Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Seratus Tujuh


__ADS_3

"Ardi, panggil Dokter!"


Ardiman dengan tergopoh mendekati Handoko yang sedang berteriak panik. Sekilas ia melihat Gantari sudah mulai berusaha membuka mata, lantas dengan cepat Ardiman menekan tombol pemanggil di sisi tempat tidur Gantari.


"Dihyan sadar," lapor Handoko antusias.


Ardiman ikut mengembuskan napas lega. Ia mendekati Gantari dan mengecup singkat kening sang keponakan yang masih tampak lemah. "Alhamdulillah, kamu sadar, Gantari."


"Dihyan, kamu sudah sadar, Sayang?" Handoko bertubi-tubi menciumi punggung tangan Gantari. Laki-laki 60 tahunan itu memang begitu menyayangi cucunya tersebut.


Berbeda dengan Nevan, meski ia ikut berdiri, namun Nevan hanya memilih tetap berada di depan pintu saja. Memperhatikan kepanikan dua orang laki-laki di dalam sana, lantas senyum tipis terukir di bibirnya ketika mendengar kabar Gantari telah sadar.


Nevan membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh. Janji-Nya sudah ditepati, sekarang saatnya Nevan yang harus menepati janji.


Dua orang perawat dengan siaga berlari menuju ke ruangan Gantari dan berselisih jalan dengan Nevan yang melangkah pergi semakin jauh.


"Dion ... mana?" tanya Gantari lemah.


Ardiman menoleh ke belakang dan tidak menemukan keberadaan Nevan. Dia sempat tercenung, namun kemudian buru-buru menatap Gantari lagi. "Lagi manggil Dokter."


Beruntung dua perawat tadi masuk dan memeriksa kondisi Gantari. Ardiman dan Handoko diminta menunggu di luar dan hal ini dimanfaatkan keduanya untuk menyebarkan kabar jika Gantari telah siuman.


Kabar baik itu disambut dengan suka cita. Darya dan Shanessa bahkan tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk datang kembali ke rumah sakit, meski matahari sudah mulai tenggelam.


Darya menghampiri sang cucu dan berkali-kali melontarkan ucapan syukur. Dia benar-benar merasa berhutang banyak pada Tuhan untuk keselamatan Gantari. Mengingat kondisi Gantari dua hari yang lalu, masih sanggup membuat kaki renta Darya menggigil.


Shanessa juga tak kalah bahagia. Dia juga sama takutnya kehilangan Gantari, maka dengan pelan ia memeluk Gantari. Menumpahkan segala kerisaunya.


Meski merasakan hampir di sekujur tubuhnya kaku, Gantari merasa bahagia mendapat perlakuan seperti itu. Diam-diam ia bersyukur karena di kelilingi oleh orang-orang yang begitu tulus sayang padanya.


Tapi ... di mana Nevan?


Gantari mulai mengedarkan pandangan, namun tidak juga menemukan sosok pemuda itu. Dia ingin sekali menanyakannya, tapi menyadari keberadaan Shanessa di sana, membuat Gantari mengurungkan niat.


Gantari merasakan kantuk mulai menyerang, setelah seorang perawat menyuntikkan sesuatu ke dalam infus. Ia memilih menyerah dan tertidur lelap. Berharap esoknya bisa bertemu dengan Nevan.


...****************...

__ADS_1


Rupanya benar, waktu akan memberi tahu siapa saja orang yang benar-benar peduli disaat kita dalam keadaan terburuk. Seperti Gantari yang tidak ada hentinya tersenyum melihat Bu Fatimah yang dari tadi mengoceh saja karena baru diberi tahu kabar kecelakaan Gantari pagi ini.


Anwar bahkan sampai memasang tampang tak enak pada Sang Dokter karena orang tua tunggalnya itu tidak berhenti bicara sejak kedatangan mereka.


"Mak, kita pulang aja, yuk. Kak Dee butuh istirahat."


Fatimah menoleh tak terima. "Emang kita ganggu?" sungutnya.


Gantari tergelak lagi. Syukurlah pagi ini dia sudah berhasil duduk, jadi tidak perlu berbaring seharian.


