
"Nunggu restu orang tuamu."
Jawaban Gantari itu sontak saja membuat raut wajah Nevan berubah getir. Ia terdiam cukup lama sembari menatap ke depan. Namun, kemudian ia memutar kemudi dan berbelok arah.
"Mau kemana?" tanya Gantari was-was.
Nevan menoleh, lalu tersenyum tipis. "Mengambil restu."
Gantari menembuskan napasnya dalam. Ia sudah menduganya.
Sepanjang jalan Gantari diam saja sembari meremas jemarinya sendiri. Mengambil restu yang dimaksud Nevan, ia sudah bisa menebaknya dan lagi-lagi Nevan menggenggam tangannya. Memang masih terasa berat, namun setidaknya kali ini Gantari tidak lagi melewatinya sendiri.
"Ayo," ajak Nevan hati-hati ketika sampai di pekarangan luas milik keluarga Fauzan Ismail.
Gantari yang sedang memperhatikan rumah mewah tiga lantai itu menoleh dan menatap Nevan ragu.
"Aku bersamamu, Dihyan." Nevan menatap Gantari lembut, lalu tersenyum menyakinkan.
Harusnya hubungan mereka sekarang baik-baik saja. Terakhir kali, Tiwi bahkan memeluk Gantari di hari pemakaman sang Ibu. Namun, tetap saja tidak semudah itu mengubah suatu hubungan.
Sejak dulu Tiwi terang-terangan menyatakan tidak menyukai Gantari. Sejak dulu, Tiwi tidak pernah menganggap keberadaan Gantari. Sejak dulu, Tiwi menjadi salah satu orang yang menginginkan perpisahan mereka. Bagi Tiwi, Gantari adalah noda yang terciprat di kanvas yang sedang ia warnai sepenuh hati dan kanvas itu bernama Nevan.
"Assalamualaikum, Ma?"
Tiwi yang sedang merapikan meja makan sontak memutar tubuh dan seketika senyumnya mengembang melihat kedatangan sang putra tunggal. Namun, senyumnya berangsur pudar ketika melihat Nevan tidak datang seorang diri, melainkan bersama Gantari.
Mata Tiwi tidak bisa berpura-pura tidak melihat genggaman tangan Nevan yang bertautan dengan tangan Gantari.
"Wa'alaikumsalam," jawab Tiwi canggung.
Nevan maju dan mencium tangan sang ibu, sedangkan Gantari memilih untuk tetap diam di tempatnya.
"Kalian duduk saja. Biar Mama selesaikan ini dulu."
__ADS_1
Nevan mengangguk setuju, meski ia tahu pekerjaan merapikan meja sudah hampir selesai dikerjakan asisten rumah tangga mereka.
"Papa mana?" tanya Nevan sebelum beranjak.
"Kerja. Seperti biasa," jawab Tiwi pahit.
Jadi Mama makan dengan asisten rumah tangga lagi? Nevan hanya tersenyum tipis, lalu berbalik kembali mendekati Gantari.
"Nanti Mama telepon. Biar Papa pulang," ujar Tiwi, lalu ia mengalihkan pandangannya ketika tatapannya tidak sengaja beradu dengan tatapan Gantari.
Nevan yang sudah beranjak menolehkan kepalanya, lalu mengangguk. Kemudian, dengan cakatan ia meraih tangan Gantari dan menariknya menaiki anak tangga menuju kamar.
"Mau ngapain?" bisik Gantari ketika sudah berada tepat di depan pintu kamar, lalu melepaskan tangannya dari genggaman Nevan.
"Liat kamar aku. Belum pernah liat, kan?" jawab Nevan enteng. Kemudian, nyengir dengan tampang tanpa dosa.
Gantari mengerutkan dahinya, lantas celingak-celinguk melihat situasi.
"Nggak, ah. Aku nggak mau liat."
Gantari memutar tubuhnya hendak beranjak dari sana, namun Nevan keburu menarik tangannya lagi, hingga masuk kamar. Kemudian, Nevan dengan santai menutup pintu dan menindih pintu tersebut dengan tubuhnya.
"Dion, jangan macam-macam, ya," ancam Gantari siaga.
"Satu macam boleh?"
"Dion!"
Nevan tidak tahan untuk tidak meledakkan tawa. Entah sejak kapan menggoda Gantari menjadi hal yang menyenangkan untuknya.
"Bercanda, Sayang."
Gantari hanya mendelik sebal. Mengerjainya disaat-saat seperti ini terasa benar-benar horor. Namun, kemudian Nevan memegang pundak Gantari, lalu memutar pelan tubuh wanita itu, hingga menghadap ke ranjang.
__ADS_1
Gantari terperangah. Ini memang kali pertama dia melihat kamar Nevan semasa lajang. Dulu dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat semua ini. Matanya perlahan menyisir bagian demi bagian ruangan yang didominasi warna putih tersebut.
Kamar Nevan sepertinya bebas dari bingkai-bingkai foto, namun sebagai gantinya ada deretan piagam penghargaan yang terbingkai di dinding. Di sana juga ada sebuah lemari yang disesaki piala dan mendali.
Tanpa sadar Gantari berjalan mendekat dan mengamati piagam-piagam penghargaan itu dari dekat.
Olahraga.
Seni.
Olimpiade matematika.
Debat ... tingkat nasional?
Gantari menoleh cepat pada Nevan dengan dahi berkerut.
"Debat?"
Nevan tidak langsung menjawab. Ia hanya mengulum senyum. "Kamu nggak akan rugi punya suami berprestasi.
Gantari memutar bola matanya malas. "Pantes."
"Pantes apa? Pantes kamu sayang?"
Aih! Bucin. Gantari mendengkus dan ingin mencubit pinggang Nevan, namun Nevan keburu menangkap tangannya.
"Dengar, Dihyan," ucap Nevan dengan raut yang sudah berubah serius. "Mungkin dulu kita terlalu muda untuk mengerti, tapi sekarang kita sudah dewasa. Sekarang kita bisa berjuang lebih keras. Sekarang pandangan kita juga lebih luas." Nevan menghela napasnya pelan. Membiarkan tatapan mata mereka beradu lebih dalam.
"Walaupun, aku nggak bisa menjanjikan kebahagiaan setiap saat, tapi aku bisa menjanjikan kalau kamu akan selalu jadi tujuan akhirku."
Bibir Gantari bergetar menahan tangis dan tanpa peduli apapun lagi, ia menghambur ke dalam pelukan Nevan. Mendekapnya begitu erat dan membiarkan air matanya menetes.
"Ayo, kita mulai lagi, Dion."
__ADS_1
***
Jika : Dikit aja yakk 👀