Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Lima Puluh Dua


__ADS_3

"Gan ... Gantari! Lo kok bisa ada di sini?"


Fikri mengarahkan telunjuknya pada Gantari dengan mata yang hampir copot saking lebarnya, lalu menoleh pada Nevan dan kembali pada Gantari lagi.


Belum usai kebingungannya, Nevan sudah mengaitkan tangannya ke leher Fikri dan menyeretnya ke dekat sofa.


Fikri langsung melepaskan tangan Nevan. Dia masih butuh penjelasan.


"Kalian kan musuh, kok bisa ...." ujar Fikri dengan wajah Fikri tidak santai.


Kebingungan Fikri itu sesaat hanya Nevan balas dengan kedua bahu yang terangkat.


"Salah emang datang ke rumah pacar sendiri?"


Duar!


Petir menyambar, hanya di kepala Fikri saja tentunya.


"Pa ... Pacar?"


"Lo mau minum nggak? Gue lagi baik, nih." Nevan beranjak ke lemari pendingin setelah melihat Fikri mengangguk dengan tatapan kosong.


"Pacar?" ulangnya lagi.


Astaga, Fikri. Lama amat ya move on-nya. Pantes aja jomblo.


"Iya. Gantari pacar gue. Awas aja lo masih genit sama dia," tekan Nevan sembari memberikan segelas minuman pada temannya yang masih shock akut.


Fikri meraihnya cepat, lantas menenggak hingga tandas. Dia butuh fokus agar bisa mencerna kabar kabur ini.


"Tapi lo kan tau, Gantari itu inceran gue," lirih Fikri masih lemas.


Dug!


Oke, adegan anarkis akan selalu ada jika Nevan bersama dengan Fikri karena sekarang lengan Fikri sudah bonyok ditinju Nevan.


"Gue serius," tegas Fikri tidak peduli. Ia menatap dalam Gantari yang masih berdiri kikuk. Mendadak kenangan indah bersama Gantari di Semarang muncul di kepala Fikri, juga kenang indah di ... sudah habis. Cuma itu saja.


Hati Fikri sakit. Ia memejamkan matanya kuat ketika Nevan menggeser tubuhnya agar bisa berdiri tepat di depan Gantari, seolah sengaja menghalangi tatapan dalam Fikri pada cinta diam-diamnya, Gantari.


Dasar bos Playboy cap lidi!


Baru saja kemarin dia menggalaukan mantan istrinya, tapi sekarang gebeten temannya sendiri diembat juga, rutuk Fikri dalam hati.


Nevan menolehkan kepalanya pada Gantari yang berdiri di belakangnya, lalu berucap lembut, "Kamu ke kamar aku dulu, ya. Di sini nggak aman, Dihyan."

__ADS_1


Gantari cuma bisa meringis. Dia bingung dengan situasi canggung ini. Sebenarnya apa yang salah? Memang mereka sudah berbuat dosa sampai merasa seperti tertangkap basah begini?


Setelah berbicara dengan Gantari, Nevan kembali menoleh pada Fikri yang rupanya kini sudah melotot lagi.


"Dihyan?" tanya Fikri tak percaya. "Loe bilang Dihyan?" ulangnya lagi.


Nevan mengangguk. "Dia emang Dihyan, kan?"


Kaki Fikri mendadak lemas. Ia langsung terduduk di kursi beludru milik Nevan. Tak sanggup menerima kenyataan pahit bertubi-tubi.


Gantari Dihyan Irawan


Gantari DIHYAN Irawan


Fikri merapalkan nama lengkap Gantari berulang-ulang. Hatinya makin sakit.


"Lo nggak pernah bilang, breng ...." Fikri menahan ucapannya, lalu berganti menjambak rambutnya sendiri.


"Masa, sih?" balas Nevan ringan, lantas ia melangkah dan ikut duduk di sofa, setelah menarik tangan Gantari agar duduk disampingnya.


Adegan itu tidak luput dari pengamatan Fikri. Dia sudah melirik tajam, super tajam, lantas mendecih. Membuat Nevan menoleh dan mendendang kaki Fikri dengan senyum geli.


"Udah, deh. Hastag tertolak. Titik."


Setelah cukup lama menunggu mengatur napasnya, akhirnya Fikri kembali bersuara, "Terus ngapain lo biarin Gantari kerja sama musuh bebuyutan lo?"


Fikri menatap Nevan lurus. Ia belum sanggup menatap Gantari demi menata hati. Sedangkan, yang ditanya wajahnya sudah mulai serius. Sejujurnya, ia juga tidak suka Gantari bekerja dengan Angkasa.


"Ada misi. Sebentar lagi Ang juga bakalan tau apa tujuan Gantari kerja di sana," jelas Nevan, lalu menggenggam tangan Gantari.