Darya datang lagi. Wajahnya tampak begitu cerah. Ia menyapa Fatimah dan Anwar dengan ramah, baru kemudian menanyakan kabar Gantari.


"Kata Dokter besok pagi udah boleh pulang kalau perkembangannya bagus," jelas Fathimah tanpa diminta dan lagi-lagi Anwar menepuk keningnya sendiri.


Darya mengangguk, lantas mengusap hati-hati kepala Gantari.


"Kamu pulang, ya. Di rumah banyak yang akan menjaga."


Gantari tampak ragu. Ia paham betul pulang yang dimaksud sang kakek.


Fatimah mengangguk kuat, namun kemudian wajahnya berubah serius ketika mengingat sesuatu.


"Neng, kata Anwar Neng sengaja ditabrak, ya?"


Gantari tampak berpikir, lalu mengangguk pelan. "Mungkin."


"Kalau gitu, mending Neng pulang sama Kakek. Kalau cuma ngerawat doang Ibu bisa, tapi buat keselamatan Neng, kayaknya ikut sama Kakek lebih aman."


Kali ini Darya yang mengangguk. "Itu maksud Kakek. Sampai semuanya aman, kamu pulang dulu."


Gantari kembali bimbang. Ia menoleh ke arah pintu, namun entah mengapa Nevan tak juga kunjung datang.


...****************...


Ada apa ini? Kenapa meski sudah berangsur pulih, namun Gantari justru merasa tersiksa. Nevan hilang darinya.


Berkali-kali Gantari mengintip lewat jendela, berharap Nevan segera datang menemuinya. Terkaan-terkaan ringan, hingga berat menggelayut di pikiran Gantari semenjak ia sadarkan diri.

__ADS_1


Hari ini hari pertama kepulangannya dari Rumah Sakit dan akhirnya ia memutuskan untuk sementara kembali ke kediaman keluarga Ardiwinata. Gantari sudah mencoba menghubungi dan mengirim pesan pada Nevan, namun semua usahanya itu gagal. Nevan benar-benar menghilang.


Gantari ingat, jika kabar yang berembus adalah dirinya korban percobaan pembunuhan berencana dan Gantari khawatir kalau sampai Nevan berbuat nekad.


Shanessa datang, setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Kemudian, gadis manis itu masuk dengan nampan berisi segelas air mineral di tangan.


"Minum obat dulu."


Gantari tersenyum, lantas memilih duduk di tepi ranjang, setelah tadi lagi-lagi ia mengintip jendela.


"Aku bisa sendiri," balas Gantari. Ia menatap sang sepupu hangat. Rasanya sudah cukup lama mereka tidak mengobrol.


"Nggak apa-apa. Selagi aku nganggur," canda Shanessa.


Gantari mengulas senyum lagi. "Gimana pekerjaanmu?"


Shanessa mengentikan pergerakan tangannya yang sedang membukakan obat untuk Gantari, lalu tersenyum malu-malu.


"Lancar," jawabannya tersipu.


Gantari menautkan kedua alisnya, lalu mulai mencurigai sesuatu. "Nggak ada yang terjadi antara kamu dan ... Angkasa, kan?"


Shanessa terbelalak, namun kemudian kembali tersipu. Wajahnya bahkan memerah tomat, membuat Gantari mendesah tak percaya.


...****************...


Edo melangkah menaiki undakan tangga, hingga ke lantai dua. Ia berhenti tepat di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. Perlahan, Edo membuka pintu tersebut dan ruangan gelap langsung tertangkap oleh netranya, meski hari telah siang.


Edo melanjutkan langkah. Ia memasuki ruangan tersebut hati-hati dan langsung menuju jendela, lantas menyingkap gorden dengan sekali sentakan.


Seorang pemuda yang sedang bergelung di atas sofa tampak terganggu, namun ia tetap terlihat enggan membuka mata.


"Pelakunya sudah diamankan dan dalangnya juga sudah ditemukan." Edo berdiri dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku, menghadap pemuda kusut tersebut, Nevandra Ardiona.


"Mau loe biarin sesuai prosedur hukum atau ...."


Nevan akhirnya membuka mata. "Gue mau ketemu mereka dulu."

__ADS_1


__ADS_2