Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Tujuh Puluh Lima


__ADS_3

Kalau bisa memilih, aku ingin terus begini. Menyusuri jalan, hanya berdua saja denganmu. Mengalahkan deru angin dengan bisik-bisik di telinga. Mengeratkan pelukan, saling takut kehilangan.


Ah! Ini terdengar terlalu puitis, kan? Tapi, jika bersamamu, aku memang selalu begitu.


***


"Dion, kita mau kemana?"


"Apa?"


Gantari mengeraskan suara karena berisik angin yang menghempas memang berhasil menelan suaranya. "Kita mau kemana?"


"Apa?"


Astaga.


Akhirnya, Gantari sedikit menggeser tubuhnya, mencoba berbicara lebih dekat ke telinga Nevan.


"Kita mau kemana?"


"Apa? Apa?"


Nevan langsung cekikikan karena tiba-tiba Gantari mencubit pinggangnya dengan gemas, namun akhirnya diam-diam Gantari ikut tersenyum juga.


Mereka kembali meluncur tanpa suara. Kemana saja pasti bahagia.


Katanya naik motor itu paling asik ketika lampu merah, jadi Nevan mempraktikkannya dan meletakkan tangan kirinya ke atas lutut Gantari. Rencananya sembari mengobrol ringan.


"Tangan."


"Apa? Kenapa?"


"Mau dicubit atau digigit?"


Nevan menolehkan kepalanya cepat, lengkap dengan mata yang membulat. "Astaga, Dihyan! Jangan agresif begitu, ini di jalan bukan di kamar."


Hampir saja Gantari menoyor kelapa Nevan saking sebalnya, tapi beruntung lampu lalu lintas keburu berubah hijau. Sebenarnya, tidak juga, sih, mana tega Gantari menoyor kepala Nevan tersayang.


Ihir.


***


Shanessa sedang membersihkan kuku-kukunya ketika Leo datang menghampiri dan duduk di seberang mejanya.


"Pagi, Shaness," sapa Leo dengan senyuman cerah.

__ADS_1


Shanessa mendongak, lantas balas tersenyum. "Pagi, Pak."


"Kuku kamu cantik, ya, kayak orangnya."


Uhuk!


Shanessa melongo, lalu menurunkan cepat tangannya. Entah kenapa dia merasa sedang disindir, pada hal sedang di modusin.


"Ada yang bisa dibantu, Pak? tanya Shanessa siaga.


"Nggak ada, kok. Ini cuma ada berkas yang harus di tanda tangani Pak Ang, kamu aja yang minta atau aku?"


"Bapak aja," jawab Shanessa malas. Dia sudah membulatkan tekad sebulat-bulatnya untuk mengkaji ulang perasaannya pada Angkasa si bos tengil.


"Ya, udah, deh. Lagian aku belum lihat Pak Ang, katanya dia potong rambut."


"Serius?" Saking antusiasnya, Shanessa sampai mencondongkan tubuhnya tidak terkendali ke arah Leo dengan mata melebar. "Saya bantu aja sini, Pak. Saya lagi senggang, kok."


Shanessa merebut berkas yang tadi dibawa Leo, lantas pergi dari sana tanpa menoleh lagi. Persetan dengan ide mengkaji ulang perasaan.


Sedangkan, Leo sedang mencoba mengatur napasnya sembari memegangi dada. Jantungnya sedang menggila. "Itu barusan Shanessa deket banget, loh," gumamnya pada diri sendiri.


Pintu diketuk sebagai bagian dari etika, lantas Shanessa masuk dengan penuh rasa penasaran. Matanya dengan liar mencari keberadaan Angkasa. Membayangkan tampang keren Angkasa versi rambut pendek membuatnya jadi tidak sabaran.


Uwu.


Sedangkan, Angkasa yang cukup terkejut, hanya menatap Shanessa yang bersimpuh di dekat kakinya dengan ekspresi datar.