"Lepasin tangan lo!" sergah Fikri cepat, lalu ia melanjutkan setelah Gantari melepaskan tangannya meski Nevan merengut. "Misi apa?"


"Rahasia," bisik Nevan.


"Kenapa Angkasa bisa jadi musuhmu, sih, Dion?"


Pertanyaan Gantari tersebut membuat Fikri tidak jadi mencecar Nevan dengan pertanyaan soal misi dan lagi ia seolah mendapat bukti baru jika Gantari memang Dihyan dari caranya menyebut nama Nevan.


Fikri menundukkan kepalanya lesu.


"Kayaknya, kamu juga kenal banget sama Angkasa ya, Fik?"


Deg!


Pertahanan Fikri hancur lagi hanya dengan mendengar Gantari menyebut namanya.

__ADS_1


"Kenal. Dia kan teman ...." Fikri tidak melanjutkan ucapannya. Ia hanya melirik ke arah Nevan. Rautnya sudah berubah, kini ada tatapan sungkan yang ia berikan pada teman sejak kecilnya itu.


"Kami sama-sama melakukan terapi di psikiater yang sama." Justru Nevan yang melanjutkan ucapan Fikri barusan. Meski terlihat biasa, namun ada nada getir di sana.


Gantian Gantari yang menggenggam tangan Nevan, membuat Nevan menoleh, lalu mengguratkan senyum. Kali ini Fikri rela. Ia rela melihat roman picisan di depannya karena Nevan memang membutuhkan itu.


"Dia begitu setelah ibunya meninggal dan fatalnya, dia yakin kalau dia penyebab ibunya meninggal," terang Nevan.


"Ibunya meninggal karena apa?" tanya Gantari hati-hati.


"Bunuh diri."


Gantari tertegun. Kehilangan sosok ibu saja sudah membuat dirinya seperti dihempas gelombang tsunami, apa lagi sampai menjadi penyebab kehilangan itu. Gantari tidak berani membayangkannya.


"Karena merasa berada di benang merah yang sama, kami jadi tempat saling berbagai cerita. Kami juga diberikan obat anti depresi selama empat bulan berturut-turut, jika perkembangannya bagus maka obat sudah bisa dikurangi sosisnya. Kalau tidak ...." Nevan menoleh pada Gantari, lalu melanjutkan, "Harus dirawat. Dan waktu itu Ang harus dirawat."


Ketika membalas tatapan Nevan barusan, Gantari dapat merasakan gelapnya masa itu dan dirinyalah yang menjadi penyebab Nevan mengalaminya.


"Dan Ang membenciku karena merasa aku meninggalkannya," tutup Nevan.


Kalau saja tidak ada Fikri, Gantari pasti sudah menghambur memeluk erat Nevan. Dia melewatkan cerita pahit ini. Dia membiarkan Nevan melewatinya sendiri.


"Dunia ini sempit, kan, Dihyan?" Nevan menoleh lagi. Menghujam manik mata cokelat madu milik Gantari dengan manik hitam pekat miliknya.


"Sialnya setelah beberapa lama aku justru direkrut bekerja di perusahaan keluarga Angkasa dan mengantikan posisi Ang, sehingga dia di depak." Nevan menghela napasnya dalam. "Dua kali, dia merasa aku membuangnya," lanjut Nevan miris.


"Tapi bertemu denganmu lagi adalah hal yang aku syukuri, Dihyan," ucap Nevan sungguh-sungguh, lalu pelan-pelan menarik Gantari ke dalam pelukannya. Mendekapnya hangat.


Fikri gelagapan. Dia belum siap melihat adegan itu.


"Gimana nggak didepak? Buat onar mulu. Bapaknya juga ogah kali punya anak kayak dia," cetus Fikri tiba-tiba.


Mendengar ocehan Fikri tersebut membuat mereka melepaskan pelukan, lantas Nevan tersenyum miring. "Lo belain gue?"


"Kagak! Udah ahh gue males liat kalian mesraan mulu." Fikri bangkit, lalu melangkah cepat menuju pintu keluar.


"Eh! Seblak Teteh lo gimana tuh?" teriak Nevan.


"Buat lo. Seblak Teteh, kan, langganan Lo," balas Fikri sedikit berteriak, tanpa berniat menoleh dan menghentikan langkah.


Fikri justru semakin cepat melangkahkan kakinya ke luar rumah sambil terkekeh puas karena sudah berhasil memercikkan api.


Nevan meneguk ludahnya berat. Pelan-pelan ia menoleh pada Gantari yang pastinya sudah mendelik tajam padanya.


Fikri keriting sial, rutuk Nevan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2