Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Fikriansyah Fadhilal Pradana


__ADS_3

Pagi tadi, saat bangun tidur, Fikri merasa tenggorokkannya sakit. Awalnya, ia tidak begitu menghiraukannya, tapi saat sendinya terasa nyeri setiap kali digerakkan, Fikri jadi termenung di pinggir tempat tidur. Ia memengang dahi, lalu berpindah ke leher yang semuanya terasa hangat pagi ini.


Fikri langsung berdiri. Kemudian, menyambar jaket dan masker, lalu buru-buru berangkat ke rumah sakit tanpa mandi. Mandiri sekali.


Setibanya di rumah sakit, hal pertama yang disarankan kepada Fikri adalah melakukan swab antigen. Sambil menggosok hidungnya yang terasa pedih akibat pengambilan sampel lendir, Fikri mengetikkan pesan untuk Nevan.


"Ditunggu hasilnya 60-90 menit, ya, Pak." Petugas medis yang memakai Alat Pelindung Diri beranjak dari sana. Meninggalkan, Fikri yang kembali memeriksa ponselnya. Ia khawatir, Nevan lembur lagi dan terlambat datang ke kantor. Untung saja pesan balasan dari Nevan segera tiba.


Nevandra Ardiona


Ga usah banyak pikiran. Aman.


06.27 WIB


Fikri tampak lebih tenang sekarang. Meski belakangan ini cukup banyak masalah yang ia selesaikan, sebenarnya semua itu tidak luput dari intruksi Nevan di belakang layar.


Ia tidak membalas pesan Nevan karena perhatiannya kini tertuju pada sebuah pesan centang dua berwarna biru yang tidak juga kunjung dibalas. Pesan dari Fikri untuk Dokter Nawa. Jika dipikir-pikir, memang cuma Nevan yang selalu membalas pesannya. Fiuh!


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya seorang dokter wanita yang memakai masker berlapis masuk ke dalam ruangan. Kemudian, memberikan hasil swab antigen pada Fikri.


"Positif," beritahunya tenang.


Fikri pun ingin begitu. Ia ingin bersikap tenang, tapi keburu panik duluan mendengar satu kata yang menakutkan belakangan ini.


"Kok bisa positif, Dok? Terus sekarang saya harus diisolasi? Obat apa yang harus saya minum? Makanan apa yang nggak boleh saya makan? Saya mau sembuh, Dok!"


"Tolong tenang dulu, Pak!" Dokter wanita itu menggerakkan tangannya agar Fikri tetap tenang. Saat pemuda berambut keriting itu mulai bisa mengendalikan diri, Dokter kembali melanjutkan, "Setelah ini kita akan melakukan tes PCR. Menunggu hasil PCR keluar, Bapak diharuskan isolasi mandiri dulu."


Punggung Fikri tampak membungkuk dengan kepala tertunduk lesu. Tanda ia sedang tidak bersemangat.


"Sebelumnya, kami ingin mengkonfirmasi dulu. Bapak punya penyakit penyerta?"

__ADS_1


"Saya sehat, Dok."


Dokter wanita mengangguk, lalu mencatat sesuatu di kertas. "Kalau begitu, bapak bisa isolasi mandiri di rumah."


Syukurlah, Fikri memang tidak terlalu suka dengan rumah sakit. Setidaknya, di rumah ia masih tetap bisa bekerja secara daring, makan sepuasnya dan melakukan apapun yang ia suka. Meski, nikmat keluyuran di luar rumah tetap tidak tergantikan.


"Setelah ini, ikuti Dokter Nawa, ya, Pak. Akan dilakukan pengambilan sampel ulang." Dokter tadi berdiri, sedangkan Fikri masih duduk di tempat yang sama. Bedanya, tatapannya kini tampak antusias.


"Dok-dokter siapa?"


"Dokter Nawa." Setelah menjawab pertanyaan Fikri tersebut, pintu ruangan terbuka. Sosok wanita berjas putih dengan rambut kuncir kuda berjalan masuk, mendekati Fikri. Suara hak sepatu yang beradu dengan lantai keramik menjadi musik pengiring debaran jantung Fikri yang meningkat drastis.


Dokter pertama tadi menyerahkan hasil rapid antigen dan beberapa catatan kesehatan Fikri pada Dokter Nawa. Kemudian, pamit dengan sopan, meninggalkan Fikri dan Nawa berdua saja.


Uhukin jangan, nih?


Nawa meletakkan catatan kesehatan tadi ke atas meja. Kemudian, mengeluarkan alat swab mirip cottonbud, lantas berdiri dekat sekali dengan Fikri.


Ada sesuatu di dada Fikri yang tersentak pelan saat mendengar itu. Suara Nawa terdengar begitu lembut, tapi berhasil membuat Fikri gelagapan. Perlahan, ia membuka maskernya dengan kepala tertunduk. Jantungnya masih berdebar tidak karuan.


"Tolong angkat kepalanya, Pak."


Fikir menurut. Ia mendongakkan pelan wajahnya. Namun, kembali menunduk dan mengumpat tanpa suara saat ingat tadi pagi belum sempat mandi.


Ia takut ada kotoran yang menempel di matanya. Ia juga takut napasnya bau karena belum gosok gigi.


Sial!


"Ada apa? Anda merasa pusing?"


Lebih baik jangan bicara Dokter Nawa! Karena semakin banyak kamu bicara, semakin tubuh Fikri gemetaran.

__ADS_1


"Sedikit pusing," balas Fikri setelah berdeham.


Walau memakai masker berlapis, Fikri tahu kalau Nawa sedang tersenyum. Hal ini terlihat dari matanya yang menyipit seperti bulan sabit.


"Kita selesaikan cepat, ya. Agar Anda bisa segera istirahat di rumah." Nawa kembali mengangkat tangannya yang dilapisi sarung tangan.


"E ...." Fikri memulai. "Apa nggak bisa saya isolasi di rumah sakit saja, Dok?"


"Ada apa? Bukannya Anda tidak mempunyai riwayat penyakit penyerta?"


Fikri merapikan sebentar rambut keritingnya yang berantakan dengan sebelah tangan. "Saya takut."


Kening Nawa mengernyit. "Takut apa?"


"Takut ...." Fikri menatap Nawa dalam, lalu mengetuk layar ponsel di tangannya. "Takut Dokter Nawa nggak balas pesan saya lagi."


Mata Nawa melebar. Kemudian, tertawa renyah. Matanya terlihat semakin indah saat ia tertawa.


"Fikri?" Nawa mencoba menghentikan tawanya. "Maaf, saya tidak terbiasa kenalan secara virtual."


"Kalau ... nyata?" tanya Fikri ragu. Kemudian, perlahan mengulurkan tangannya.


Nawa tampak bergeming sejenak. Namun, akhirnya ia sambut juga uluran tangan Fikri. Kemudian, mengerling. "Tentu."


***


Bonus chapter selanjutnya untuk si Gondrong Angkasa. Wkwkwkw, tapi jangan ditungguin.


Baca novel kece temanku yukkk ...


__ADS_1


__ADS_2