
Hari ini Nevan tak juga muncul di kantor. Utami sudah menelpon dan mengirim pesan secara pribadi, namun tidak juga ada balasan.
"Apa pak Nevan sakit, ya?" tanya Utami pada Fikri khawatir.
Fikri tampak berpikir. Pertemuan terakhirnya dengan Nevan tidak begitu baik.
"Nanti gue coba ke rumahnya," balas Fikri menenangkan.
"Kalau bawa berkas sekalian, sopan nggak, ya?" sambung Widia. "Soalnya ini udah mendesak banget."
"Nanti gue coba, deh," Fikri kembali menghadap layar komputernya, pikirannya jadi tidak tenang.
"Alamat rumah Pak Nevan aku share di grup, ya. Kali aja perlu," ujar Utami.
Ia menghela napasnya panjang, kemudian memutar tubuh untuk kembali ke meja kerjanya. Sedangkan, Gantari diam-diam mendengarkan.
Seperti yang sudah dijanjikan, Fikri bertandang ke rumah Nevan. Untuk ukuran rumah lajang, rumah Nevan cukup luas dan rapi dengan dominan cat berwarna putih.
Ia menekan bel berkali-kali dan berteriak memanggil nama Nevan, namun tidak ada jawaban. Ia bahkan sempat duduk diundakan tangga teras rumah, kemudian mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi Nevan.
Ia mendengus karena semua usahanya sia-sia. Dia kembali berdiri dan mendekat ke pintu utama, lantas berteriak, "Kalau sampai nanti malam loe belum juga ngasih kabar, gue dobrak pintu loe!"
Gini-gini Fikri pernah mencicipi kerasnya hidup di jalan, dan terkadang jiwa bar-barnya meronta juga.
***
Seperti biasa, jam makan siang Gantari habiskan di rumah sakit bersama sang ibu. Ia memesan taksi dan sekarang dalam perjalanan kesana.
"Sudah sampai, Mbak," suara sopir taksi membuyarkan lamunan Gantari. Gantari tersentak, lantas segera mengeluarkan uang sebagai bayaran. Ketika hendak membuka pintu mobil, keningnya mengernyit.
Ini bukan rumah sakit.
Namun, ia tetap keluar dan berdiri menatap rumah putih di hadapannya. Cukup lama, sampai-sampai dahinya berkeringat kena sinar matahari.
Ia menggeleng pelan, lantas memutar tubuh untuk kembali ke jalan besar dan berniat mencari taksi lagi. Sampai sebuah tangan memegang pundaknya, hingga membuat langkahnya terhenti.
Gantari membalikkan tubuhnya cepat dan mendapati seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan.
"Mbak Dihyan, kan?" tanya wanita itu ragu.
Gantari menautkan alisnya, mencoba mengingat-ingat.
"Mbak memang nggak kenal sama saya," ujar wanita itu seraya tertawa kecil. "Saya Bi Murni, kerja di tempat Mas Nevan."
Gantari mengangguk paham, lantas tersenyum ramah.
"Tolong Mas Nevan, mbak," raut Bi Murni berubah serius.
"Mas Nevan ada di dalam, kok. Saya yakin," lanjutnya. "Saya takut Mas Nevan sakit lagi."
"Saya cuma karyawan Pak Nevan, Bi," balas Gantari canggung. "Saya permisi dulu, ya." Kemudian, ia berbalik hendak melanjutkan perjalanan.
Mendengar itu Bi Murni segera menggeleng panik. "Mas Nevan pernah sakit dan dibawa ke psikiater."
Deg!
__ADS_1
Langkah Gantari terhenti lagi. Ia menatap Bi Murni mencari tau kebenaran ucapannya barusan dan yang didapatinya hanya anggukkan.
Selagi Gantari menekan bel, Bi Murni berdiri di balik tembok. Entah apa maksudnya.
Bel kedua dibunyikan dan tetap tidak ada respons dan ini yang terakhir. Gantari mengetuk pintu dan sedikit berteriak, "Pak Nevan?"
