
Apa yang lebih bahagia dari ini? Cinta luar biasa dan direstui. Gantari mendadak mendapatkan keluarga utuh, hal yang sempat hilang dan akhirnya ia dapatkan kembali meski dengan wajah yang bebeda. Rasanya hati Gantari terasa lapang sekali. Kelopak bunga seolah berhamburan dari langit dan menghujaninya dengan ritme pelan. Terlalu bahagia, hingga membuat Gantari merasa ... takut.
"Biar Mama aja."
Gantari menoleh dan Tiwi langsung mengambil tumpukan piring di tangannya, lalu membawanya ke wastafel. Gantari sempat tercengang, namun kemudian mengikutinya.
Nevan pernah bercerita, jika Tiwi sangat suka memasak dan urusan dapur lainnya, sehingga asisten rumah tangga tidak pernah dilibatkan untuk bagian ini.
"Ada apa? Kamu tunggu di sana aja." Tiwi menoleh, lalu mengedikkan dagunya ke arah Nevan dan Fauzan yang sedang mengobrol santai di depan televisi.
"Mama yang nyabunin, aku yang bilas, gimana?" tawar Gantari hati-hati. Kalau dibilang canggung, tentu saja.
Tiwi tampak diam menimbang, namun akhirnya mengangguk setuju. Ia mulai mengusap piring dengan spons yang dipenuhi busa dan memberikan hasilnya pada Gantari. Gantari menerimanya, lalu membilasnya dengan cekatan.
"Dulu aku pernah ingin punya anak perempuan," cerita Tiwi. Senyum tipis tercetak di bibirnya. "Biar bisa diajak cerita, belanja, masak, dan makan bareng."
Gantari terperangah. Ini kali pertama mereka mengobrol.
"Makanya, waktu Nevan kecil, aku selalu mengajak Nevan masak," kenang Tiwi sambil terkekeh.
"Memang Dion bisa masak, Ma?"
Tiwi memutar tubuhnya dan menghadap Gantari dengan tangan dipenuhi busa. "Kamu nggak tau?" tanya Tiwi dengan mata bulat.
Gantari tampak mengingat, lalu menggeleng pelan. Kemudian, terdengar tawa keras Tiwi.
"Sepertinya aku sudah membocorkan rahasia Nevan," ujarnya geli. Tiwi memutar tubuhnya lagi menghadap wastafel dengan menggeleng-gelengkan kepala.
"Tapi selama ini dia nggak pernah bantuin aku masak," ucap Gantari dengan bibir berkerucut.
"Karena dia manja. Kalau manjanya kambuh, ampun, deh. Anak PAUD juga kalah."
Gantari tertawa, lalu mengangguk antusias. "Kalau rahasia yang itu aku tau banget, Ma."
"Astaga! Dimana-mana aku selalu digosipin, ya." Nevan mucul dan membuat keduanya menoleh. Rupanya Nevan sudah berdiri di belakang mereka dengan tangan bersedekap di dada.
Gantari yang sedang tertawa, langsung berhenti dan pura-pura mencuci piring lagi.
__ADS_1
"Harusnya aku jadi artis aja, kan? Tampan dan punya pesona tak terelakkan. Cocok, sih." Setelah mengucapkan kalimat itu, Nevan yang berdiri di tengah, langsung merangkul pundak Tiwi dan Gantari dan berucap dengan serius, "Kalian berdua akan aku jadikan kepala fans garis keras."
"DIH!"
Nevan tertawa puas. Sudah lama dia tidak sebahagia ini. Setelah puas menggoda sang ibu, Nevan dan Gantari memutuskan untuk pamit meski Fauzan menahannya.
"Kenapa nggak nginap aja?"
"Emang boleh sekamar berdua?" tanya Nevan polos.
Hampir saja Fauzan memukul Nevan dengan geram, kalau saja sang putra tidak ngacir duluan.
"Kamar banyak, ngapain kalian sekamar berdua?!" sembur Fauzan.
"Kami pulang aja. Takut ganggu orang tua yang lagi bulan merah jambu." Nevan langsung meraih tangan Tiwi dan Fauzan secara bergantian dengan cepat, lalu menciumnya. Kemudian, kabur duluan dan meninggalkan Fauzan yang mendecak kesal. Sedangkan, Tiwi hanya senyum-senyum saja.
