Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Delapan Belas


__ADS_3

Seharian Fikri mondar-mandir menanyakan keberadaan Gantari. Hingga sore, akhirnya dia menemukan wanita itu.


"Tar!" napasnya tersengal karena berlari menyambut kedatangan Gantari.


Gantari bergidik ngeri. Namun, segera berganti khawatir ketika melihat raut Fikri yang tumben-tumbenannya serius.


"Gue nyariin lo dari tadi," ucapnya terengah.


Gantari mengajak Fikri untuk duduk di kursi depan kantor dekat pos security.


"Ada apa?" tanyanya kemudian.


"Pak Sasongko, klien kita yang di Semarang mendadak mutusin kontrak," jelas Fikri gusar.


"Karena?"


"Katanya bahan baku dari kita harganya lebih mahal." Fikri menghela napasnya, kemudian melanjutkan, "Dia bahkan nggak keberatan bayar denda pembatalan kontrak."


"Pesaing kita siapa?" tanya Gantari masih tenang.


"Angkasa Grup."


Gantari mengangguk. "Kamu cari tau semua seluk beluk Angkasa grup. Laporkan semuanya sama aku paling lambat nanti malam. Besok pagi aku berangkat menemui Pak Sasongko langsung," titahnya.


Fikri melongo. Takjub sekali dengan wanita yang satu ini. Kemudian mengangguk menyanggupi.


"Sama siapa ke Semarang?"


"Sama kamu lah," jawab Gantari enteng, lantas bangkit menuju kubikelnya mengambil tas, untuk pulang bersama Pak Sarif.


***


Shanessa semalaman memikirkan hal yang mengganggu pikirannya seharian ini. Ucapan Lexa, Nevan yang tahu Gantari alergi udang, serta ucapan karyawan, membuatnya melamun dan susah tidur. Pagi ini dia bangkit dan bertekad untuk membuang semua pikiran bodohnya. Dia menertawai dirinya sendiri yang sempat mencurigai Gantari dan Nevan.


Keluar kamar, Shanessa tidak lagi menemui Gantari. Dia memang bangun kesiangan karena susah tidur semalaman. Biarlah nanti saja dia ke kantor Nevan untuk menyapa Gantari dan sang tunangan, pikirnya.


Sejak subuh Gantari sudah sibuk kesana kemari. Pagi-pagi dia sudah mampir ke Rumah Sakit dan pamit pada sang ibu untuk keluar kota. Sebenarnya hatinya masih terasa berat karena dia masih belum puas menghabiskan waktu dengan ibunya itu. Namun, tanggung jawab adalah tanggung jawab.


Disana Gantari juga bertemu Farez dengan mata pandanya. "Ada operasi, ya?" tanya Gantari.

__ADS_1


Farez tersenyum lebar sekali. Mimpi apa dia pagi-pagi begini sudah melihat Gantari tersenyum manis ke arahnya. Farez mengangguk. "Enam jam," katanya.


Gantari mengangkat kedua jempolnya, "Keren," bisiknya. Membuat Farez menggaruk kepala malu-malu.


Akhirnya Gantari juga menyampaikan rencananya untuk pergi ke Semarang pada Farez dan meminta tolong pada sang Dokter agar segera menghubungi dirinya jika terjadi sesuatu pada ibunya. Kali ini Farez yang mengangkat kedua jempolnya, hingga membuat mereka tertawa bersama.


Tak lama, karena Gantari segera pamit untuk pergi dan Farez berinisiatif untuk mengantarnya sampai pintu masuk.


"Oh, iya! Teman Shaness udah beberapa hari ini nggak kelihatan."


Ucapan Farez barusan membuat Gantari menoleh dengan alis bertaut. "Teman Shaness?"


"Iya. Duh, siapa ya namanya?" Farez tertawa hambar, kemudian melanjutkan, " Sering ketemu, tapi aku selalu lupa menanyakan namanya."


Gantari masih berpikir. Mencoba menerka orang yang dimaksud Farez.


"Hampir tiap malam dia datang menjenguk ibu. Sampai jam besuk habis dia baru pulang," kenang Farez, lalu melanjutkan, "Tapi udah beberapa hari ini nggak kelihatan. Kayaknya dia juga nggak tau kalau ibu udah sadar."


Gantari termenung. Ada orang yang dicurigainya, tapi apa mungkin?


Akhirnya Gantari pamit dan memasuki mobil untuk kembali ke kantor menemui Nevan dan Fikri. Rupanya Fikri sudah menunggunya di lobi dengan ransel yang tampak sesak oleh berkas-berkas.


