
Hari ini Darya Ardiwinata sang dewan direksi Cakrawala Ritail pulang dari perjalanan bisnis di Singapura. Hal pertama yang ia tanyakan adalah Gantari.
"Gantari, baik-baik saja, Ayah," jawab Ardi.
Darya susah tahu. Seperti yang Gantari duga, Kakeknya itu punya banyak mata. Ia senang Gantari tidak lagi berulah seperti dulu. Meski sampai sekarang ia belum bisa merebut hati cucu pertamanya itu.
"Ardiman," Panggil Darya.
Ardi membungkuk. Menatap sang Ayah khidmat.
"Bagaimana kalau proyek di Singapura kita berikan pada Gantari?"
Ardi tertegun. Proyek yang dimaksud Darya bukanlah proyek jangka pendek. Kalau memang Gantari yang menanganinya, bisa-bisa Gantari tidak pulang selama lima tahun. Maksudnya pulang yang sebenarnya pulang.
"Ayah, tapi itu proyek yang memakan waktu lama," Ardi mencoba mengingatkan Darya hati-hati.
"Aku tau. Aku sudah mempertimbangkan semuanya."
Kalau sudah begini, itu artinya Darya Ardiwinata sudah mengambil keputusan.
"Tapi ...." Ardi kembali beruara. Dia tidak ingin Gantari semakin menderita karena berpisah dengan sang Ibu. "Tari bukan .... Irawan," lanjutnya kemudian.
Ucapan Ardiman barusan membuat Darya menoleh tak suka. Ia menatap putra bungsunya itu dingin.
Sebenarnya ia juga tidak ingin berpisah dengan Gantari lagi. Semenjak lahir, baru lima tahun terakhir dia baru bisa melihat cucunya itu. Namun, kesehatan ibu Gantari tidak memperlihatkan perkembangan yang bagus. Ada firasat buruk Darya yang meyakini jika umur ibu dari cucunya itu tak lama lagi dan dia takut Gantari akan hancur setelah itu.
__ADS_1
***
Nevan melangkahkan kakinya menuju ruangan Ardiman Ardiwinata. Pagi-pagi sekali ayah Shanessa itu menelpon dan meminta bertemu. Tumben.
Setibanya di ruangan Ardiman, Nevan langsung disambut oleh sekretarisnya dan mempersilakannya masuk. Disana Ardiman terlihat sudah menunggu. Ia mengembangkan senyum menyambut calon menantunya itu.
"Ada proyek yang harus dikerjakan di Singapura dalam waktu yang tidak sebentar," Ardiman mulai bercerita setelah ia mempersilakan Nevan duduk. "Dan Kakek menunjuk Gantari sebagai penanggung jawabnya."
Nevan masih diam karena sampai disini dia masih tidak mengerti.
"Om butuh bantuan kamu," ucap Ardiman tanpa basa-basi lagi.
Nevan mengerutkan keningnya.
Mendadak bayangan Gantari yang ditampar di depan rumah sakit oleh Darya muncul dipikiran Nevan. Ia mengangguk pelan. "Tapi bagaimana caranya?"
Dan...
Kenapa harus aku?
***
Sorenya, Nevan mampir ke rumah Shanessa dengan sekotak sushi kesukaan sang tunangan. Di halaman rumah, ada kakek dan Ardiman yang sepertinya juga baru pulang kerja sedang duduk di kursi taman. Pakaiannya masih rapi sama seperti yang tadi pagi ia lihat. Juga ada Shanessa yang terlihat ceria seperti biasa. Mereka sedang duduk menikmati semilir angin sore di bawah terpaan matahari yang sudah melembut.
Kakek menyapa Nevan dan menggodanya karena begitu romantis repot-repot membawakan makanan untuk Shanessa.
__ADS_1
Nevan terkekeh. "Sekalian menjenguk kakek yang baru pulang dari perjalanan jauh," balas Nevan.
Mereka bicara sebentar dengan topik santai, kemudian mulai serius ketika Nevan menceritakan perkembangan usahanya.
Kakek mendengarkan dengan bangga, sedangkan Ardiman sedari tadi diam saja.
"Saya masih pemula dan butuh begitu banyak petunjuk," katanya rendah hati.
"Tawaran kerja sama dan investasi sudah mulai berdatangan, tapi memikirkan risiko membuat ciut juga," Nevan melanjutkan sambil terkekeh.
Kakek mengangguk paham. "Merintis memang masa-masa yang rentan. Kita harus ekstra hati-hati, tapi tetap harus berani melangkah," nasihat kakek.
Nevan setuju. "Karena itu, kalau kakek tidak keberatan, tolong rekomendasikan seorang risk analyst," mintanya hati-hati.
Kakek tampak berpikir, kemudian senyum tipis terukir di bibirnya. Baginya hal itu bukan hal yang sulit.
"Ada beberapa risk analyst handal yang kakek kenal. Nanti kakek coba hubungi mereka."
Nevan buru-buru menimpali, "Tapi kakek kan tau, kalau ini perusahaan baru. Mana mungkin kami bisa memberikan upah yang layak," kekehnya hambar.
Mendengar ucapan Nevan barusan, membuat Kakek mengerutkan dahinya. "Sebenarnya siapa yang kamu incar?"
Shanessa mulai serius mendengarkan obrolan kakek dan sang calon suami. Tumben-tumbennya obrolan tentang bisnis membuatnya tertarik. Nevan merasa bulu kuduknya meremang karena raut Darya berubah sedikit dingin. Namun, janji adalah janji.
"Gantari," jawab Nevan yakin.
__ADS_1