Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Lima Puluh Enam


__ADS_3

"Dihyan ... Ayo kita nikah."


"Uhuk!"


Gantari terbatuk hebat, hingga membuat Nevan mendecak, lantas mendekat dan ikut duduk di samping Gantari sembari membantu mengusap punggung perempuan cantik itu.


"Aku ngajak nikah, loh, bukan ngajak jadi relawan di Gaza," sungut Nevan masih terus menepuk pelan punggung Gantari.


Gantari berdeham, lalu melirik Nevan ragu-ragu. "Kamu udah makan?"


Nevan mendengkus, seketika gerakan tangannya terhenti.


"Nggak tau," sembur Nevan kesal.


Melihat kekesalan Nevan tersebut justru membuat Gantari terkikik. Ia memegang lengan laki-laki yang hari ini memakai kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga ke siku, lantas memiringkan kepalanya menatap Nevan hangat.


"Nggak usah lihat-lihat. Diajak nikah juga nggak mau," ucap Nevan pura-pura marah. Pada hal sebenarnya dia malu ditatap mesra begitu oleh Gantari.


"Bukan nggak mau, tapi tunggu dulu," jelas Gantari.


Nevan menghela napas, lalu memiringkan tubuhnya ke arah Gantari bersiap mencecarinya dengan ungkapan protes. "Tunggu sampai kapan? Aku kan cuma mau mewujudkan keinginan kamu punya anak kembar."


Gantari terdiam, lalu mengerjapkan matanya pelan, mencoba mencerna ucapan Nevan brusan.


"Jangan mengada-ada," desis Gantari akhirnya.


Nevan melirik Gantari, lalu mengatup kuat bibirnya, mecoba menahan senyum.


"Kalau punya anak kembar mau dikasih nama siapa?" Dahi Nevan berkerut, seolah menegaskan jika dia memang sedang mencoba mengingat sesuatu. "Dillon dan Devlin. Benar, kan?"


Gantari membeliakkan matanya. Dia ingat dulu memang pernah mengatakan hal itu pada Nevan. Namun, dia tidak menyangka mantan suaminya itu masih ingat. Kemudian, sebuah cubitan kecil nan pedas melayang begitu saja ke lengan Nevan.


"AW!"


Nevan memekik. Ia langsung mencondongkan tubuhnya menjauh dari Gantari sembari terus mengusap cepat lengannya sendiri.


Sedangkan, pelaku pencubitan sedang tertawa puas tanpa berdosa. Sebenarnya tadi Gantari mau menggeplak kepala Nevan supaya pemuda itu segera sadar, tapi dia takut berdosa melakukan itu pada calon suami.


Uhuk.


"Assalamu'alaikum."


Keduanya sontak menoleh dan mendapati seorang pemuda tanggung lengkap dengan pesona baju kerjanya datang menghampiri.


"Eh! Anwar," sapa Gantari. "Katanya hari ini libur?"

__ADS_1


"Shift malam, Kak," jawab Anwar lengkap dengan senyum manisnya, membuat wajah Nevan langsung berubah kecut.


Kenapa juga si bocah tetangga jadi hobi sekali menyatroni pacarnya?


"Ini Kak Dee kuncinya. Udah aku benerin tadi."


Gantari berdiri, meraih anak kunci yang diulurkan Anwar padanya.


"Udah beres, ya?" Gantari menolehkan kepalanya ke arah pintu, lalu menatap Anwar lagi. Dia bahkan lupa kalau tadi pagi hendel pintu rumahnya rusak.


"Makasih banyak, ya, Dek," ucap Gantari tulus. Senyum manis balasan turut serta terbit dari sana.


Anwar mengangguk, lalu mengusap belakang kepalanya dan tersenyum malu-malu.


"Sama-sama, Kak," jawabnya lembut.


Astaga!


Hampir saja Nevan melempar kursi panjang ke arah pemuda yang dia cap bermuka dua itu. Atau memjungkir balikkan meja yang ada di depannya. Atau membenturkan kepalanya ke tembok, mungkin. Sikap manis Anwar pada Gantari benar-benar membuat hatinya panas.


"Kalau hari ini kamu kerja, Kakak neraktir kamunya kapan, dong?"


"Besok, deh, Kak. Besok kan malam Minggu."


"Gue aja, deh, yang teraktir. Malam minggu ketemuan di mana kita?"


