Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Enam Puluh Delapan


__ADS_3

Ketika pulang dari Rawikara Retail, Gantari tidak lagi ingat dengan pesan Nevan yang melarangnya kebut-kebutan. Lagi pula dia punya SIM dan tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas, terlebih hatinya memang sedang kesal. Jadi, ya bodo amat.


Jangan ditiru, permisa.


Selesai membicarakan bisnis dengan Bu Wilona, Nevan memeriksa ponselnya dan menemukan nama Gantari di daftar panggilan tak terjawab. Sontak, senyumnya terkembang begitu saja.


"Harus gitu amat, ya, jatuh cinta," cibir Fikri dengan dengkusan malas.


Nevan tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas, lantas mengirim pesan pada Gantari.


Nevandra Ardiona


Kamu tadi nelpon? Aku lagi rapat.


12.13 WIB Read


Gantari Dihyan Irawan


Iya, tau.


12.14 WIB Read


Nevandra Ardiona


Nanti malam aku ke rumah, ya. Kangen.


12 15 WIB Read


Uwo! Baru kali ini Gantari begitu bahagia mendengar kata rindu dari Nevan. Dia sampai senyum-senyum tidak jelas.


Aku juga kangen.


Gantari ingin sekali membalas seperti itu karena ia juga merasakan hatinya tergelitik dan itu menyenangkan sekali, namun dia tetap harus tampak tenang ketika membalas pesan dari Nevan.


Itu taktiknya.


Gantari Dihyan Irawan


Ok


12.16 WIB Read


Tak lama, masuk pesan kedua dari Gantari, hingga Nevan tidak jadi memasukkan ponselnya ke dalam saku.


Gantari Dihyan Irawan


Mau dimasakkan apa?


12.16 WIB Read


Astaga.


Nevan sampai membelalakkan matanya, lalu tertawa kecil, membuat Fikri yang sudah berdiri menenteng tas laptop bergidik ngeri.


Nevandra Ardiona


Mie instan, boleh juga.


12.17 WIB Read


***


Utami kembali lagi ke kantor. Ia menolak pulang dan beristirahat.


"Loh, Ut. Loe udah janji sama gue bakalan pulang buat istirahat," sambut Irfan dengan protes tajam.


"Demam, doang, Fan. Sekarang udah mendingan, kok," balas Utami tersenyum manis. Ia membuka jaket parasut Irfan dan mengucapkan terima kasih sembari mengembalikan jaket pinjaman tersebut.


Irfan masih tidak terima, namun diterimanya juga jaket tersebut. Dia bangkit dan langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Utami.


"Udah turun, kan? Tadi aku udah minum obat."


Irfan menghela napas pelan dan memilih mengalah. "Kalau nggak tahan, nggak usah dipaksa, ya. Ntar gue antar pulang."

__ADS_1


"Oke, sip. Makasih, Abang."


Elma yang melihat adegan aneh itu hanya menautkan alisnya saja. Untung perutnya sudah kenyang oleh cumi asam manis buatan Gantari, jadi jiwa bar-barnya agak terkendali.


Nevan dan Fikri datang dan masuk dengan langkah lebar. Pandangan mereka sama-sama tertuju pada Utami yang kabarnya tadi pagi sakit.


"Loh, kok loe masih di sini?" Fikri ambil suara terlebih dahulu, membuat Nevan menoleh padanya lantas menjaga jarak.


Teringat dengan gosip mengguncang mental yang didengarnya tadi pagi.


Amit-amit, amit-amit.


Utami tidak menjawab pertanyaan Fikri dan justru cengengesan menatap Nevan.


"Selamat siang, Pak Nevan."


Nevan yang sedang kurang fokus, kembali menatap sekretaris yang berpikir macam-macam padanya itu.


"Ah, iya. Selamat siang, Utami. Gimana keadaanmu?"


Utami tersenyum lagi, nyaris tersipu. "Sudah jauh lebih baik, Pak."


Fikri yang melihat reaksi Utami jadi jijik sendiri. Kenapa orang-orang sekitarnya jadi aneh begini?


"Syukurlah," jawab Nevan singkat. Ia membenarkan jasnya sekilas, lantas hendak kembali melanjutkan langkah, namun Utami kembali bersuara.


"Um, Pak Nevan!"


Nevan dan Fikri tak jadi melangkah dan kompak menatap Utami lagi.


"Selamat, ya Pak. Saya dengar, Bapak punya hubungan serius dengan Gantari," ucap Utami, lalu menundukkan kepalanya ketika melanjutkan, "Meski saya patah hati karena telah kehilangan cinta pertama saya, tapi kabar itu jauh lebih baik ketimbang kabar bapak bengkok."


UHUK!


