
Ada yang bilang, ketika kehilangan sosok ayah, hidup seperti diguncang gempa. Namun, ketika sosok ibu yang hilang itu berarti tsunami yang tiba.
Gantari melangkah masuk ke Sila Hospital, setelah sekian lama. Meski kepergian sang ibu sudah cukup lama, namun tetap saja kaki Gantari gemetar ketika menapakinya. Bukan tidak rela, bukan pula tidak ikhlas, tapi yang namanya kenangan tetap akan tinggal dan tersimpan di hati.
"Gantari!"
Suster Irma berteriak dengan wajah sumringah. Ia belum memakai seragam, sepertinya baru datang juga.
"Kak Irma," balas Gantari dengan senyum lebar.
Irma berjalan mendekat, lantas memeluk erat Gantari. "Kangen," ucapnya sembari menggoyang-goyangkan tubuh Gantari.
"Kakak sehat, kan?"
Irma mengendurkan pelukannya, lantas mengangguk kuat. "Kamu gimana?"
"Alhamdulillah. Sehat, Kak."
"Nyari dr. Farez, ya?" tebak Irma, lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Harusnya masih ada, sih. Subuh ada operasi sampai pagi."
Gantari mengangguk paham. "Nyari Kak Irma juga. Sama Kak Mirna," ujar Gantari buru-buru, takut timbul salah paham.
Irma menatap Gantari dalam. Sorot matanya berubah sendu. "Hari ini ulang tahun Bu Bulan, ya?"
Bukannya Gantari tidak mau menjawab, tapi tenggorokannya sedang tercekat. Jadi, dia mengangguk saja dengan segurat senyum getir di bibirnya.
***
Nevan memeriksa ponselnya lagi dan lagi-lagi belum juga ada pesan balasan dari Gantari.
Sibuk banget, emang?
"Mas, konsepnya diubah. Gimana?"
Nevan mengerutkan dahinya. Ini kali kedua Mariah memanggilnya dengan sebutan "Mas". Namun, fokusnya kembali pada informasi yang disampaikan Mariah tentang konsep yang mendadak berubah.
"Diubah gimana?"
Seorang laki-laki dengan gaya casual datang menghampiri dan ingin memberikan penjelasan kepada Nevan.
"Maaf, Pak. Ada sedikit perubahan."
Nevan menghela napasnya, lalu memperhatikan sekeliling sekilas. Tidak mungkin membahas hal seperti ini di tempat terbuka, terlebih di depan para pekerja.
"Siapkan rapat," titah Nevan cepat, lantas melangkah pergi.
Pupus sudah harapan Nevan untuk pulang lebih awal ke Jakarta. Rencana dua hari bisa bertambah kalau begini.
__ADS_1
***
"Alhamdulillah nggak makan makanan kantin hari ini," ucap Farez ketika melihat Gantari membuka tutup kotak makan.
"Makanya nikah, Dok. Biar ada yang masakin," goda Irma yang disambut anggukan setuju dari Mirna. Mereka berdua sudah duduk di hadapan Gantari lengkap dengan seragam perawat.
Sedangkan, Farez duduk di samping Gantari dengan kaus oblong berwarna biru langit. Wajah lelah sehabis lembur lenyap sudah ketika mendapat kabar Gantari datang dengan semur ayam.
"Nggak usah nyindir, deh. Mentang-mentang gue jomblo," balas Farez pura-pura kesal.
"Loh, yang kemarin malam siapa dong, Dok?" Gantari ikut menggoda, membuat dua suster di hadapannya melotot, lantas berteriak heboh.
Beberapa pengunjung kantin menoleh, membuat Farez langsung mendecak meminta kedua susternya itu diam. Mereka memang sedang numpang fasilitas kantin. Siapa sih yang berani menolak Farez? Pegawai kantin mah bukan apa-apa kalau cuma soal dimodusin pinjam piring dan sendok.
"Dihyan, jangan nyebar gosip, ya. Kami cuma ...."
"Pendekatan?" potong Gantari dan dua suster itu berteriak lagi.
Astaga.
Farez pasrah dan memilih menggigit tempe goreng buatan Gantari. Dia rindu rasa ini. Rasa yang membawa-bawa nama perasaan.
Melihat Farez yang sudah mulai eksekusi, Irma dan Mirna tidak mau malu-malu lagi. Mereka sudah menyendokan nasi, semur ayam, plus tempe goreng atas ke piring masing-masing dan langsung melontarkan pujian seperti biasa.
