
Hal yang paling mengerikan di dunia ini bukanlah tentang diri sendiri, melainkan tentang hal buruk yang menimpa orang tersayang.
Nevan menjadi waspada sejak kehadiran Edo di rumahnya kemarin. Hatinya gelisah, meski ia sudah mengutus orang kepercayaan untuk mengawasi Gantari secara diam-diam selama ia tidak ada di sisi sang wanita.
Beberapa kali Nevan tampak melirik ponsel di sela kegiatannya memeriksa beberapa berkas, sekadar memastikan tidak ada kabar yang terlewat, namun yang dia dapatkan justru pesan dari sang ayah. Nevan menutup berkasnya dan membuka pesan tersebut.
Pulanglah hari ini. Ajak juga Gantari.
Nevan mengangkat sebelah alisnya, namun firasatnya baik. Mungkin, kegelisahannya sejak kemarin terlalu berlebihan.
Sebuah senyum terukir di bibir Nevan. Ia mengetikkan pesan balasan menyanggupi permintaan sang ayah, lalu segera menghubungi Gantari dengan dada berdebar.
Sayang?
Terdengar decihan dari seberang tanpa jawaban. Pagi-pagi dapat sapaan bucin terkadang membuat Gantari tidak habis pikir, tapi dia suka juga, sih.
Nanti sore aku jemput. Siap-siap, ya!
Mau kemana?
Papa nyuruh kita datang.
Hati Gantari langsung berdesir. Ia bingung, ini perasaan takut atau bahagia, namun yang jelas setelah pemberitahuan Nevan tersebut jantungnya terus saja berdegup tak karuan.
Dari pada memikirkan hal yang belum terjadi, Gantari memutuskan untuk menyiram tanaman. Beberapa kali ia tampak menghela napasnya dalam sembari mengarahkan gembor dengan pikiran berkecamuk.
"Kak Dee! Aku berangkat kerja dulu."
Gantari tersentak. Ia menoleh, lantas mengembangkan senyum. Ada Anwar yang sudah bersiap di atas motor.
"Hati-hati. Jangan kebut-kebutan," balas Gantari dengan melambaikan sebelah tangan.
"Nggak janji, Kak!" teriak Anwar sambil nyengir, lantas melesat dengan sepeda motor matic-nya.
Gantari mendengkus, lantas memandang kepergian Anwar dengan senyum terkulum. Berkat Anwar, Gantari bisa sedikit tahu bagaimana rasanya punya adik. Namun, tiba-tiba ia menolehkan kepalanya ke arah lain, lalu ke arah lainnya lagi. Entah kenapa, Gantari merasa ada yang mengawasi.
Setelah mengedarkan pandangan dan tidak menemukan apapun, Gantari memutuskan untuk mempercepat pekerjaannya. Ia mengusap tangkuknya sejenak, lantas membalikkan badan memasuki rumah.
__ADS_1
***
Edo sedang berdiri dengan pandangan yang menyisir ke segala arah. Sepertinya ia sedang mencari seseorang dari arah bagian kedatangan bandara.
Matanya mulai fokus ketika melihat seorang wanita dengan pakaian adat madya dengan handbag di tangannya. Wanita itu tampak anggun dan lembut sekali di usianya yang tak lagi muda.
"Jero?" sapa Edo ketika berhasil mendekatinya.
Sang wanita menoleh, menatap Edo lekat.
"Saya tidak bisa lama," ujarnya kemudian.
Edo mengangguk paham, lantas meminta Jero untuk mengikutinya dengan sopan.
***
Beberapa kali Gantari tampak mengembuskan napas. Hingga sore begini, jantungnya masih saja berdebar tak karuan jika mengingat pertemuan yang Nevan kabarkan tadi pagi. Meski Nevan sudah memintanya untuk menunggu di rumah saja, namun Gantari tetap memutuskan untuk menunggu di pinggir jalan raya. Diam di rumah membuatnya makin gugup.
Sebuah Ferrari berwarna silver menepi dan tanpa perlu mengintip lagi, Gantari tahu siapa pemiliknya. Ia berjalan mengitari mobil dan masuk ke dalam.
