Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Tujuh Puluh Satu


__ADS_3

Angkasa terus melangkah, melewati ruangan demi ruangan yang masih kosong dan sepi, hingga akhirnya kakinya tidak sanggup lagi melangkah dan terjatuh dengan lutut membentur ubin.


Untuk kesekian kalinya dia berteriak, meraung, dan menumpahkan semua air mata, bukan lantaran lututnya sakit, melainkan rasa sakit yang menggila tepat di dadanya.


Angkasa menundukkan kepala dengan pundak yang bergetar. Membiarkan dirinya hanyut dalam luka dan kesendirian, hingga seorang wanita rupanya telah berdiri tepat di depannya, lantas ia ikut berlutut dan memeluk Angkasa dengan erat begitu saja.


Angkasa bergeming. Dia hanya membiarkan kepalanya bersandar di pundak wanita itu, lantas menumpahkan kembali segala kekalutannya di sana. Dia tidak peduli siapa wanita itu dan dia juga tidak peduli jika kali ini ia tampak begitu memalukan, yang jelas hingga sesak di dadanya hilang dia terus saja akan menangis hingga puas.


Wanita itu diam, tidak berbicara sepatah kata pun. Ia seolah paham dan merasakan sakit yang Angkasa rasakan. Hatinya ikut pedih dan air matanya turut luruh diam-diam. Hanya tangannya saja yang belum juga berhenti menepuk pelan punggung Angkasa dalam pelukan.


Sungguh, hatinya juga begitu sakit melihat Angkasa begini.


Tapi kenapa?


Entahlah.


Tidak semua hal di dunia ini butuh alasan.


"Menangislah. Menangis saja, sebanyak yang kamu mau," kata wanita itu pelan dan entah mengapa pula, Angkasa merasakan ketenangan ketika mendengar suara itu. Suara ....


Angkasa menegakkan tubuhnya pelan-pelan, setelah merasa cukup kuat untuk membuka mata dan menopang dirinya sendiri. Sekedar untuk memastikan siapa Guardian Angel-nya tersebut.


Dan, setelah berhasil melihat sosok wanita yang berada dekat sekali dengannya itu, pupil mata Angkasa melebar. Ada sorot terkejut yang tergambar di sana.


Angkasa tertegun. Wanita dalam pandangannya itu tidak berubah meski berkali-kali Angkasa mengerjapkan mata. Bisa saja dia salah lihat, tapi tidak.


Wanita itu tetap ...


Shanessa.


***


Gantari tersenyum kecut. "Bos kalian ada di dalam, kan? Sama siapa? Sama calon istrinya?" ucap Gantari tajam. Saking tajamnya sampai membuat Utami dan Fikri saling menoleh, tidak dapat berkata-kata lagi.


Gantari memutar tubuhnya cepat dan berjalan menuju ruangan Nevan, mengabaikan daya dan upaya Fikri serta Utami yang mencoba melarangnya.


Pintu terbuka dan wajah Nevan langsung berubah pias ketika menoleh ke arah pintu.


"Dihyan?"

__ADS_1


"Oh, maaf. Aku kira nggak ada orang," ujar Gantari datar.


Nevan menghela napasnya, lantas berdiri dan mendekati Gantari dengan gusar.


"Kenapa? Selesaikan saja dulu urusanmu. Aku tunggu," lanjut Gantari dingin.


"Nggak ada yang mau aku selesaikan sama dia, Dihyan," bantah Nevan cepat. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman di sini.


"Oh, rahasia, ya? Ya, udah aku pergi." Gantari langsung memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Nevan yang sudah mengacak rambutnya frustrasi. Baru kemudian, memilih berlari mengejar Gantari.


Adengan kejar-kejaran tidak terhindari, namun tetap dengan cara yang elegan. Gantari masih diam membisu, meski Nevan berulang kali mendekat, mencoba memintanya untuk berhenti dulu.


"Dihyan, dengarkan dulu penjelasanku. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan."


Gantari memang akhirnya benar-benar berhenti, lalu menoleh dan menatap Nevan dengan tajam. "Dialog sinetron mana yang kamu tiru?"


Alamak!


Nevan mati kutu, lantas lanjut mengejar Gantari yang kembali berjalan dengan cepat.


