Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Delapan Puluh Sembilan


__ADS_3

"Jangan-jangan, Dihyan bukan menghilang," sindir Farez sinis. Entah Farez sedang tidak sadar atau malah mungkin memang sengaja, yang jelas suasana hati Nevan yang kepalang buruk makin terpancar melalui tatapan matanya.


Bahkan, Edo yang duduk di samping Nevan, ikut menoleh dan menatap Farez dengan tatapan was-was.


Si Dokter muda cari mati, begitu pikirnya.


Farez yang duduk di seberang meja dan ditatap dengan begitu tajam, justru tampak biasa saja. Tumben-tumbenannya dokter idaman ini memasang wajah menjengkelkan. Ia bahkan menarik sebelah ujung bibirnya, hingga menciptakan sebuah senyum miring. Baru kemudian, ia melanjutkan dengan tak kalah santai.


"Tapi ... melarikan diri darimu."


Srek!


Nevan bangkit dengan sekali gerakan dan langsung mencengkram kerah baju Farez dengan kuat. Meja kayu berwarna putih yang memisahkan keduanya bahkan sedikit bergeser akibat Nevan yang memaksa merangsek maju. Tatapan matanya meruncing, menatap lekat manik mata cokelat tanah Farez yang lucunya masih terlihat tenang.


Sedangkan, Edo tidak langsung melerai karena tahu itu percuma.


"Lebih baik hentiin kisah cinta bertepuk sebelah tangan loe!" geram Nevan dengan gigi nyaris bergemeretak. Kemudian, dengan sekali sentakan dilepaskannya cengkraman tangannya dari kerah baju Farez, hingga tubuh Farez terbentur ke sandaran kursi.


Beberapa orang yang berada di sekitar mereka ikut menyaksikan dan mulai berbisik-bisik, namun Nevan tidak peduli. Ia menegakkan kembali tubuhnya dan mengembuskan napas dengan begitu kasar. Kemudian, ia melangkah pergi dari sana dengan rahang yang masih terlihat keras.


"Gimana kalau loe aja yang ngelepas cinta lama loe? Toh, cuma penderitaan yang loe kasih sama Dihyan."

__ADS_1


Edo melongo, lalu menggeleng pasrah ketika menatap Farez yang sudah berdiri dan meneriakkan kalimat cari mati.


Sontak saja Nevan mengentikan langkah dan dalam hitungan detik tanpa sempat mangatur napas lagi, dia sudah berbalik dan berjalan cepat menuju Farez. Kemudian, melayangkan tinjunya tepat di wajah Farez, hingga sang dokter terhuyung.


Kali ini Edo memilih maju karena jika dibiarkan bisa-bisa Farez babak belur. Susah payah Edo menahan Nevan yang sudah bersiap melanjutkan aksi arnakisnya. Bahkan, dia nyaris terpental karena Nevan mendorongnya kuat agar menjauh. Beruntung, keseimbangan tubuh Edo bagus.


Edo menggeram, lalu jalan mendekat lagi dengan cepat. Namun, Nevan keburu menarik kerah baju Farez lagi dan mendorongnya hingga membentur meja.


"Loe mau Dihyan balik, nggak?" teriak Edo.


Nevan bergeming, namun perlahan kabut gelap di matanya mulai berangsur hilang, meski napasnya masih terlihat menggebu.


"Anda takut kami menjadi aib keluarga bangsawanmu? nggak usah khawatir. Aku sama sekali nggak berminat menjalin hubungan dengan kalian. Termasuk dengan Jero." Gantari hendak melanjutkan langkah, namun Wiratha keburu membalas.


"Sejujurnya, aku ragu. Awan Ardiwinata itu benar-benar Ayahmu atau justru anak Bulan dengan ... laki-laki lain."


Gantari menatap Wiratha dengan bara api yang membara di manik matanya. Wajahnya bahkan merah padam dengan rahang yang mengeras. Hati Gantari hancur berantakan.


Sekuat apapun Gantari memaksa otaknya berpikir untuk menyanggah ucapan Wiratha tersebut, tapi tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar dari bibirnya.


Gantari benci dirinya yang begini. Dia benci dengan dirinya yang lemah dan tidak bisa membela diri. Akhirnya, ia hanya diam, lantas memutar tubuhnya dan melangkah pergi tanpa perlawanan. Kemudian, benar-benar hilang di balik pintu ukir.

__ADS_1


Air mata Gantari menetes begitu saja. Semakin cepat langkah kakinya, semakin deras pula air matanya menetes. Bulan memang selalu menjadi kelemahan Gantari.


Dulu, selalu ada Awan yang menguatkan mereka. Selalu ada ayahnya yang menjadi tameng cibiran merendahkan yang dilontarkan orang-orang di sekeliling mereka. Status mantan wanita penghibur selalu melekat pada diri Bulan, ibunya. Bahkan, Gantari juga tidak luput dari stempel gelap itu.


Hidup semakin pahit dan Gantari dipaksa membuat hatinya mati rasa semenjak sang ayah tiada. Bulan terlalu rapuh dan Awan selalu membiasakan Gantari untuk melindungi sang ibu karena Bulan begitu berharga. Setidaknya bagi Awan dan dirinya.


Gantari melangkah cepat keluar dari rumah mewah tersebut. Ia bahkan tidak tahu sekarang sedang berada di perumahan mana, yang jelas ia terus saja melangkah, tidak peduli arah dan tujuan. Ia melewati pos penjaga dan menjawab beberapa pertanyaan setelah menyeka air matanya terlebih dahulu.


Sesi tanya jawab berjalan lancar dengan sedikit kebohongan yang dilontarkan Gantari tentang maksud kedatangannya ke kompleks perumahan elite tersebut. Andai, suara yang berasal dari ponsel security lainnya tidak menjadi backsound interogasi mereka.


Security berwajah bulat yang sedang duduk di pos itu tampak fokus menonton dari layar ponselnya, mengabaikan sang teman yang sedang mananyai Gantari sebagai bentuk tugas dan tanggung jawab. Gantari yakin dia sedang menonton YouTube, tapi bukan itu yang menarik perhatian Gantari, melainkan karena nama Nevandra Ardiona disebut.


Gantari terdiam. Ia memilih melempar pandang pada security yang sedang duduk tersebut dan mencoba menajamkan pendengarannya. Hal yang akhirnya justru ia sesali.


Mariah, hamil?


Air mata yang sudah berhasil ia kendalikan tadi kini mendesak keluar lagi. Hatinya teriris perih. Gantari langsung memutar tubuhnya dan melangkah pergi tanpa sanggup pamit karena napasnya sudah kepalang sesak.


Sang security memandang kepergian Gantari dengan bingung, namun urusannya sudah selesai dan ia kembali bergabung dengan sang teman untuk menonton acara gosip tersebut.


Langkah kaki Gantari kian lama, kian berat. Pos penjaga sudah cukup jauh terlewati, meski masih bisa terlihat dari sana. Gantari tidak tahan lagi, akhirnya ia membiarkan tubuhnya melorot. Ia berjongkok di bawah tiang yang dihiasi lampu pijar. Gantari memeluk lututnya, lantas membenamkan wajahnya di sana. Kemudian, menangis sekuat yang ia bisa.

__ADS_1


__ADS_2