Gantari mengangguk. Kalau lancar sore ini dia bisa pulang tanpa menginap, tekad Gantari.


"Pak Nevan gimana? Apa pendapat dia?"


Fikri menghentikan langkah kakinya, kemudian memukul keningnya sendiri. "Gue lupa laporan," ringisnya yang langsung direspons mata terbelalak Gantari.


***


"Semarang? Lo nggak ada laporan apa-apa sama gue?" cecar Nevan pada Fikri.


Fikri hanya menunduk. Gantari maju dan mengambil alih obrolan. "Kayaknya sekarang bukan saatnya membahas itu. Anda boleh menghukum Fikri setelah kami pulang dari Semarang."


Fikri mengangkat kepalanya, dan melirik Gantari dengan tatapan minta dikasihani.


"Kami?" Nevan menghela napasnya dalam. "Ya sudah, saya ikut."


Gantari melotot. Tidak mungkin dia pergi bersama Nevan. "Tapi mana mungkin kantor ditinggal begitu saja," ucap Gantari mencoba mempengaruhi.

__ADS_1


"Cuma sehari rasanya tidak akan terjadi masalah," balas Nevan.


"Siapa yang tau? Tidak ada yang menjamin semuanya berjalan lancar. Rencana penyelesaian memang cuma sehari, tapi apapun bisa terjadi dan mengubah semua rencana," Gantari menjelaskan.


"Maksudnya, kalian mau menginap?" Nevan menatap Gantari tak habis pikir.


Gantari pun demikian. Dia menarik napasnya panjang. "Bukan begitu maksud saya. Setidaknya ada yang menghandle dari sini."


"Kalau begitu, saya yang pergi dan kamu yang berjaga disini," potong Nevan.


Gantari istighfar dalam hati. "Tapi yang sudah memahami kondisi saat ini saya dan Fikri."


"Mana berkasnya biar saya baca dengan cepat," balas Nevan tak mau kalah.


Fikri yang dari tadi berdiri di antara mereka hanya celingak-celinguk sambil melongo.


"Jangan gegabah. Kalau kontrak ini batal, imbasnya besar pada perusahaan," tutup Gantari. Kemudian pamit keluar ruangan yang diikuti oleh Fikri.


Nevan melongo melihat kepergian Gantari. "Dari dulu memang mau menang sendiri," desisnya.


"Dia tadi lagi ngomongin bisnis, atau nyindir aku sih?" ucapnya lagi pada dirinya sendiri.


Di perjalanan, Gantari masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Dia masih memikirkan teman Shanessa yang diceritakan Farez padanya tadi pagi.


***


Siang ini Shanessa datang lagi ke kantor Nevan. Sang sepupu masih menjadi alasan dia bertandang dengan beberapa kotak donat.


"Sepupumu itu udah dua hari nggak masuk kerja, dan hari ini tiba-tiba hari ini bilang mau ke Semarang," cerita Nevan cuek sambil menggigit donat rasa tiramisu. Dia masih kesal dengan Gantari.


Shanessa membulatkan matanya tak percaya. "Gantari hari ini ke Semarang? Dua hari Gantari nggak masuk kerja? Mana mungkin."


Dengan santai Nevan mengangkat bahu. "Hari ini dia ke Semarang ngurus masalah kantor. Kemarin-kemarin nggak tau."


Shanessa merasa ada yang tak beres. Ia ingin menelpon Ardi, tapi takut Ayahnya itu khawatir. Satu-satunya cara hanya menunggu Gantari pulang. Shanessa menjadi tak tenang, jadi dia pamit pulang. Sekadar memastikan jika Gantari sudah pamit pada Kakek untuk pergi ke luar kota.


Di rumah Shanessa mengembuskan napas lega, rupanya sang sepupu sudah mengantongi izin kakek untuk pergi ke Semarang.


"Emang harus begitu, harus profesional," ucap sang kakek yang membuat Shanessa tersenyum lega. Dia tidak ingin melihat sepupunya terlibat masalah dengan kakek lagi seperti kejadian tempo hari.

__ADS_1


Setelah Shanessa pergi, Nevan diam-diam memikirkan spekulasi sang tunangan. Gantari tidak mungkin lalai pada pekerjaan hanya karena seorang lelaki. Memikirkan Gantari sedang meraung melihat keadaan sang ibu seperti yang terakhir dilihatnya, membuat Nevan jadi tak fokus.


__ADS_2