Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Empat Puluh Enam


__ADS_3

Keputusan pemenang tender akan diumumkan via email, jadi sekarang mereka semua bersiap pulang.


Sebelum kembali ke kantor, Gantari berbincang dulu dengan perwakilan vendor lain karena bagaimana pun juga relasi Angkasa Grup harus dikembangkan.


Di sela obrolannya dengan pihak Hotte Mart, Nevan menoleh dan mendapati Gantari sedang tebar senyum sana sini. Sedangkan, di sampingnya ada Angkasa yang selalu menatap kagum ke arah Gantari, membuat Nevan tersenyum kecut saja.


Zaskia muncul. Dia datang dengan ketukan sepatu high heels-nya yang menggema layaknya pemeran utama. Sayang, pesonanya tak seberapa.


"Ide dan strategi Pak Nevan sungguh luar biasa. Saya harus banyak belajar dengan Bapak," katanya sembari menempelkan tubuhnya pada Nevan.


Nevan meringis. Nampaknya, body language perempuan ini agak sedikit berlebihan. Namun, Nevan tetap harus tersenyum karena bagaimana pun Zaskia ini bisa jadi relasi kedepannya.


Sembari tersenyum Nevan melayangkan pandangannya dan mendapati Gantari yang tengah menatap tajam ke arahnya.


Astaga.


Mendadak senyum Nevan memudar. Ia berdeham dan memilih menggeserkan tubuhnya sedikit.


"Semoga suatu saat kita bisa bekerja sama dalam satu proyek, ya, Pak Nevan," Zaskia berujar lagi sambil beringsut dan memegang lengan Nevan. Pada hal masih ada banyak orang lain yang bisa ia ajak bicara.


Kenapa harus Nevan?


Nevan meringis lagi. Akankah dia mati hari ini?


"Baiklah, saya pergi dulu. Senang berjumpa dengan anda semua," pamit Nevan akhirnya. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit sembari tersenyum sopan, lalu berlalu cepat dari sana meninggalkan wajah kecewa Zaskia.


Fikri yang sedang asik memakan camilan di meja ikut menyusul dengan tergopoh.


"Cepat," bisik Nevan ketika Fikri sudah mendekat.


"Kenapa?" tanya Fikri ikut berbisik.


"Ada hantu wanita," balas Nevan masih dengan langkah lebarnya.


Fikri berhenti, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tiba-tiba ia merasakan ada udara dingin yang menerpa tubuhnya.


Wush!


Mendadak bulu kuduk Fikri berdiri. Ia menggelengkan cepat kepalanya, lalu berjalan tergesa menyusul Nevan.


***


Nevandra Ardiona


Dihyan? 18.45 PM


Read


Nevandra Ardiona


Diread aja 18.47 PM


Read

__ADS_1


Nevandra Ardiona


Dihyaaaaaaannnnnn 18.48 PM


Read


Gantari Dihyan Irawan


Apa? 18.49 PM


Read


Nevandra Ardiona


Kamu nggak kangen? Aku kangen


18.50 PM


Read


Nevan menggeram frustasi karena lagi-lagi pesannya hanya dibaca saja. Ditelpon pun percuma, tidak dijawab.


Gantari memang selalu berhasil membolak-balikkan hidupnya.


Sedangkan, di rumah Gantari sedang menekuk wajah karena Nevan tidak lagi mengirim pesan padanya.


"Gitu aja sudah nyerah?" gumamnya pada si ponsel.


Ia melangkah ke dapur dan mempersiapkan mie instan, tomat, dan sosis.


Wajahnya sempat tampak berpikir sejenak, namun akhirnya ia membulatkan tekadnya.


Terlur dua.


Titik.


Perutnya bahkan berbunyi karena tidak sabar menikmati mie instan yang sudah menguarkan aroma nikmat.


Gantari membawa semangkuk penuh berisi mie instan beserta tomat, sosis dan dua telur yang bertengger manis di atasnya, ke depan televisi dengan senyum mengembang.


Ia juga menghidupkan televisi dan duduk bersila di atas karpet.


Nikmatnya hidup.


Tok tok tok!


Baru saja Gantari akan menyendokan mienya ke mulut. Ia mendesah kecewa, lalu meletakkan kembali sendoknya dan menatap sendu ke arah pintu.


"Bu Fatimah, ya?" gumamnya sambil berdiri.


Gantari berjalan ke arah pintu dan langsung membukanya begitu saja. Matanya melebar ketika melihat Nevan dengan senyum sumringah.


"Aku lapar. Kamu ada makanan?"

__ADS_1


Rezeki itu memang tidak tertukar, tapi tertakar. Begitu pula yang terjadi pada mie rebus telur dua Gantari, ternyata satu telurnya rezeki Nevan.


Gantari menatap hampa telurnya yang sudah berpindah ke mangkuk Nevan, begitu juga dengan setengah porsi mie instannya.


Dia cuma punya satu persediaan mie instan, ulangi, satu-satunya. Dan, Nevan merusak segalanya.


"Alhamdulillah, kenyang," ucap Nevan setelah menyeruput nikmat sisa kuahnya di mangkuk.


Sedangkan, Gantari langsung mendelikkan mata padanya. Mie-nya yang tak seberapa itu juga sudah tandas.


Sekarang, yang Nevan lakukan adalah melipat kedua tangannya dan menatap Gantari penuh cinta.


Cinta pertamanya itu tampak selalu istimewa dengan kesederhanaannya. Hanya dengan memakai kaus oblong longgar berwarna putih dan rambut dicepol saja sudah mampu membuat Nevan tidak bosan-bosan menatapnya.


"Kamu nggak marah lagi, kan?" tanya Nevan akhirnya.


Gantari diam saja. Tiba-tiba dia ingat kejadian tempel-menempel tadi siang.


"Jangan lama-lama, dong, cemburunya."


Gantari yang sedang minum, terpaksa menyemburkan air yang sudah masuk ke mulutnya. Tenang saja, tidak ada adegan kena wajah Nevan, kok.


"Cemburu?" tanya Gantari tidak percaya.


Nevan mengangguk. "Cemburu, kan?"


"Enggak!"


Nevan menyipitkan matanya, sembari tersenyum miring. "Ngaku."


Gantari menghela napasnya dalam, lalu menarik Nevan untuk berdiri.


Meski bingung, Nevan ikut berdiri.


Astaga. Sejak kapan Gantari seagresif ini?


Sial. Kenapa Gantari makin berkilau di bawah cahaya lampu begini?


Nevan menatap Gantari dalam, lalu mengukir senyum hangat. Ada desir di dada yang tidak bisa ia kendalikan.


Namun, senyum hangat itu memudar seiring dengan pergerakan Gantari yang berjalan ke belakang tubuhnya dan mendorong punggungnya hingga ke luar pintu.


"Dihyan?" Nevan gelagapan. "Kamu segini marahnya sama aku?"


"Masalah tadi siang belum beres, dan sekarang kamu malah makan jatah mie ku," ucap Gantari tidak percaya.


Gantari menarik daun pintu dan akan menutupnya.


"Hati-hati," ucapnya sebelum pintu benar-benar tertutup sempurna.


Meninggalkan Nevan yang melongo. Masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dan didengarnya barusan.


"Jadi ini karena mie rebus?" lirihnya tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2