
Nevan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ballroom hotel. Memperhatikan orang-orang yang sedang tertawa basa-basi dengan barang-barang hedon yang sengaja mereka pamerkan.
Sejujurnya, Nevan tidak terlalu suka berada di sana kalau saja bukan karena alasan relasi. Memang beginilah bisnis. Harus rajin-rajin promosi dan cari muka.
"Nggak ada kopi di sini."
Nevan menoleh dan melirik tak suka pada Fikri yang selalu dibawa-bawa olehnya. Bahkan, untuk pergi ke acara tunangan relasinya saja, Nevan harus mengajak Fikri. Seperti jomblo saja.
"Gue mau keliling nyari makan dulu. Kalau nempel-nempel sama loe mulu, gue takut cewek-cewek ogah sama gue," jelas Fikri santai, lantas melenggang pergi begitu saja.
Suasana hati Fikri dari awal memang sedang tidak baik. Apa lagi alasannya kalau bukan karena waktu menonton animenya diganggu oleh titah sang atasan arogan bernama Nevan.
Nevan memandang kepergian Fikri, lalu mendengkus. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu.
Kemudian, Nevan kembali mengedarkan pandangan. Saatnya mencari incaran untuk digaet menjadi relasi, namun pandangannya terhenti pada seorang wanita. Seorang wanita yang mengenakan gaun berwarna hitam sebatas lutut dengan bagian pundak yang terbuka.
Nevan masih menatap wanita itu ketika akhirnya pandangan mereka bertemu. Tak lama, karena si wanita memilih memutuskan kontak mata mereka dan kembali memandang lawan bicaranya sambil cekikikan.
Nevan mendengkus kesal. Ia tidak habis pikir pada Gantari yang tampak seolah tidak menyadari keberadaannya dan justru memilih tertawa-tawa dengan banyak laki-laki.
Dari pada semakin kesal, Nevan memutuskan untuk melanjutkan rencananya. Ia menemui yang punya hajat terlebih dahulu untuk mengucapkan selamat, baru kemudian mencari target.
Ketemu!
Lagi-lagi ada Gantari di sana. Nevan mengalihkan pandangannya sebentar, lalu menatap wanita itu lagi. Tidak berubah. Wajah wanita itu masih seperti Gantari. Sesaat tadi, Nevan sempat curiga jika dia sedang berhalusinasi. Mana mungkin, kan, Gantari ada di sini?
Ketimbang pusing memikirkan hal yang tidak-tidak, akhirnya Nevan mencoba mencari sesuatu yang bisa diminum. Rupanya ada booth penyajian kopi yang disediakan pihak hotel. Sontak saja senyum Nevan mengembang.
__ADS_1
Selagi menunggu kopinya diracik, Nevan mengedarkan pandang mencari keberadaan Fikri sekadar untuk menyombongkan diri karena telah menemukan kopi. Namun, Nevan tetap tidak menemukan keberadaan karyawan tengilnya itu.
Kopi sudah selesai diracik dan Nevan akan meraihnya, namun seseorang menyerobot antrian dan mengambil kopinya begitu saja.
"Aku ambil ini. Kamu pesan aja lagi."
Nevan menoleh dan menatap Gantari lama. Dia memang tidak salah lihat, kan? Karena suaranya juga suara milik Gantari, tapi kenapa wanita yang baru seminggu lalu kecelakaan ini ada di sini?
Gantari balas menatap Nevan dengan pandangan polos, lantas menyeruput kopinya. "Kenapa?"
"Jangan karena kita tinggal di Indonesia, kamu seenaknya menyerobot antrian, ya, Gantari."
Gantari lagi?
"Kenapa nggak sekalian manggil aku 'Mbak Gantari' kayak Pak Sarif?"
"Ngapain kamu di sini?"
"Nggak usah kepo, nanti jadi sayang."
Astaga!
Mau tidak mau Nevan tertawa hambar, lalu meminta kopi untuk kedua kalinya. Dia mencoba untuk menghiraukan keberadaan Gantari, namun pundak Gantari yang terbuka sungguh mengganggu dirinya.
"Kamu ngikutin aku?"
"Kebetulan."
__ADS_1
"Nggak ada kebetulan di dunia ini, Gantari."
"Ini buktinya ada."
Nevan mendengkus. Sudahlah, berdebat dengan Gantari juga tidak akan menang, tapi pundak Gantari benar-benar membuatnya kepanasan. Nevan mengedarkan pandangannya sejenak, lalu membuka jas dan menyampirkannya ke pundak Gantari, hingga membuat Gantari melotot kaget.
"Kamu nggak takut masuk angin?"
Gantari meletakkan kopinya dan dengan santai melepaskan jas Nevan dari pundaknya. "Enggak. Aku suka ada angin-anginnya."
Astagfirullah! Nevan mengucapkan istighfar dalam hati. Sejak kapan Gantari suka dengan yang ada angin-anginnya?
"Ambil lagi." Gantari menyodorkan jas tersebut pada Nevan dan mau tidak mau Nevan meraihnya juga. Gantari tersenyum penuh kemenangan dan akan mengambil kopinya lagi ketika tiba-tiba Nevan membungkuk dan mengikat jasnya ke pinggang Gantari.
"Rokmu itu juga kependekan, Dihyan!"
Memandang Nevan dari jarak sedekat ini setelah sekian lama, membuat hati Gantari teriris. Laki-laki tercintanya itu memang terlihat agak kurus. Bahkan, wajahnya Nevan juga berubah lebih tirus.
"Dion, kamu harus makan teratur."
Nevan yang sedang mengikat jasnya di pinggang Gantari seolah tersadar. Ia menegakkan tubuhnya, lantas mundur selangkah. Menatap Gantari serba salah.
"Kalau kamu kurus, nanti nggak ada perempuan yang suka, kecuali ... aku."
...****************...
Jika : Kasian kolom komentar kebanjiran air mata mulu. Kasih yang manis sikit ahh 🤣
__ADS_1