
Dalam perjalanan ke kantor, seperti biasa Gantari mendengarkan lagu-lagu lama kesukaan Pak Sarif. Awalnya Pak Sarif merasa segan dan berniat menggantinya dengan lagu kekinian, namun Gantari melarang. Ia mulai menyukai lagu-lagu lama tersebut.
"Non?"
Gantari menoleh. Mengubah arah pandangnya yang sedari tadi memperhatikan gedung-gedung tinggi ke arah Pak Sarif.
"Hari ini Non mau di antar ke rumah sakit nggak?" tanya Pak Sarif hati-hati. "Selagi Tuan Darya keluar negeri."
Gantari tersenyum. Kakeknya itu memang sedang pergi ke luar negeri, namun matanya banyak disini. Meski sangat ingin, namun ia tidak ingin menciptakan masalah untuk sopir kesayangannya.
"Nggak usah, Pak," jawabnya masih tersenyum.
Pak Sarif balas tersenyum. Terkadang ia merasa iba dengan Nona mudanya, untuk bertemu ibu kandungnya sendiri saja harus menunggu hari Minggu.
Pembicaraan terhenti karena ponsel Gantari berdering, dan menampilkan nomor tidak dikenal terpampang di layar. Ia tidak langsung menjawab, dan menatap cukup lama deretan angka tersebut, nomor tidak dikenal, namun tidak asing untuknya.
"Hallo?"
"Halo, Dihyan."
***
Pak Sarif memilih duduk di kursi Kang siomay, selagi menunggu Gantari berbicara dengan seseorang di dalam kafe.
Gantari duduk dengan menatap lurus pada lawan bicara yang dari tadi diam saja. Mengajak bertemu, namun belum ada yang disampaikan sejak tadi. Gantari pun tak memiliki niat untuk bertanya.
"Dihyan?" akhirnya Tiwi bersuara. Dia yang sedari tadi menunduk, akhirnya mengangkat kepala.
"Apa benar ...." diam sejenak akhirnya ibu Nevan itu melanjutkan, "Kamu anak Irawan?"
__ADS_1
Gantari tidak bereaksi. Dia diam saja mengamati. Menikmati setiap gerak tubuh serba salah Tiwi.
"Jawab! Apa benar kamu anak Irawan Ardiwinata?" desak Tiwi frustrasi.
Gantari tak menjawab lagi. Ia hanya bergumam mengiyakan.
Meski hanya membalas dengan gumaman, namun hal itu mampu membuat Tiwi tersiak. Cukup lama baginya untuk menenangkan diri. Kemudian kembali berucap.
"Maaf," terisak lagi. "Maaf atas semua yang sudah kuperbuat padamu, Dihyan."
Gantari tergelak. Ia tidak menyangka mendapatkan ucapan permintaan maaf pagi-pagi begi.
"Mungkin setelah ibuku sadar, aku baru bisa memaafkanmu."
Tiwi mendongak. Ia tidak mengerti dengan ucapan Gantari barusan, namun Gantari sudah lebih dulu berdiri dan meninggalkan Tiwi tanpa memberinya kesempatan untuk bertanya.
"Dihyan!"
Gantari menoleh dan mendapati Lena, teman masa SMA.
"Lo beneran Dihyan, kan?" tanyanya sumringah.
Gantari mengangguk, kemudian mengiyakan. Lena memeluknya sebentar, lantas dengan ceria bercerita dan bertanya ini itu.
"Bagi WA lo, dong." Lena langsung mengeluarkan ponselnya bersiap mengetik nomor Gantari. "Kita kan mau reuni. Nanti lo, gue masuki grup."
Gantari meringis mendengarkan penjabaran Lena barusan, namun ia tetap mendiktekan nomor ponselnya, kemudian pamit untuk pergi lebih dulu.
Baru saja mobil dipacu oleh Pak Sarif, ponsel Gantari berdenting. Ia memeriksa ponselnya, dan menemukan pemberitahuan disana.
__ADS_1
*Lena Maharani menambahkan Anda
Nevandra Ardiona keluar
Anda keluar*
***
"Hai, Nevan."
"Mulai, lagi." Nevan langsung melotot ketika Gantari lagi-lagi menyapanya yang dibalas Gantari dengan cibiran.
Shanessa melihat mereka dengan pandangan geli. Kemudian lanjut membuat sketsa sebuah baju.
"Tar, nanti malam kami mau nonton. Ikut, yuk," ajak Shanessa ketika teringat rencananya nanti malam.
Nevan menoleh cepat, memasang ekspresi tak nyaman. Begitu juga, Gantari. Ia menoleh dengan ekspresi ngeri. "Sejak kapan aku suka nonton?"
"Kalau ngajak Gantari itu, ke taman bermain. Nah, itu baru dia suka," Ardi yang muncul dari dalam rumah ikut menimpali. Kemudian ia duduk di kursi teras dengan secangkir kopi Aceh.
Gantari menoleh pada pamannya kemudian cekikikan. "Lebih seru. Lebih hidup," tambahnya kemudian yang disambut cibiran Shanessa.
"Kopi yang Om bawa kok nggak habis-habis, Tar? Berkurang aja, enggak."
Belum sempat Gantari menjawab, Shanessa sudah keburu menyambar.
"Gantari lagi nyoba rasa lain katanya, Pa," lalu melanjutkan, "Nggak suka kopi hitam lagi."
Nevan melirik Gantari, sedangkan yang dilirik cuma diam mematung. Andai ini grup chat dia pasti sudah keluar grup.
__ADS_1