Gantari menatap pasrah Bi Murni yang tampak sekali kecewa. Ia menghela napasnya pelan dan melangkah untuk menuruni tangga ketika terdengar suara kunci pengait pintu dibuka, lalu disusul oleh daun pintu yang ikut tersingkap.
Nevan muncul dari sana dengan napas terengah. Wajahnya memerah, ditambah matanya yang terbuka sayu. Tubuhnya terhuyung ketika berjalan mendekati Gantari, membuat Gantari spontan berlari dan menahan tubuh Nevan agar tidak jatuh. Bi Murni juga ikut lari tergopoh dan membantu membopong tubuh Nevan.
Mereka membawa Nevan ke kamar yang sedikit gelap, akibat gordennya yang belum disingkap. Seprainya pun masih rapi, seperti tidak ada yang menempati, lantas mereka baringkan Nevan disana.
Sejenak tadi, Gantari sempat merasakan tubuh Nevan gemetar dan ketika kulit mereka beradu suhu tubuh Nevan memang tidak dalam keadaan normal.
Bi Murni juga merasakan hal yang sama. Ia langsung berjalan panik menuju pantry mempersiapkan bahan untuk mengompres. Dengan cepat dituangkannya air panas ke dalam mangkuk, lalu mengobrak abrik lemarinya sendiri mencari sapu tangan. Jantungnya berdegup tak karuan melihat kondisi tuannya.
Pelan, Gantari menyingkap gorden, membiarkan cahaya merambat masuk dengan sempurna. Kemudian, ia membuka laci nakas di samping ranjang dan menemukan beberapa botol obat yang ia tahu pasti jika itu bukan obat penurun demam. Hatinya seketika mencelos.
Bi Murni datang lagi dengan tergopoh. Ia meletakkan mangkuk beserta sapu tangan ke atas nakas, lalu menyentuh dahi Nevan.
"Ya Allah, Mas," ucapan getir. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca.
"Bi, ada Paracetamol nggak?" tanya Gantari pelan.
"Bibi nggak tau mbak, tapi kalau kotak obat ada," jawabnya, lantas langsung meluncur mencari kotak yang dimaksud.
Gantari meneguk ludahnya, lalu dengan ragu mengulurkan tangan untuk menyentuh kening Nevan, panas. Ia akan menarik tangannya kembali, tapi Nevan keburu menahannya tanpa membuka mata, lantas menarik tangan Gantari dan mendekapnya di dada. Sebulir cairan bening menetes pelan dari sudut mata Nevan.
Gantari mencelos lagi. Hatinya teriris melihat Nevan begini, bahkan matanya berhianat dan menitikkan air yang sama.
Berlahan ia mencoba menarik tangannya lagi, namun Nevan tetap menahan, sembari berkata dengan suara serak, "Sebentar saja."
Gantari menggigit bibir bawahnya.
Dia tidak boleh begini. Dia tidak boleh terpengaruh.
Untunglah Bi Murni datang dengan kotak yang dimaksudnya tadi beserta segelas air putih, membuat Gantari sontak menarik tangannya cepat, lantas mencari Paracetamol di sana.
Setelah ketemu, ia dengan hati-hati mengangkat kepala Nevan untuk membantunya minum obat. Gantari sempat terpaku ketika melihat bibir Nevan yang mengering akibat demam.
Bi Murni tampak menyeka air matanya, lantas pergi lagi untuk memasak bubur, membuat Gantari terjebak sendiri.
Gantari merendam sapu tangan ke dalam mangkuk berisi air hangat yang disediakan Bi Murni, lantas memerasnya. Kemudian, mulai mengompres Nevan. Nampak sekali napas pemuda itu tersengal.
Gantari tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Selagi menunggu, ia kembali mengaduk-aduk kotak P3K dan menemukan termometer disana, lantas mulai mengukur suhu tubuh Nevan, 39.5 derajat Celcius, berarti demam tinggi.
Pantas saja, pikir Gantari. Kemudian, ia mulai mengompres lagi.
