Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Seratus Enam


__ADS_3

"Dulu Engkau pernah memisahkan kami. Aku kira ini kesempatan kedua, tapi rupanya aku salah." Nevan sedikit menarik sebelah ujung bibirnya getir. Kedua telapak tangannya masih mengadah. "Sekarang aku tanya, sebenarnya apa mau-Mu?"


Air mata Nevan kembali menetes. "Kalau Engkau tidak menginginkan kami bersatu, aku tidak akan memaksa lagi. Tapi ... aku mohon biarkan Dihyan hidup."


Sebuah cengkraman tiba-tiba menarik Nevan dengan kasar, hingga berdiri. Nevan terhuyung dan melihat Farez tengah berdiri tepat di depannya dengan tangan yang menarik kuat bagian kerah bajunya.


"Jangan bicara macam-macam!" desis Farez tajam.


Nevan tidak membalas. Ia hanya menolehkan kepalanya dan menghapus air matanya dengan cepat. Kemudian, menatap mata Farez yang menyiratkan ada kilatan amarah di sana.


Beruntung seorang bapak yang baru saja selesai berwudhu langsung menegur tindakan mereka dengan nada tak suka. "Hargai tempat ini!" sentaknya.


Farez akhirnya melepaskan tangannya dengan napas tersengal. "Aku sedang berusaha merelakan kalian, jadi jangan buat aku menyesalinya."


Setelah mengucapkan kalimat itu Farez langsung membalikkan badannya dan keluar dari Musala, niatnya untuk salat terpaksa ia tunda karena pasti wudhunya sudah batal akibat emosinya yang meledak.


Nevan masih bergeming, menatap kepergian Farez yang berangsur-angsur hilang dari pandangan. Sebuah senyum samar terukir di bibirnya meski jelas sekali wajahnya tampak begitu lelah.


...****************...


Orang-orang datang dan pergi silih berganti, hanya Nevan yang tidak sedetik pun meninggalkan rumah sakit. Meski ditawari untuk menjaga Gantari bergantian, Nevan terus menolak.


"Ini bajunya udah mama bawakan." Tiwi meletakkan tas berisi pakaian Nevan ke dalam lemari. Matanya begitu terluka melihat keadaan sang putra. Ia merasa kembali pada kejadian 5 tahun silam ketika Nevan divonis depresi setelah bercerai dari Gantari.

__ADS_1


Lalu sekarang, apa yang akan terjadi pada Nevan jika sampai Gantari ...


Tiwi terisak. Ia tidak sanggup menyelesaikan prasangkanya sendiri. Sebuah lengan merengkuhnya, mencoba menjadi sandaran untuk saling menguatkan. Tiwi mendongak dan menatap Fauzan yang sama khawatirnya.


Dua hari Gantari belum juga sadar dan Nevan selalu berada di sisinya. Duduk di samping Gantari dengan tangan yang hampir selalu menggenggam tangan sang kekasih yang sedang terbaring.


"Aku di sini hanya untuk memastikannya," gumam Nevan.


Ardiman baru saja pulang bekerja dan memutuskan untuk datang menjenguk Gantari. Lama ia terdiam memandang Nevan dengan pandangan iba. Ia berjalan mendekati Nevan dan meremas pundak Nevan pelan. "Gantari pasti sadar, perkembangannya bagus."


Nevan tidak menjawab. Ia masih saja tetap menggenggam tangan Gantari.


"Pulanglah, Nevan. Aku juga merindukan keponakanku. Biar kali ini aku saja yang menjaganya." Sejujurnya, alasan itu tidak sepenuhnya benar. Ardiman hanya merasa khawatir saja pada kondisi Nevan yang dua hari selalu berada di tempat yang sama, meski banyak orang sudah membujuknya untuk pulang dan tidur.


"Besok pagi kembali lagi. Hari ini aku hanya ingin berdua saja dengan Gantari," lanjut Ardiman.


Ardiman menarik napasnya dalam, menatap Nevan yang sudah seperti mayat hidup. Kemudian, ia berbalik dan menatap Gantari yang sedang terbaring dengan mata tertutup.


Ardiman memilih duduk di tempat yang tadi diduduki Nevan, lantas gantian menggenggam tangan Gantari. Seutas senyum tercetak di bibirnya. "Cepat sadar, Gantari. Di sini banyak yang menunggumu."


"Dihyan! Kenapa Dihyan?"


Ardiman menoleh dan melihat Handoko menerobos masuk tak sabaran. Laki-laki yang dipanggil Kakek muda oleh Gantari itu langsung mendekati Gantari yang tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ya, Tuhan. Sayangku, Dihyan," ratapnya. Air tipis menyelimuti bola matanya. Ia menarik pelan tangan Gantari dan menciumnya. "Maafkan Kakek yang baru datang, Dihyan."


Ardiman menepuk pundak Handoko, mencoba menenangkan. Ia tahu Handoko sedang tidak berada di Indonesia saat kejadian dan pasti sangat panik ketika mendengar berita ini.


"Siapa pelakunya? Biar gua matiin sekalian!" Mantan rocker itu bangkit, menatap Ardiman tajam.


"Tenang dulu, Pakde. Semua sedang diproses."


"Itu kan menurut hukum negara. Gua selesain juga pake hukum gua."


Ardiman memilih pasrah. Kakak dari ayahnya itu memang terkenal keras. Ardiman memilih keluar ruangan dan membiarkan Handoko berdua saja dengan Gantari. Ia menutup pintu dengan pelan dan sedikit terkejut ketika melihat Nevan rupanya sedang duduk di kursi tunggu dengan tubuh terbungkuk.


Ia berjalan mendekati Nevan dan ikut duduk di sana. Menghela napas sebentar, lantas berujar, "Untuk menemani orang sakit, kamu butuh sehat, Nevan."


Begitu banyak orang yang harus Ardiman kuatkan. Bahkan, di rumah ada Darya yang memilih mogok makan. Pada hal sebenarnya, dirinya juga sama takutnya.


"Sekarang kamu pulang dan tidur."


"Aku udah tidur." Akhirnya Nevan menjawab juga, meski belum mau membalas kontak mata Ardiman.


"Tidur di kursi bukan tidur namanya."


"Aku akan pergi kalau Dihyan sadar. Begitu janjinya."

__ADS_1


Ardiman menautkan alisnya tak mengerti. Belum sempat ia menanyakan maksud Nevan, terdengar suara Handoko berteriak memanggil namanya. Ardiman bangkit dan langsung kembali masuk ke ruangan. Berbeda dengan Nevan, meski ia ikut berdiri, namun Nevan hanya memilih berdiri di depan pintu saja. Memperhatikan kepanikan dua orang laki-laki di dalam sana.


"Panggil Dokter!"


__ADS_2