
Nevan menekan bel dan dengan sabar menunggu pintu terbuka. Senyumnya langsung terkembang ketika melihat Gantari membukakan pintu untuknya. Ia melangkah maju, lantas langsung memeluk sang istri seperti biasa.
"Hai, Sayang."
Tubuh Nevan begitu lelah bekerja seharian, namun jika bisa melihat dan memeluk Gantari seperti ini, rasa lelah itu sama sekali tidak ada artinya. Nevan menghela napasnya dalam, lantas menggoyangkan tubuh Gantari yang berada dalam pelukannya ke kanan dan ke kiri dengan gemas.
Gantari diam saja, hingga membuat Nevan merasa ada yang aneh. Ia mengendurkan pelukan dan memandang bingung karena biasanya Gantari yang sudah selesai mandi tidak pernah terima jika dipeluk oleh Nevan sepulang kerja.
"Kenapa?"
Gantari balas menatap Nevan, lalu mengulum senyum tipis. "Nggak apa-apa. Mandi sana."
Sepertinya memang ada yang tidak beres. Ia jadi ingat, jika tadi pagi Gantari pamit ke kediaman Ardiwinata. "Gimana keadaan Kakek?"
"Baik-baik aja. Mandi dulu. Aku siapkan kopi." Gantari membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Nevan yang masih menatapnya bingung.
***
Akibat perasaannya yang mendadak tidak enak, Nevan memutuskan untuk mandi cepat sebagai formalitas saja. Formalitas agar Gantari tidak melulu menyuruhnya mandi.
Selesai mandi, ia sudah melihat Gantari duduk di sofa di depan televisi dengan dua cangkir kopi hitam di atas meja. Nevan jalan mendekat, lantas langsung merebahkan tubuhnya di sofa dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Gantari.
"Ada apa?" ulang Nevan lagi setelah posisinya dirasa cukup nyaman.
Gantari menunduk, menatap wajah Nevan yang berada di pangkuannya, lalu tersenyum hangat. Terkadang, kita memang butuh ujian untuk tahu caranya belajar.
Perlahan, Gantari mengusap lembut rambut Nevan yang tidak basah. "Kamu mandi bebek, ya?"
"Makanya jangan bikin aku khawatir. Ada apa?" Nevan meraih tangan Gantari dan mengecupnya sekilas. Kemudian, menggenggam dan meletakkannya ke atas dada.
Gantari tampak berpikir. Ia tidak tahu harus memulainya dari mana. Namun, akhirnya ia memulai juga.
"Mariah ...."
Hanya dengan satu kata itu saja dan Nevan langsung paham. Ia menegakkan tubuhnya, lalu duduk menghadap Gantari. Tangannya masih menggenggam erat tangan sang istri.
__ADS_1
"Kamu udah dengar?"
Gantari mengangguk, lalu menundukkan kepalanya. Kenapa harus ada rahasia lagi di antara mereka?
"Kamu marah?"
Kali ini Gantari menggeleng. Ia memang tidak marah, kalaupun Nevan memang benar-benar menolong Mariah.
"Terus?"
"Kenapa nggak cerita sama aku?"
Nevan mengukir senyum di bibirnya, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus lembut pipi Gantari.
"Harusnya cerita. Bukannya kita udah sepakat?" lanjut Gantari. Kemudian, ia mulai mengangkat wajahnya dan menatap Nevan.
Nevan mengangguk. "Terima kasih."
"Hah?"
Gantari melepaskan genggaman tangan Nevan dari tangannya dengan wajah cemberut. "Ya, udah, sekarang cerita."
"Baru juga dipuji, udah cemberut lagi," kekeh Nevan, lalu ia hendak memeluk Gantari. Namun, Gantari langsung mendorong dada Nevan pelan.
"Cerita dulu, baru peluk."
"Habis cerita, aku nggak cuma mau peluk."
"Dion!" Gantari memicingkan matanya penuh intimidasi dan sukses membuat Nevan kembali terkekeh.
"Oke." Nevan menghela napasnya, mencoba serius, lalu melanjutkan, "Seperti yang kamu tau, keadaan Mariah sekarang menyedihkan."
Gantari mendengarkan dengan serius. Kemudian, mengangguk setuju.
"Perutnya makin membesar dan dia masih ke sana ke mari nyari pekerjaan."
__ADS_1
"Kok kamu tau?" potong Gantari tak sabar.
"Aku ketemu dia di Duta Mart. Ya, udah, aku rekomendasiin aja sekalian," jelas Nevan ringan.
"Dih! Dasar."
Nevan mengerling. "Aku cukup tau kemampuan Mariah. Pengalaman dan skill dia lumayan juga."
"Wah! Pak Nevan tau banyak juga, ya?" Gantari mencibir. "Mantan gebetan, ya, Pak?"
Nevan mendengkus. "Bercanda jangan bikin diri sendiri sakit hati, Sayang. Kalau cemburu bilang aja cemburu. Biar aku tau."
"Terus kalau tau?"
"Kan bisa aku rayu."
Nevan langsung meledakkan tawanya karena lagi-lagi Gantari mencubit pinggangnya, hingga Nevan meneriakkan kata ampun berkali-kali.
"Tapi jangan sering-sering," ujar Gantari tiba-tiba. Wajahnya kembali serius.
"Apanya?"
"Ditanya dulu baru cerita," jawab Gantari cemberut.
"Oke."
"Jangan sering-sering juga ... nolong Mariah," lanjut Gantari ragu. Ia menunduk dan menggigit bibir bawahnya pelan. Sejujurnya, Gantari cukup iri dengan kehamilan Mariah dan ia takut jika Nevan lemah karena itu.
Nevan memiringkan kepalanya, mencoba menatap Gantari yang masih menundukkan kepalanya. Ia paham sekali dengan perasaan Gantari. "Kalau yang lain, boleh sering-sering?"
"Apanya?" Kepala Gantari langsung terangkat dengan siaga, menatap Nevan yang sedang tersenyum usil.
"Ini." Nevan merengkuh tubuh Gantari dengan senyum mengembang, lantas menggendongnya menuju kamar tanpa menunggu persetujuan. Meninggalkan dua cangkir kopi hitam yang sama sekali belum tersentuh.
***
__ADS_1
Yang udah suudzon aku bikin konflik baru, ditunggu koinnya 😒