
Harapan bisa membuat seseorang bangkit, tapi tak jarang juga membuat sakit. Nevan menggeliat, lalu perlahan membuka matanya. Namun, sebentar karena ia kembali menutup mata karena kantuk masih mendera.
Detik selanjutnya, kelopak mata Nevan kembali terbuka karena dia tidak menemukan Gantari di sampingnya seperti biasa. Nevan meriah ponselnya di atas nakas dan rupanya subuh sudah berlalu. Nevan mengerutkan dahinya, tumben sekali Gantari tidak membangunkannya.
Sembari menggaruk kepala, Nevan keluar kamar bahkan tanpa sempat mencuci wajahnya dulu. Ia langsung menghampiri Bi Murni yang sedang menyapu dan menyapanya.
"Pagi, Bi." Nevan mengulas senyum tipis, lalu melanjutkan, "Bibi, lihat Dihyan?
Bi Murni menoleh, lalu samar-samar terlihat keningnya berkerut. Ia menghentikan pekerjaannya dan menatap Nevan bingung.
"Pagi, Mas," balasnya cepat. "Bibi kira, Mbak Gantari belum bangun. Soalnya tumben dari pagi belum kelihatan."
Mata Nevan menyipit mendengar jawaban dari Bi Murni. Mendadak, hatinya jadi gusar. Maka, ia kembali memutar tubuhnya menuju kamar dan mencari Gantari untuk kedua kalinya. Ia bahkan mengetuk pintu kamar mandi, tapi tetap tidak ada jawaban.
Nevan beranjak dari kamar dan berkeliling di sepanjang rumah, hingga ke lantai dua. Pantry, balkon, hingga taman, tapi Gantari tetap tidak ia temukan.
Mungkin ke minimarket. Iya, pasti Gantari ke minimarket.
Setelah meyakinkan dirinya sendiri, Nevan memutuskan menunggu Gantari dan duduk di sofa depan televisi. Ia mengutak-atik remote televisi mencoba mengalihkan pikirannya sendiri agar lebih tenang. Ia bahkan belum mandi, apalagi berganti pakaian untuk bersiap bekerja. Namun, hingga menit berganti jam Gantari tetap tak kunjung tiba.
Bi Murni yang melihat Nevan yang tumben-tumbennya belum sarapan dan juga belum bersiap ke kantor mencoba mendekat. Namun, entah kenapa ia urungkan dan memilih kembali ke dapur.
__ADS_1
Ponsel Nevan berdering dan Nevan hanya melirik sekilas ponselnya dengan tidak minat. Kenapa dia tidak menelpon Gantari saja untuk menanyakan keberadaannya?
Nevan mengusap kasar wajahnya, lantas akhirnya dengan berat hati meraih ponsel yang lagi-lagi berdering.
"Loe di mana? Tumben belum nyampe kantor."
Fikri. Orang yang terdengar panik di seberang telepon itu adalah Fikri, asisten multifungsinya.
"Gue cuma ngingetin aja. Setengah jam lagi ada meeting."
Nevan menoleh, menatap jam dinding yang terpatri di atas televisi. Rupanya sudah pukul 09.25 WIB. Itu berarti dia sudah menunggu Gantari selama tiga jam.
"Iya, gue berangkat sekarang."
...****************...
Kali ini Nevan tidak lembur lagi. Ada hal yang mau ia pastikan. Pulang kerja, ia langsung menuju kamar, mengabaikan Bi Murni yang memanggilnya.
Nihil. Gantari tidak ada di sana.
Nevan membuka lemari pakaian dan tidak ada yang aneh. Pakaian Gantari masih memenuhi isi lemari, lalu kemana dia?
__ADS_1
"Mas Nevan!"
Nevan menoleh dan mendapati Bi Murni yang sudah berdiri di ambang pintu. "Bibi belum pulang?"
Bi Murni menggeleng. Wajahnya tampak muram. "Mbak Gantari ... belum pulang dari pagi," adunya.
Nevan mengangguk, lalu menundukkan kepalanya sebentar. Kemudian, ia meraih ponselnya hendak menghubungi Gantari, namun ia urungkan ketika melihat pesan dari Shanessa.
Shanessa Ardiwinata
Gantari ada di rumah. Kamu nggak usah khawatir.
17.05 WIB Read
Nevan tertegun. Ia menatap layar ponselnya lama. Kemudian, susah payah mengangkat wajahnya untuk menatap Bi Murni, lalu tersenyum pahit. "Bibi pulanglah. Dihyan nggak akan pulang malam ini."
Bi Murni tidak menjawab. Ia hanya menatap Nevan dalam diam, lalu mengangguk setuju dan pergi dari sana.
Nevan menatap kepergian Bi Murni, lalu pelan-pelan kembali menundukkan kepalanya dengan bibir terkatup rapat.
Jadi, benar ... Gantari pergi? Jadi benar hubungan mereka memang serapuh itu?
__ADS_1
Nevan sadar tadi malam ia memang melakukan kesalahan, tapi dia tidak menyangka akan langsung dihukum secepat ini. Apa sekali pun ia tidak boleh menumpahkan kekecewaan? Apa sebentar saja dia tidak boleh membiarkan hatinya tenang dulu?
Menghilang dan keluar dari rumah seenaknya, apa jadi bukti jika ... pernikahan ini memang tidak ada artinya?