Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

Mungkin ini saatnya untuk kita akhiri. Kalau tidak sekarang, aku takut tidak ada lagi kesempatan lain.


***


Farez melihat semua kejadian itu dari jauh. Sebelumnya, ia tidak pernah melihat wanita yang diam-diam ia cintai itu bersikap dingin. Tatapannya memancarkan kepedihan. Mungkin benar, lukanya terlalu dalam, hingga kisah yang mengejutkan dirinya beberapa jam yang lalu sengaja ditutupi si wanita pujaan.


"Dihyan."


Kakinya maju selangkah ketika Gantari melewati dirinya dan hal itu membuat Gantari sontak menghentikan langah. Ia menatap Farez lama, sorotnya masih gelap. Tidak semudah itu mengubah suasana hati, kawan.


"Terimakasih," ucap Gantari dengan suara berat.


Kilatan marah, perlahan mulai berganti sendu. Bola mata hitam kopi milik Gantari seolah menarik Farez agar ikut menikmati lukanya. Farez bergeming, kemudian menarik pelan wanita itu dalam pelukan.


Gantari diam saja. Ia tidak menolak, juga tak membalas. "Terimakasih, sudah memperlakukan ibuku dengan baik," lanjutnya bergetar.


Farez merasakan kemeja bagian pundaknya menghangat. Gantari tengah menangis. Ia tahu itu, maka pelukan semakin ia eratkan, lantas diembuskannya napas dalam-dalam. Kemudian berkata dengan nada tenang, "Ibu sadar setelah koma selama lima tahun adalah hal yang ajaib. Ibu melakukannya demi kamu. Demi bisa melihatmu lagi walau sebentar. Ibu sudah berjuang sangat keras, Dihyan."


Pundak Gantari bergetar, tak lama terdengar isakan pelan dari bibirnya. Makin lama isakan itu makin terdengar keras, hingga yang mendengarnya dapat ikut merasakan kepedihan. Air matanya menetes membasahi wajah. Ia ingin menagis hingga sesegukan. Ia ingin mengeluarkan semua rasa pedihnya disana. Dia ingin benar-benar bisa merelakan kepergian sang ibu.


Tak jauh dari sana, ada Nevan yang berdiri mematung. Mendengar ucapan Gantari, mendengar tangisan Gantari, membuatnya hatinya perih. Terlebih, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih tepatnya, ia merasa tidak pantas.


Selama ini ia terlalu sibuk mengasihani dirinya sendiri, tanpa tahu apa yang sudah dilewati Gantari.


***


Rumah kediaman Ardiwinata tampak seperti biasa. Tak ada tanda-tanda duka disana karena memang tidak ada jenazah yang sempat mampir. Jasad sang ibu dimandikan, dikafankan, dan disalatkan di masjid dekat rumah sakit dan Gantari tidak melibatkan keluarga Ardiwinata sedikit pun.

__ADS_1


Gantari masuk kamar tanpa suara, lantas mengemas sedikit pakaian dan beberapa barang pribadinya. Di daun pintu ada Bi Sumi yang tidak bisa menahan tangis sedang berdiri menatap punggung Gantari dari belakang. Ia juga tak tahu harus berbuat apa, meski rasa iba begitu ketara di matanya.


Setelah semua rapi, Gantari bangkit dengan menenteng travel bag ketika membalikkan badan ia sudah menemukan wajah Bi Sumi yang basah. Gantari jalan menghampiri dan memeluknya erat. "Terima kasih untuk semuanya, Bi," ucapnya tulus.


Bi Sumi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepala, karena suaranya terasa tercekat di kerongkongan. Tak lama, Gantari melonggarkan pelukan setelah menepuk pelan pundak Bi Sumi beberapa kali. Kemudian, mengulas senyum meski getir.


Ia menghela napasnya dalam, lantas kembali melanjutkan langkah keluar kamar.


"Kau kira kau bisa pergi setelah masalah yang kau timbulkan?" teriak Shanessa dengan mata berkilat marah. Napasnya tampak memburu.


Gantari memejamkan matanya sejenak, mencoba menahan diri, lalu melanjutkan menutup pintu kamar.