Shanessa buru-buru berdiri, setelah Angkasa memutuskan sambungan teleponnya. Dia membersihkan rok span pendeknya sebentar, lantas mundur beberapa langkah. Aura dingin Angkasa berhasil membuatnya menggigil sekaligus gila.


Angkasa tidak bicara, meski Shanessa lagi-lagi senyum-senyum tidak jelas sambil menunduk dan memainkan jari.


Parah, parah! Gantengnya Angkasa langsung melambung ke nirwana, pekik Shanessa dalam hati.


Bahkan, ketika Angkasa berdiri dengan kemeja biru langit yang digulung hingga ke siku, lengkap dengan tatapan tajam yang menghujam serta pesona rambut pendeknya, sukses membuat lutut Shanessa mendadak lemas.


Terlebih, ketika Angkasa melangkah dan makin memangkas jarak, membuat aroma maskulin milik pria mantan berambut panjang itu menguar dan langsung membuat Shanessa hampir hilang keseimbangan.


Sontak saja Shanessa berinisiatif memegang pundak Angkasa.


Dag!


Dug!


Dag!

__ADS_1


Dug!


Angkasa tampak mengerutkan dahi, menatap Shanessa yang bertumpu di pundaknya dengan pandangan begitu dalam. Hingga, sebuah pernyataan keluar dari bibir Angkasa, "Kalau uang kamu kurang buat beli rok panjang, biar aku beliin."


Retak.


***


Ada tidak sih referensi jalan-jalan yang lebih mengasikkan selain alam dan makan?


Nevan memandang Gantari yang begitu bahagia bermain kejar-kejaran dengan ombak. Rambutnya yang tadi ia ikat, kini sudah dibiarkan tergerai kembali dan membiarkannya ditiup semilir angin, hingga menutup sebagian wajah cantiknya.


Sesekali, Gantari mencoba menyelipkan rambut bergelombangnya itu ke telinga, namun lebih seringnya ia biarkan saja. Senyum sumringah belum juga pudar dari bibir tipis namun berisi milik Gantari sedari tadi.


Sudah lama dia tidak begini. Pantai, pasir, angin, dan Dion, sebuah kombinasi yang membuat Gantari kembali pada sosok Gantari yang dulu. Gantari yang bersinar, sesuai dengan arti namanya, matahari.


Sedangkan, Nevan memilih diam mematung menatap Gantari dari jauh. Jauh sekali, jauh hingga ke lubuk hatinya.


Apa ada yang lebih indah dari Gantari? Maka dengan yakin Nevan akan menjawab, tidak ada. Dia sudah terlanjur mabuk kepalang.


"Ayo makanan dulu." Nevan mendekati Gantari dengan menenteng sneaker milik sang wanita pujaan yang tadi langsung dilepasnya ketika sampai.


"Sebentar lagi," balas Gantari memelas. Yah, begitulah. Gantari memang tidak pernah puas jika bertemu pantai dan perangkatnya.


Nevan menggeleng pelan, lalu berjongkok dan mengangkat sebelah kaki Gantari, lantas membersihkan pasir pantai dari sana.


"Dion!" Gantari memekik kaget, lalu ikut berjongkok. "Masa calon imam megang telapak kaki makmum, sih."


***


Jika : Tumben Abang nggak ngomel kalau Jika nggak up?


Bang Nevan : Nggak, lah. Kan Abang tau kamu sibuk beneran.


Jika : Cie, perhatian banget. Jadi pengen cubit mesra pipinya, deh.


Bang Nevan : Lagian aku seneng bisa lama-lama naik motor berduaan sama Dihyan.


Jika : Cukup, bang! Cukup, ya. Anggap aja kita kenal mulai sekarang 🤧


Bang Nevan : Muehehee. Udah, istirahat gih.


Jika : Bisa nggak sih Abang jangan ngasih harapan palsu sama Jika? Hati Jika sakit, bang kalau Abang perhatiin, tapi nggak diseriusin.


Bang Nevan : Lah, istirahat, biar nanti malam bisa up lagi.

__ADS_1


Jika : 😒😒


Bang Nevan : HOAKAKAAK


__ADS_2