Gantari memilih ikut makan dan terlibat senda gurau sepanjang menyantap sarapan kesiangan. Baginya Farez, Irma, Mirna, dan Sila Hospital memiliki tempat khusus di hatinya.
"Buruan. Disiplin, dong. Nanti telat kena marah kepala perawatan baru tau," goda Farez seakan sedang balas dendam, membuat kedua suster di hadapannya merengut.
"Duluan, ya, Gantari." Mirna memeluk Gantari sekilas. "Makasih buat makanannya. Enak banget."
Sedangkan, Irma hanya menepuk-nepuk pundak Gantari saja. Dia sedang ketar-ketir takut terlambat. "Nanti kita teleponan, ya, Tar. Aku duluan dari pada kena sindir mulu sama Dokter yang lagi pendekatan."
Irma langsung lari karena Farez hampir saja menarik tangannya, membuat Gantari tertawa geli.
"Kamu udah nggak ada jadwal lagi?" tanya Gantari pada Farez yang masih bersandar di kursi, kekenyangan.
"Lanjut nanti sore lagi," balas Farez memasang tampang lelah. "Nggak pulang, deh, kayaknya. Mau tidur di sini aja."
Gantari mengangguk. Dia tahu benar dengan kebiasaan Farez yang satu itu. Dokter muda itu memang kerap tidur di rumah sakit sehabis lembur.
"Dihyan?" Raut Farez berubah serius. "Ada yang mau aku ceritain sama kamu."
Mendengar intonasi suara dan raut wajah yang ditunjukkan Farez membuat Gantari mengerutkan keningnya.
"Apa?"
Farez tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Gantari dengan pandangan tidak terbaca.
__ADS_1
"Farez?"
"Eh?" Farez gelagapan, lantas menggaruk kepalanya dengan telunjuk.
"Dihyan ...." Farez meluruskan tubuhnya menghadap Gantari. Dia kembali tampak ragu, namun kemudian akhirnya melanjutkan, "Selama ibumu dirawat disini ada seorang perempuan yang rutin mengunjunginya setiap bulan."
Gantari membalas tatapan Farez dengan tidak berkedip. Matanya sedikit melebar ketika mendengar pengakuan Farez barusan.
"Dia selalu datang di pertengahan bulan dan merawat ibumu tiga hari berturut-turut. Kemudian, pergi lagi. Begitu terus berulang hingga lima tahun ini," jelas Farez.
Gantari tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Rutin lima tahun?
"Kenapa nggak pernah ngasih tau aku? Gimana kalau dia orang jahat?" cerca Gantari tajam.
"Aku tau." Farez menundukkan pandangannya. Dia tahu dia bersalah. "Awalnya aku ingin memberitahumu, tapi dia melarang. Dia bilang, takut kamu akan melarang menemui Bu Bulan."
"Siapa? Dia siapa?" desak Gantari tidak sabaran.
Farez kembali mengangkat kepalanya, lantas menggeleng. "Aku nggak tau, tapi dia dipanggil Jero. Perempuan berumur 60-an awal atau 50-an akhir," terang Farez ragu.
"Farez." Gantari mendesah kecewa. Bisa-bisanya Farez melakukan hal ceroboh seperti itu. Membiarkan orang asing dengan bebas menemui ibunya.
"Aku melihatnya sendiri, Dihyan. Dia benar-benar merawat Bu Bulan dengan penuh kasih sayang. Dia bilang, Bu Bulan mengingatkannya pada anaknya yang hilang. Karena itu, aku setuju menyembunyikannya darimu," lanjut Farez hati-hati.
"Sekarang dia dimana? Apa dia tau tentang ibuku?"
"Dia bahkan pernah bertemu langsung dengan Bu Bulan ketika dia sadar."
Bola mata Gantari membesar. Dia kembali menatap Farez tanpa berkedip.
"Aku yang menelponnya," aku Farez. "Aku yang memberitahunya jika Bu Bulan siuman dan dia langsung datang dengan menangis."
"Dia bicara dengan ibuku?"
Farez mengangguk. Ia kembali menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena baru menceritakan semuanya pada Gantari.
"Aku mengawasinya. Tapi, sepertinya ibumu ... mengenalnya."
***
Catatan:
Tidak ada catatan, cuma curahan.
Doain, ya. Sebentar lagi, insha Allah, kalau nggak ada halangan, kisah ini akan segera berakhir.
Hiks!
__ADS_1
Bye, Bang Nevan tersayang.