"Kau memanfaatkan masa lalumu, kan, Gantari?" serang Shanessa. "Kakek, ayah, sekarang Nevan. Kau merebut segalanya dariku!" salaknya lagi.


Mau tidak mau Gantari membalas tatapan Shanessa. "Masalahmu nggak ada hubungannya denganku," jawab Gantari datar.


Mereka menatap Shanessa yang tampak benar-benar kacau. Wajah sembab dengan rambut berantakan, ditambah suara teriakan kasar yang baru saja mereka dengar, benar-benar tidak seperti Shanessa biasanya.


Sang ayah mendekat dan meminta Shanessa untuk tenang. Ia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun tak mendapatkan jawaban. Ia lantas melempar pandang pada Gantari yang tampak enggan bersitatap dengannya.


"Bagaimana bisa ini nggak ada hubungannya denganmu?" Shanessa menangis. Tubuhnya melorot hingga Ardiman kewalahan menahannya.


"Kamu menghancurkan hidupku, Gantari," raung Shanessa kemudian.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Ardiman panik. Ia tidak pernah melihatnya putrinya begini.


Tak ada yang menjawab. Shanessa hanya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dengan tangis yang belum juga reda. Hingga, Nevan maju dan mengatakan sesuatu yang berhasil membuat wajah orang-orang yang mendengarnya pias.

__ADS_1


"Gantari adalah mantan istri saya."


Pernyataan Nevan barusan, membuat raungan Shanessa menjadi-jadi. Ia merasa dibodohi oleh orang-orang yang begitu ia percaya.


Ardiman meneguk ludahnya berat. Terasa pahit, hingga ia tak langsung bisa menanggapi. Kenyataan yang baru saja ia dengar butuh proses lebih lama untuk bisa ia cerna.


"Jangan bercanda." Hanya balasan tak mutu tersebut yang berhasil lolos dari bibir Ardiman.


"Tanyakan saja pada kakek," timpal Gantari, hingga membuat semua orang menoleh padanya. "Bukankah dia yang menginginkan aku menjadi janda ketimbang memiliki seorang suami kuli bangunan?"


Sebenarnya Gantari ingat dengan pesan sang ibu, ia juga ingat dengan cerita Pak Sarif, namun sakit hatinya pada Darya tidak semudah itu memudar. Sakit hati ketika dipisahkan secara paksa dengan suami yang begitu ia cintai sebagai imbalan biaya pengobatan sang ibu. Sakit yang hingga kini masih menyisakan perih hanya dengan mengenangnya saja.


Tidak ada yang langsung meminta penjelasan pada Darya Ardiwinata. Semua masih tertegun dan berkutat dengan pikirannya masing-masing.


Ardiman bahkan menggeleng tak percaya. Ia tahu, jika Darya Ardiwinata menjadikan keadaan ibu Gantari sebagai kartu as untuk menahan Gantari agar tetap berada di rumah ini, tapi dia sama sekali tidak menyangka jika sang ayah melalukan hal lebih.


Gantari pernah menikah?


Lututnya lemas ketika pikirannya memunculkan pertanyaan tersebut. Jadi ini alasan kenapa keponakan tersayangnya selalu bersikap dingin pada Darya Ardiwinata atau mungkin masih ada alasan lain lagi?


Mendadak Ardiman merasa menjadi manusia dungu. Dia selalu menebar senyum hangat pada Gantari tanpa tahu jika hati keponakan sudah lama beku di rumah itu.


Wajah Darya mengeras. Ia tahu orang-orang sedang menatapnya minta penjelasan. Namun, pandangannya hanya tertuju pada Shanessa yang tampak menyedihkan di lantai.


Gantari mengatur napasnya, mencoba mengurangi gemuruh di dada. Kekacauan ini juga tidak ia harapkan. Shanessa sama sekali tidak bersalah dan dari lubuk hatinya, ia tulus menyayangi sepupunya itu.


"Masa laluku sama sekali tidak ada artinya lagi sekarang," ucap Gantari kemudian.

__ADS_1


Ia lantas melanjutkan langkah dan tidak pernah menoleh lagi. Ia ingin benar-benar pergi secepatnya dari sana. Meninggalkan orang-orang yang terperangkap dengan lukanya masing-masing.


__ADS_2