mengganguk bangga tanpa menjawab. Bu Fatimah ikut keluar dan menanyakan hal yang sama, dia bahkan menawarkan diri untuk menyusun bunga-bunga itu.
Kakek muda terkejut dan langsung melarang. "Saya sudah bawa tukang kebun. Kita terima beres aja," terangnya.
Bu Fatimah mangut-mangut. "Kasihan bapaknya bawa-bawa pot dari gang depan, ya?"
Ucapan Bu Fatimah tersebut membuat kakek teringat sesuatu, dengan semangat dia memprotes jalan sempit di sekitar sini, sehingga terpaksa meninggalkan mobil dan dia pun terpaksa ikut berjalan.
Gantari terkikik dan memeluk kakek muda sembari mengucapkan terimakasih.
"Cecunguk itu nggak ngapa-ngapain kamu, kan?"
__ADS_1
"Ehm!"
Keduanya menoleh dan mendapati Nevan sudah berdiri di belakang mereka. Kakek muda bahkan pura-pura melihat burung lewat, sedangkan Bu Fatimah heboh lagi karena dia mengenali Nevan sebagai suami Gantari. Namun, dia segera pamit ketika melihat putra semata wayangnya pulang dari bekerja.
Ketika para tukang kebun yang dibawa kakek sibuk menata tanaman, Gantari membuatkan mereka semua teh hangat. Kakek muda tersenyum dan memanggil karyawan bawaannya.
"Tumben nggak bikin kopi?" tanya kakek muda sembari menyeruput teh miliknya. Gantari yang mendengarnya sedikit terkejut. Dia melirik sebentar Nevan yang duduk di samping kakek muda, kemudian sedikit tenang ketika melihat tidak ada reaksi aneh dari Nevan.
"Dihyan udah nggak minum kopi, kek. Nggak bagus buat lambung."
Kakek muda yang sedang menyeruput tehnya melirik Gantari. Kemudian meletakkan cangkirnya ke atas meja dan menoleh pada Nevan dan berakhir dengan mengangguk-angguk. "Untuk hati juga nggak bagus," celetuk Kakek muda.
Kali ini Nevan sukses menoleh.
Bunga-bunga sudah ditata dengan indah, setelah mendapat instruksi dari kakek muda dan Gantari mengucapkan terimakasih, para pekerja itu langsung pergi. Kakek muda beralih menatap Nevan yang belum juga beranjak dan dia berdeham meminta perhatian, "Ayo pergi, anak muda."
Nevan tersentak. Dia menoleh pada Gantari sebentar dan kembali menatap kakek muda. "Maaf, kek. Tapi ada yang mau saya bicarakan dulu dengan Dihyan."
"Ada yang mau kamu bicarakan atau kamu tanyakan?"
Kakek muda melangkah dan berdiri di samping Gantari. Tangan kirinya merangkul pundak sang cucu sebelum melanjutkan, "Dia bukan buronan yang harus kamu introgasi."
Mendengar ucapan kakek muda sempat membuat Nevan gelagapan. "Ada yang harus saya dengar dan klarifikasi langsung dari Dihyan," ucapnya tenang.
"Kayak artis aja klarifikasi," cibir kakek muda, kemudian melangkah mendekati kursi teras dan duduk disana. "Cepat. Jangan lama-lama."
Nevan mengangguk dan kesal ketika melihat Gantari yang sedang susah payah menahan tawa. Akhirnya mereka beranjak agak jauh dari kakek agar lebih leluasa berbicara, tapi kenyataannya mereka malah memilih bungkam. Tidak ada yang mau memulai.
"Jadi?" Nevan mengalah.
"Jadi, semuanya sama seperti yang sudah kamu dengar. Nggak ada yang perlu aku ceritakan lagi."
"Itu bukan jawaban."
"Tapi cuma itu yang mau aku katakan."
Nevan mendengus. "Aku mau tau semuanya, bukan berarti kita balikan."
Gantari membelalakkan matanya tak terima. "Emang siapa yang ngarep kita bakal balikan?"
"Aku nggak bilang kamu ngarep."
"Emang enggak."
"Terus kenapa kamu mikir gitu?"
__ADS_1
"Aku nggak mikir gitu!"