"Aku gugup," aku Gantari dan sebuah usapan lembut mendarat di puncak kepalanya.
"Semuanya akan baik-baik aja, Dihyan."
Ajaibnya jantung Gantari patuh. Dia sedikit lebih tenang sekarang. Lama memandang Nevan, Gantari merasa takjub sendiri. Meski sudah pernah berpisah, tapi rasa itu masih sama. Rasa yang tertinggal dan menetap dengan setia.
Sepanjang perjalanan, Gantari memilih berdiam diri dan mendengarkan lagu dengan khidmat.
"Sudah sampai."
Gantari tersentak, lantas mengintip rumah mewah itu dari balik kaca jendela. Ia beberapa kali tampak menyelipkan rambutnya yang tergerai ke belakang telinga, lalu menggigit bibir bawahnya, kebiasaan Gantari jika sedang gugup.
Nevan terkekeh, lantas mengacak pelan rambut Gantari geli. Kemudian, menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.
"Sebentar lagi, Sayang. Sebentar lagi cerita ini akan berakhir sesuai dengan yang kita inginkan."
Gantari memejamkan matanya, lantas mengangguk. Ia membiarkan Nevan menjalankan tugasnya dengan baik untuk menaklukkan hatinya yang kepalang keras kepala.
__ADS_1
"Hm, semua pasti baik-baik aja," gumam Gantari akhirnya.
Mereka memasuki rumah dengan tangan bertaut, meski Gantari beberapa kali mencoba melepaskan.
"Ehm!"
Gantari tersentak, lalu menarik tangannya lagi. Kali ini berhasil, sedangkan Nevan memilih mendesah pasrah. Ayahnya itu memang kekanakan sekali. Mana ada orang tua yang rela bersembunyi di balik pintu begini.
"Papa sehat?"
Fauzan tersenyum, lalu menyambut uluran tangan Gantari dan mengangguk singkat. Dia bersyukur karena meski sudah menjadi mantan mertua, tapi Gantari tetap tidak mengubah panggilannya. Kemudian, Fauzan merangkul pundak Gantari dan mengajaknya masuk ke ruang keluarga, mengabaikan Nevan yang sudah melebarkan mata.
Langkah kaki Gantari terhenti ketika melihat Tiwi sudah duduk di sofa. Ia tidak tahu, bagaimana reaksi yang harus ia berikan.
"Salam mamamu," ujar Fauzan mengagetkan. Gantari menoleh, menatap Fauzan sejenak, lalu beralih menatap Nevan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Gantari melangkahkan kakinya perlahan ke arah Tiwi yang sedang duduk dengan kaki bersilang, namun pandangannya tertunduk. Hati-hati Gantari duduk di samping Tiwi dan mencoba meraih tangannya, namun Tiwi justru menjauhkan.
Gantari terhenyak, namun tidak beranjak. Ia hanya menurunkan tangannya lagi dan menundukkan kepalanya dengan bibir tergigit. Di belakang, Nevan sudah ingin menghampiri, namun Fauzan menahannya.
Tiwi akhirnya mengangkat wajah dan menatap Gantari lekat.
"Kamu yakin ingin memulainya lagi?"
Gantari belum berani membalas tatapan Tiwi, namun ia mengangguk.
"Yakin."
"Baguslah ... Karena mama juga ingin memulainya lagi dan memperbaiki semuanya."
Sebulir air mata Tiwi jatuh diikuti oleh getaran di bibirnya. Kemudian, dengan cepat ia menarik Gantari dalam pelukannya dan mendekapnya erat.
"Maaf untuk semuanya, Gantari."
Gantari merasakan sebuah ikatan kuat yang menyesakkan hatinya terlepas dan menciptakan perasan lega luar biasa. Kemudian, tanpa ragu lagi ia membalas pelukan Tiwi dan memecahkan tangis bersama.
Terkadang, memang butuh air mata untuk mencairkan hubungan yang terlalu kaku.
__ADS_1