
Gantari berjalan dengan kepala tertunduk memasuki kantor. Bebeberapa rekan dan resepsionis yang menyapa hanya ia balas dengan senyum seadanya. Hatinya memang sedang porak poranda sejak semalam.
Terlebih, ketika faktanya untuk pertama kali Nevan menolak menjawab telepon darinya usai pertengkaran mereka, membuat suasana hati Gantari amblas sampai pagi.
Bukannya dia tidak ingin mencoba menelpon lagi, tapi hatinya sudah terlanjur ciut duluan dan memilih untuk menemui Nevan secara langsung saja nanti siang.
Gantari mengembuskan napas berat, lalu melangkah memasuki lift. Pikirannya masih melayang pada sorot mata terluka dan kecewa yang ditunjukkan Nevan padanya tadi malam.
"E-hm!"
Bagaimana jika ini berlangsung lama?
Bagaimana kalau Nevan tidak mau memaafkannya?
Gantari menggelengkan kuat kepala mencoba mengusir keresahan yang berkecamuk dipikiran.
"E-hm! Aku batuk loh, Gantari."
Gantari mengerutkan keningnya, lalu menoleh. "Eh! Leo."
"Nggak ada banget ya wibawa gue buat jadi bos," sungut Leo.
"Apa hubungannya batuk sama wibawa?" Ini efek kegalauan Gantari yang terlampau akut atau memang ucapan Leo yang memang tidak ada nyambung-nyambungnya? Sudahlah. Akhirnya, Gantari kembali memilih menatap pintu lift saja.
"Eh, Le."
"Iya, Gan?"
Koplak.
Akhirnya Gantari tidak bisa menahan diri untuk tidak menyemburkan tawa. Dia menutup mulutnya dengan tangan demi meredam kikikan gelinya dan tiba-tiba Leo melihat sinar di wajah Gantari.
"Pantes, ya, Pak Ang naksir berat sama loe," ujar Leo nyaris bergumam.
Ucapan Leo barusan berhasil membuat senyum Gantari memudar dan berganti dengan ekspresi datar.
"Bisa ngobrol sama gue sebentar nggak? Ada yang mau gue tanyain," ucap Gantari memilih tidak ambil pusing dengan ucapan Leo barusan.
***
"Pak Nevan, Pak Febrian sudah menunggu," ucap Utami setelah mengetuk pintu.
"Pak Febrian siapa?"
"Pemilik resort di Natuna."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Nevan yang tadi sibuk menggeser-geserkan mouse-nya tidak jelas langsung memfokuskan perhatiannya pada Utami.
"Kenapa kamu baru bilang?" Nevan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu berdiri dan mengenakan jas yang ia sampirkan di punggung kursi.
"Tadi kan saya sudah mau bilang, tapi Bapak nggak mau dengar," balas Utami agak jengkel. Tumben-tumbenannya gadis imut itu berani.
Nevan terlihat sibuk menghibernasikan, lalu menutup laptopnya. Kemudian, menatap Utami tidak terima. "Perempuan emang begitu, ya? Gengsi mau minta maaf."
"Hah?"
***
"Ada apa?" tanya Leo ketika mereka sudah duduk di kantin kantor setelah mampir untuk menyentuh finger print terlebih dahulu selagi Angkasa belum nampak batang hidungnya.
"Dulu loe pernah bilang bakalan mati kalau gue nggak kerja di sini, kan?"
Leo yang sedang mengaduk teh manisnya mendongak, lalu mengangguk tanpa perlu ada adengan mengingat-ingat.
"Huum. Makasih ya udah nyelamatin nyawa gue."
"Itu maksud loe, mati yang benar-benar mati?" Ekspresi Gantari berubah ngeri ketika menanyakan pernyataan yang ia lontarkan sendiri.
Leo tidak langsung menjawab pertanyaan Gantari. Kini dia sibuk menyeruput teh manisnya, lalu memilih gorengan yang disediakan di atas meja dan bakwan menjadi pilihan.
Gantari mengerutkan keningnya. Mendadak otaknya jadi lambat mencerna. Namun, kemudian dia mendengkus tidak percaya. "Mati yang loe maksud itu cuma kiasan?"