Sekitar setengah jam Bi Murni datang kembali. Kali ini ia membawa nampan dengan semangkuk bubur serta segelas teh hangat ketika Gantari kembali memeriksa suhu tubuh Nevan.
"Gimana, mbak?" tanyanya khawatir.
"38°C, Bi. Udah turun," balas Gantari.
Bi Murni langsung mengembuskan napas lega. "Tolong, mbak, disuapin. Bibi mau salat dulu," katanya tanpa dosa.
__ADS_1
Gantari tersenyum hambar mendengarnya. Ia hanya menatap punggung Bi Murni yang kian menjauh, lantas hilang di balik pintu.
Gantari menoleh dan ditatapnya kembali wajah Nevan. Sepertinya dia memang belum makan.
"Pak, makan dulu," ujar Gantari dan Nevan langsung membuka matanya, membuat Gantari curiga saja.
"Ini Bi Murni udah buatin bubur. Ayo, dimakan," lanjut Gantari.
Nevan bangkit dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Pening seketika medera ketika ia bergoyang mencoba beringsut. Dia berdeham lantaran tenggorokan terasa kering. Beruntung, Gantari peka, jadi dia menyodorkan segelas air mineral pada Nevan.
"Aku nggak lapar," kata Nevan serak.
Gantari mengangguk. "Bagus, kalau begitu saya permisi dulu."
Nevan gelagapan, maka dengan raut kesal dia berkata, "Iya, aku makan."
Gantari kembali mengansurkan nampan berisi mangkuk bubur ke atas pangkuan Nevan dengan sabar menunggunya makan sendiri.
Nevan mendelik, namun akhirnya ia menyuapi buburnya dengan tangannya sendiri. Tidak ada adegan drama Korea di sini.
Baru tiga suap, Nevan sudah tidak sanggup lagi. Nafsu makannya memang sedang tidak ada, lalu ia menyingkirkan nampan ke atas nakas. Sebelum Gantari pamit pulang lagi, Nevan sudah keburu berujar, "Temani aku dulu. Hari ini saja."
***
"Dihyan mana, Bi?" tanya Nevan pada Bi Murni yang menemaninya. Dia tertidur lagi tadi.
"Lagi salat, Mas," jawab Bu Murni sembari tersenyum.
Tangannya terulur, menyentuh dahi Nevan untuk entah yang keberapa kali. "Masih demam, tapi nggak panas banget," gumamnya sendiri.
Nevan tersenyum, dia menoleh pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 18.00 Wib. "Bibi belum pulang?"
"Bibi udah nelpon Indah. Udah bilang nginep di sini," balasnya.
Nevan mengangguk. Kemudian ia beringsut mau turun. Badannya lelah juga tidak bergerak seharian. Ia berjalan gontai menuju sofa ruang tengah dan duduk di sana dengan televisi yang tidak pernah menyala.
Gantari yang baru saja selesai salat Maghrib dengan ragu ikut duduk di sana. Mereka diam sejenak.
"Aku tau ini sudah terlambat," mulai Nevan, "Tapi sebenarnya apa yang terjadi?"
Gantari menatap lurus ke depan, ia menghela napasnya pelan. "Kita sudah melangkah sejauh ini. Jangan menoleh lagi."
Nevan menolehkan kepalanya pada Gantari. Sesaat ia merasakan kepalanya berdenyut sakit.
Gantari menunduk dan senyum getir terukir di bibirnya. "Aku sudah menelannya susah payah. Jadi jangan membuatku mengingatnya lagi."
"Dihyan?"
Kali ini Gantari mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Nevan. Luka tergambar jelas di matanya, membuat Nevan merasakan jantungnya diremas.
"Tidak ada lagi Dihyan dan Dion," Gantari kembali tersenyum pahit, lalu melanjutkan, "Kita sudah berbeda sekarang."
Nevan terhenyak. Air matanya dengan pelan kembali menetes.
Gantari mengangguk seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri. "Tidak ada matahari di malam hari, kan, Nevan?"
__ADS_1