Beberapa karyawan Nevan rupanya sudah tahu akan terjadi adegan seperti itu, jadi sebagian dari mereka pura-pura sibuk bekerja demi menjaga hati pemuda-pemudi yang sedang panas dilanda cemburu itu dan sebagian lagi mengintip diam-diam.


Gantari masih diam membisu, hingga di tiba parkiran dan akhirnya dia memang berhenti berjalan, lantaran sudah sampai ke dekat Retic.


Gantari mengeluarkan kunci motornya dari dalam tas, lantas dengan cepat mencoba menghidupkan Retic, namun gagal. Lantaran, tangannya sudah gemetar duluan karena menahan isak.


Akhirnya, Gantari melempar kunci motornya ke lantai parkir dengan kesal. Kemudian, ia memilih berjongkok dan melipat tangannya di atas lutut, lantas membenamkan wajahnya di sana. Terdengar, isakan kecil yang sontak membuat Nevan dihujam rasa bersalah.


"Dihyan," panggil Nevan pelan. Kemudian, dia ikut berjongkok, mencoba menyejajarkan wajahnya dengan wajah Gantari yang tertutup.


"Cintaku udah habis untuk kamu. Nggak ada lagi sisa buat yang lain." Nevan mengusap lembut rambut Gantari, lalu melanjutkan, "Hati sama pikiranku penuh sama kamu, nggak ada tempat lagi untuk perempuan manapun."


Tanpa mengangkat kepalanya, Gantari mendorong-dorong dada Nevan, hingga membuat Nevan tergelak. Kemudian, pelan-pelan Nevan menarik Gantari dalam pelukannya.


"Walaupun aku suka ngeliat kamu cemburu begini, tapi jangan sering-sering, ya. Jantungku bisa copot," seloroh Nevan, sembari mengeratkan pelukan.


***


"Kamu udah datang? Kapan?" Leo langsung menghampiri Shanessa yang sudah jalan bersisian dengan Angkasa.

__ADS_1


"Iya, baru saja," jawab Shanessa kikuk. Sebenarnya, sejak kejadian tadi, Shanessa dan Angkasa tidak bicara sepatah kata pun.


Leo tertawa senang. Ya, senang, lah, bisa melihat gebetannya lagi.


"Pak Ang udah ngomong belum?"


Shanessa makin kikuk. Dia sampai tergagap dan akhirnya tidak berhasil mengatakan apapun juga.


"Maaf atas kejadian terakhir, Shanessa," ucap Angkasa akhirnya. Suaranya terdengar serak, mungkin lantaran terlalu banyak berteriak. Namun, di telinga Shanessa suara Angkasa itu justru terdengar menggetarkan jiwa.


"Ah, iya. Maaf juga kalau kemarin saya terlalu lancang dan tidak sopan," balas Shanessa tanpa berani menatap Angkasa.


Angkasa berjalan mendekati Shanessa. Terlalu dekat, hingga Shanessa bisa merasakannya embusan napas Angkasa dan membuat bulu kuduknya meremang. Sedangkan, Leo sudah memasang tampang waspada.


"Masalah tadi. Cukup menjadi rahasia kita saja," bisik Angkasa tepat di telinga Shanessa.


Shanessa memejamkan matanya, lalu membukanya lagi ketika Angkasa menciptakan jarak.


Kemudian, Shanessa mengangguk patuh ketika Angkasa menatapnya lama, menunggu jawaban.


***


Bang Nevan : Jika, Abang dengar kamu nggak bales komen readers, ya?


Jika : Astaga, Abang tau dari mana? Siapa yang ngadu, Bang? 🤧


Bang Nevan : Ada, deh. Nggak boleh gitu ahh, Jika. Abang marah kalau Jika sombong.


Jika : Iya, deh, Bang, iya. Besok nggak gitu lagi. Habisnya Jika kesel, Bang. Masa Jika salah mulu di mata mereka. Gimana kalau Jika pindah aja ke hati Abang.


Bang Nevan : Dih! Mulai.


Jika : Hehehe


Bang Nevan : Tapi, bener, ya. Besok baikan sama readers.


Jika : Hooh. Tapi beneran juga kan Jika boleh ke hati Abang?


Bang Nevan : Au ah!

__ADS_1


__ADS_2