"Kiasan apa?" tanya Leo polos, sambil terus mengunyah bakwan. Namun, kunyahan itu perlahan berhenti ketika melihat Gantari sudah hampir menerkamnya.
"Gue nggak bermaksud ngebohongin loe. Serius."
"Terus?" Sorot mata Gantari begitu mengintimidasi. Bahkan, kini ia sudah hampir berhasil membolongi nyali Leo.
"Loe-nya yang salah paham," jawab Leo takut-takut. Kakinya sudah mau mengambil langkah seribu ketika Gantari mengambil sendok dan pura-pura ingin memukul dahi si laki-laki mata sipit itu, geram.
"Beneran, Tar. Kalau sampai gue gagal ngebawa loe ke sini, gaji gue bakal dipotong. Utang gue banyak di perusahaan ini," aku Leo merasa bersalah.
Kali ini tatapan Gantari melunak. Dia mulai tertarik dengan cerita utang piutang asisten pribadi Angkasa itu.
"Gue harus membiayai hidup dan sekolah adik-adik. Kalau cuma ngandalin gaji, mana sanggup," lirih Leo.
"Emang adik loe ada berapa?" tanya Gantari mulai penasaran. Sendok yang tadi ia genggam, sudah ia letakkan kembali ke tempatnya. Membuat Leo yang melirik adegan itu , menghela napas lega.
"Empat. Gue anak kedua. Kakak pertama dibawa suaminya merantau dan nggak ada kabar sampai sekarang." Senyum samar terukir di bibir Leo ketika melanjutkan, "Kalau bukan karena Pak Ang, gue nggak yakin masih bisa bertahan hidup."
Bulu kuduk Gantari meremang ketika mendengar cerita Leo, jadi dia masih memilih mendengarkan tanpa berniat menyela.
__ADS_1
"Gue cuma lulusan SMK, adik gue banyak, dan ... kami nggak punya orang tua."
Deg!
"Jadi itu sebabnya loe setia banget sama Pak Angkasa?"
Leo mengangguk tanpa ragu. Sorot matanya begitu tulus ketika mengatakan, "Nggak peduli orang-orang ngatain dia gila, bagi gue dia malaikat."
"Tapi itu utang, kan? Nggak gratis." Gantari masih mencoba menggoyahkan.
"Memang orang gila mana yang mau ngasih utang sama bocah baru lulus SMK tanpa jaminan apapun?" Leo menatap Gantari tajam. "Cuma Pak Ang."
Gantari terdiam. Masih ada di sudut hatinya yang menolak percaya dengan sisi lain seorang Angkasa.
"Masalah Shanessa, apa loe juga terlibat?"
"Hm, gue yang menemui dia dan nawarin kerjaan."
"Buat apa? Apa tujuan kalian?" Gantari tampak menggebu ketika menanyakan hal itu. Dia teringat lagi dengan kemarahan Nevan tadi malam.
Sesaat, Leo hanya menjawab dengan bahu terangkat. "Kalau itu gue nggak tau. Pak Ang cuma ngasih intruksi begitu."
Kamu memang nggak tau, tapi aku tau.
Gantari mendengkus. Ingin menenggak air hingga tandas, namun sudah terlalu mainstream, jadi dia memilih mengambil sendok lagi dan mengetuk-ngetukkan sendok tersebut ke atas meja dengan geram, membuat Leo berjenggit ngeri.
"Sekarang dia kemana? Tumben belum kelihatan."
"Sejak menandatangani kontrak, Pak Ang menghilang."
***
Yeyeye!
Hari ini aku mau pamer Instagram ya, hihihi. Kuy follow IG : jika_laudia
Disana ada kutipan yang berbunyi seperti ini, "Kelak, ketika kau merasa lemah dan berpikir untuk menyerah, ingatlah masa di mana ada orang yang memaksakan dirinya untuk kuat hanya demi kamu."
Halah, kok aku kasih tau. Nanti kalian nggak penasaran lagi dong 🤧
Pokoknya, sampai jumpa di Instagram, ya. Di sana bakal di share segala info yang berhubungan dengan novel dan quote tentunya.
Salam Jika Laudia.
a-b-c-d-e-f-g-h-i-j-k-l-m-n-o-p-q-r-s-t-u-v-w-x-y-z
__ADS_1