
Lama tidak terdengar kabarnya, hari ini Gantari diminta datang oleh Darya Ardiwinata, sang kakek. Sejujurnya, Gantari masih merasa kurang nyaman untuk kembali ke rumah itu walau hanya sekadar berkunjung, jadi diputuskan mereka akan bertemu di Restoran Bumbu Moyang.
"Tempat ini dulu selalu jadi pilihan Ardi untuk menghabiskan waktu bersama keluarga," mulai Darya. Setiap kali ke sini, dia pasti menyisir setiap detail restoran dengan pandangan dalam, seperti sedang mencoba bernostalgia.
Gantari hanya mengangguk singkat. Meski terakhir kali, dia bilang sudah memaafkan sang kakek, tapi faktanya ia masih merasa canggung. Tidak mudah memang mengubah sikap secepat itu.
"Kakek sehat?" tanya Gantari. Dia mendongak dan menatap sang kakek dengan pandangan hangat untuk kali pertama.
Meski tidak mudah mengubah sikap, tapi bukan berarti tidak bisa, kan? Semua harus diusahakan.
Darya tampak terperangah, lalu sebuah senyum terulas di bibirnya.
"Belakangan ini, aku jadi mulai sering sakit-sakitan," balas Darya.
Gantari merasa dirinya sedang ditampar. Dia malu karena semenjak kepergian dirinya dari kediaman Ardiwinata, tidak sekali pun ia menanyakan kabar. Ia menunduk lagi, kali ini sembari meremas jemarinya.
"Ada yang ingin aku tanyakan, semoga ini tidak menyinggung kakek," katanya ragu.
"Katakan."
Gantari memberanikan diri untuk menatap Darya lagi. Ada hal yang masih mengusik hatinya, hingga saat ini. Sesuatu yang ia dengar langsung dari Darya. Biarlah kalau pun jawabannya pahit, Gantari akan tetap menerima.
"Seminggu sebelum Ayah meninggal, dia datang menemui kakek, kan?"
Darya tampak terkejut, namun kemudian mengangguk membenarkan.
"Apa yang ayahku minta pada kakek waktu itu?" tanya Gantari lagi. Suaranya mulai terdengar bergetar ketika menanyakan pertanyaan tersebut.
Sedangkan, tatapan Darya langsung berubah sendu. Ia ingat sekali dengan hari itu. Hari di mana untuk pertama kalinya Awan datang menemuinya di rumah setelah menikahi Bulan.
Wajah tua Darya tampak begitu hanyut dalam kesedihan, namun ada secercah kehangatan yang terpancar dari sorot matanya.
__ADS_1
"Awan datang untuk meminta maaf padaku," jawab Darya akhirnya. Ia tampak menghela napasnya dalam. Mencoba menguatkan hatinya sejenak, lantas senyum pahit terulas dari bibirnya.
"Dan ... Dia bilang, dia sangat menyayangiku."
Mendengar ucapan Darya tersebut membuat pupil mata Gantari melebar. Jawaban ini sama sekali tidak pernah terpikir olehnya.
"A... Ayah tidak datang untuk meminjam uang?" tanya Gantari mencoba memastikan. Nada getir terdengar jelas dari putri semata wayang Irawan Ardiwinata itu.
Darya menggeleng. "Aku bahkan tidak tau, kalau Awan sakit dan kesulitan uang. Itu yang membuatku merasa gagal menjadi seorang ayah," balas Darya dengan bibir bergetar. Air tipis bahkan sudah membasahi bola mata tuanya.
Dia membuang pandang, lalu menghela napasnya dalam sekali lagi karena dadanya terasa begitu sesak.
"Itu sebabnya aku merebutmu. Aku ingin menebus dosaku pada Awan dengan memberikan kehidupan yang layak padamu," lanjut Darya susah payah.
Gantari terhenyak. Ia masih menatap lekat sang kakek. Pikirannya melayang pada masa remajanya di rumah sakit. Di sana Awan tengah terbaring di ranjang rumah sakit dan dokter mengabarkan jika ayahnya itu harus secepatnya dioperasi. Namun, kendalanya mereka tidak memiliki uang.
"Kita pulang aja. Ayah, ingin bertemu dengan kakekmu," ucap Awan kala itu.
Pundak Gantari bergetar, lalu ia menundukkan kepalanya dan sebuah tangis pecah di sana, di depan kakek yang ia benci dengan alasan yang salah. Di depan ayah kesayangan Awan, ayahnya.
Benar kata ibunya, Bulan, semua harus dilihat dari sudut pandang lain.
"Gantari?" Darya menatap cucunya khawatir. Dia ingin beranjak dan menepuk pundak Gantari, namun ia takut mendapat penolakan.
"Kakek?" Gantari mendongak, menatap Darya dengan wajah basah.
"Boleh aku memeluk kakek sekarang?" katanya bergetar.
Setetes air mata akhirnya lolos dan mengalir di pipi keriput Darya. Mendadak beban besar di hatinya terangkat. Dia mengangguk, lantas tersenyum lega menatap Gantari dan dengan bibir bergetar menjawab,
"Selalu."
__ADS_1
Tangis Gantari pecah lagi, dia berdiri dan berjalan cepat menuju tempat Darya duduk, lalu memeluk kakeknya itu erat sembari menggumamkan kata maaf berkali-kali.
***
"Kamu dari mana saja?"
Gantari yang baru saja tiba di kantor langsung terlonjak kaget oleh sambutan tak terduga Angkasa tersebut. Ia bahkan memegangi dadanya dan mendelik sebal pada Angkasa.
Masalahnya, bosnya itu keluar dari balik pintu lobi, konyol sekali.
"Dari mana?" ulang Angkasa karena tidak mendapat jawaban Gantari.
"Apa ada masalah, Pak?" tanya Gantari sedikit khawatir.
Angkasa tersenyum kecil, lalu menggeleng.
Astaga! Kenapa Bosnya ini makin aneh saja?
Angkasa memandang Gantari lama sekali, lalu senyum lebar terbit dari bibirnya. Sebuah senyum yang tidak pernah diberikan Angkasa pada siapapun membuat Gantari heran setengah mati.
"Gantari," ucap Angkasa masih sumringah. "Kita memang tender," lanjutnya, kemudian tersenyum lebar lagi. Raut bahagia begitu terlihat jelas di wajah Angkasa.
Mata Gantari langsung melebar mendengar kabar yang disampaikan Angkasa barusan. Ia bahkan menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Ia terkejut dan sama sekali tidak menyangka mendengar kabar sebaik itu.
"Beneran, Pak Asa?"
Angkasa mengangguk. Sorot matanya selalu berubah hangat setiap kali ia mendengar Gantari memanggilnya dengan sebutan itu.
Melihat anggukan Angkasa tersebut sontak saja membuat Gantari melonjak bahagia. Senyum lebar dan lega ikut terbit dari sana. Ia bahkan memekikkan kata syukur berkali-kali.
Namun, ungkapan kebahagiaan dan senyum Gantari itu segera menghilang ketika tiba-tiba Angkasa ... memeluknya.
__ADS_1