"Kamu harus kuat, ya, Gantari. Tingkah kekanakan Nevan kambuh lagi," nasihat Fauzan yang dibalas kekehan geli Gantari. Ia segera menyusul Nevan setelah mencium tangan kedua orang tua Nevan tersebut.
Gantari memasuki mobil dan langsung memasang sabuk pengaman ketika Nevan tiba-tiba bicara dengan intonasi serius padanya.
Gerakan tangan Gantari sontak terhenti, namun kemudian ia tetap melanjutkan memasang sabuk pengamannya.
"Nenek siapa?"
"Dihyan ...."
"Aku sudah cukup puas begini, Dion. Nggak ada nenek nggak masalah."
***
"Gimana?"
Edo menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu menatap wanita di hadapannya.
"Kita tunggu saja," jawab Edo, lalu mengguratkan senyum tipis. Kalau dilihat-lihat Nenek Gantari itu terlihat jauh lebih muda dari usianya.
"Kalau boleh tau, Jero nikah umur berapa tahun?"
__ADS_1
Jero tampak terkejut dengan pertanyaan Edo barusan, namun kemudian ia tersenyum simpul.
"Aku melahirkan Bulan ketika berumur 16 tahun."
Edo langsung ber-oh paham. Pantas saja masih terlihat muda. Hanya disitu saja pertanyaan yang Edo berikan karena ia yakin setelah ini Jero pasti akan harus menjawab begitu banyak pertanyaan dari Gantari.
"Nah! Itu mereka datang." Edo langsung berdiri dari duduknya bersiap menyambut Nevan dan Gantari yang berjalan mendekat.
Nevan jalan terlebih dahulu, di susul Gantari yang berjalan di belakangnya dengan kepala tertunduk. Teras Dharmawangsa terdiri dari tiga lantai dan entah mengapa lantai ketiga menjadi pilihan Jero.
Jero tidak ikut berdiri, namun pandangannya tidak lepas dari Gantari.
"Duduklah," ucap Jero pelan.
Nevan menoleh ke arah Gantari yang masih saja bergeming, lalu kemudian dia menarik tangan Gantari agar duduk di seberang Jero, sedangkan dia sendiri duduk di seberang Edo.
"Namamu Gantari Dihyan Irawan, kan?" tanya Jero. Sorot matanya begitu sendu, memancarkan segala kelembutan yang ia miliki.
Gantari lagi-lagi bergeming. Bahkan, ia masih saja menundukkan pandangannya. Jero paham. Ia tidak ingin memaksa Gantari untuk menjawab pertanyaannya.
Nevan melirik ke arah Edo dan detektif muda itu paham. Mereka memilih menjauh agar Gantari dan Jero bisa lebih leluasa bicara. Gantari menatap Nevan dengan pandangan memohon, namun Nevan hanya meremas tangan Gantari sekilas, lantas beranjak dari sana.
"Namaku Kartika Dewi," mulai Jero. "Aku ... memiliki Bulan tanpa menikah." Ada nada pahit di sana. Jero terlihat menelan ludahnya susah payah, lalu melanjutkan, "Tidak ada yang menginginkan Bulan, jadi aku ...."
"Untuk apa Anda menceritakannya sekarang padaku?" sela Gantari tajam.
Jero tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Ia membekap mulutnya sendiri, menahan perih setiap kali mengingat semua tentang Bulan.
"Ibuku sudah nggak ada sekarang. Percuma Anda datang," lanjut Gantari. Hatinya juga sama hancurnya. Takdir sang ibu begitu pahit dan dia menjadi saksinya.
"Maaf, maaf," Isak Jero berulang-ulang.
"Tapi bayang-bayang hitam Bulan nggak pernah hilang dari kami!"
Suara seseorang tiba-tiba terdengar menggelar hampir di seluruh ruangan, ditambah karena padi floor memang sedang sepi. Semua menoleh ke arah pintu masuk dan seseorang laki-laki bertubuh tegap dengan kulit sawo matang tengah menatap Gantari dengan mata berkilat marah.
Laki-laki itu ...
__ADS_1