Genderang perang sudah ditabuh. Anwar bahkan tidak sungkan-sungkan lagi menatap Nevan dengan sorot siap serang.


"Nggak usah, deh, Om. Lagian kita nggak akrab."


Mak Jang!


Nevan merasakan emosinya sudah menjalar hingga ke kepala, maka ia memejamkan matanya sebentar dan mengatur napas, lantas kemudian tertawa hambar.


"Aku pamit, ya, Kak. Nanti aku WhatsApp tempatnya," ucap Anwar tidak peduli, lalu benar-benar pergi dari sana tentunya setelah menebar senyum dulu pada Gantari. Dia melewati Nevan dengan delikan yang 99%-nya cari mati.


"Itu beneran bocah yang dulu suka ngerengek minta ajarin basket?" Nevan menoleh pada Gantari dengan sebelah alis terangkat. "Kayaknya dulu dia nggak semenjengkelkan itu," dengusnya.


"Kamu masih ingat sama Anwar?"


"Ingat. Waktu SMP dia kan pernah nangis gara-gara ditolak cewek soalnya nggak bisa main basket," kenang Nevan. "Pernah nangis gara-gara kalah olimpiade juga."


Gantari menggeleng, lalu terkekeh. "Kamu ingatnya yang jelek-jelek aja," katanya, lalu kembali duduk di kursi.


"Emang dulu dia cengeng banget, kok. Sekarang aja sok keren," balas Nevan, lalu ikut duduk di samping Gantari.

__ADS_1


"Emang keren."


Nevan menoleh cepat, menghujam Gantari dengan tatapan tajam. "Dihyan, jangan mulai."


Gantari terbahak. Senang sekali setiap dia berhasil menggoda Nevan. Diam-diam, Nevan ikut tersenyum setiap kali melihat wanita yang dicintainya itu tertawa.


"Dion," panggil Gantari pelan, setelah tawanya reda. Rautnya kini berubah serius. Ada hal yang harus ia beritahu pada Nevan.


"Angkasa merekrut Shanessa ke perusahaannya," lanjut Gantari setelah Nevan menoleh padanya. Kemudian, ia menunduk, tersirat raut kekhawatiran di sana.


"Kamu tadi pulang?"


Gantari mengangguk.


Terdengar helaan napas Nevan. Dia terdiam sesaat. "Hari ini Angkasa pasti udah tau semuanya. Jadi, besok kamu harus mengundurkan diri dari Angkasa Grup."


Gantari yang tadinya menunduk langsung mengarahkan pandang menatap Nevan. "Terus, Shannes? Aku nggak mungkin ninggalin dia."


"Memang Shaness kenapa? Dia kan di sana kerja. Angkasa juga nggak akan berbuat macam-macam," terang Nevan mencoba menenangkan.


Gantari menggeleng tidak setuju. "Kalau hari ini Angkasa memang tau semuanya, pasti dia marah besar. Salah-salah justru Shanessa yang akan ...."


"Shanessa terus," potong Nevan dengan nada suara meninggi. "Kalau begitu, larang dia bekerja di Angkasa Grup. Beres kan?" ucap Nevan hampir frustasi.


"Shaness berhak bahagia juga, Dion." Gantari mengalihkan tatapannya dari wajah Nevan. Nevan tidak mengerti. Tidak ada yang mengerti perasaannya.


"Yang ngelarang dia bahagia siapa?" tanya Nevan makin frustasi. Ia menatap Gantari yang masih saja menunduk, lalu melanjutkan, "Tapi bukan kewajiban kamu nyariin kebahagiaan buat dia."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Nevan memalingkan wajah, lantas mengusap kasar wajahnya. Sepertinya, masalah rasa bersalah Gantari tidak ada habisnya.


"Sesekali pertimbangan juga perasaanku, Dihyan."


Nevan bangkit, lalu melangkah pergi dari sana. Meninggalkan Gantari yang menatap kepergiannya dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi.


***


a-b-c-d-e-f-g-h-i-j-k-l-m-n-o-p-q-r-s-t-u-v-w-x-y-z


AYE, AYE!


Yuk, tunjukkan dukungan kalian seperti Nevan yang selalu menunjukkan rasa cinta pada Gantari. Uhuk.


Tetap tinggalin like, komen, dan vote, ya. Karena tanpa kalian, aku tetaplah Jika Laudia, wkwkkw.


Love love love

__ADS_1


__ADS_2