Nevan, Fikri, Irfan, dan Elma, kompak batuk dan melotot tidak percaya ke arah Utami.


Fikri terbahak puas di dalam ruangan Nevan usai pengakuan Utami barusan. Saking, susahnya berhenti tertawa sampai-sampai Nevan memukulnya dengan berkas yang digulung.


"HAHAHA, tapi ini lucu!"


Tawa terhenti setelah Nevan menyodorkan kertas kosong agar Fikri isi sendiri dengan surat pengunduran diri.


Beres!


"Oh, iya, Pak. Ada undangan makan malam dari Pak Huda," ucap Fikri dengan raut serius.


Gimana nggak serius coba kalau udah bawa-bawa surat pengunduran diri? Hih, banget itu Nevan.


"Makan malam? Bukannya kemarin udah deal?" Nevan yang sudah duduk di kursi kebangsaannya menatap Fikri dengan kening berkerut.


"Entahlah. Mungkin kali ini membawa misi satu lagi."


"Tolak," balas Nevan cepat, lantas ia tampak sibuk dengan laptopnya sendiri.


"Lah, mana bisa main tolak-tolak begitu, Pak. Selagi kontrak belum di tangan, kita belum aman."


Nevan mendengkus. Dia sedang menimbang keputusan terbaik. "Tapi nanti malam gue ada janji sama Dihyan."


Fikri mengangkat kedua bahunya. "Siapa suruh jadi CEO ganteng. Banyak yang nguber, kan?"


"Bener," jawab Nevan pasrah.


Dan, sebuah berkas langsung melayang begitu saja ke arah Nevan.


"Astagfirullah, Pak Nevan. Maaf!"


Fikri cari mati rupanya.


***


Gantari dari tadi bersenandung saja. Hatinya sedang cerah sejak kata rindu digaungkan Nevan. Usai salat Zuhur, dia putuskan untuk tidur siang biar nanti malam tidak mengantuk ketika mengobrol dengan Nevan.


Ahai, de!

__ADS_1


Bahkan, ketika Anwar mengantarkan sayur lodeh buatan Bu Fatimah, Gantari sambut dengan perasaan suka cita dan berbunga, serta tidak lupa dia memberikan sedikit uang untuk Anwar.


"Buat jajan," katanya.


Anwar yang menerimanya hanya bisa melongo saja.


***


Nevan dan Fikri kembali berjalan bersama bak anggota F4 di drama korea. Ganteng, tinggi, kaya, hidup pula.


Selagi menunggu Huda datang, Nevan menelpon Gantari minta pengertian.


Sedangkan, Gantari sedang sibuk menimbang harus masak mie instan merk dan rasa apa, serta masak sekarang atau nanti saja ketika ponselnya berdering dan memunculkan nama Nevan.


"Assalamualaikum."


Sebelum menjawab, Nevan mengulum senyum terlebih dahulu. Entah kenapa disapa oleh orang yang disayang selalu sebahagia ini.


"Wa'alaikumsalam."


"Udah dimana?"


Deg!


"Aku ngurus pekerjaan sebentar, ya. Selesai dari sini pasti langsung ke sana. Nggak akan lama, kok," yakin Nevan. Sebenarnya, dia was-was juga Gantari bakal kecewa.


Ya, jelas kecewa lah, Bambang.


Lihat saja, sekarang wajah sumringah nan merona milik Gantari sudah berubah menjadi muram.


"Oh, oke."


"Kamu marah?"


"Enggak. Lagian cuma mie instan doang."


Sambungan terputus setelah mengucapkan salam tanpa gelitik bahagia seperti tadi.


Nevan menggoyang-goyangkan kakinya, menunggu Huda yang tidak kunjung datang. Berkali-kali dia melihat jam tangannya tak sabaran.


"Yuk, cabut," ajak Nevan sembari berdiri, namun gerakannya terhenti ketika Huda menyapanya dari jauh.


"Maaf. Maaf sekali," ucap Huda tidak enak. Di belakangnya mengekor seorang gadis muda dengan menggunakan dress selutut berwarna hitam.


Nevan tidak menjawab, namun dia tetap tersenyum.


"Tidak masalah Pak, baru 15 menit, kok." Ya, Fikri yang menjawab permintaan maaf Huda barusan, hanya demi alasan mempertahankan relasi.


Itulah hebatnya Fikri, dia selau bisa menjadi jembatan panjang di arus deras seorang Nevan.


Nevan akhirnya menghela napas pelan. Bagaimana pun juga dia harus profesional, lalu dengan ramah mempersilakan Huda untuk duduk.


Membahas hal-hal bisnis sebentar, lalu berakhir dengan makan malam nonformal.


Ya, nonformal, karena yang dibahas adalah ....


"Oh, iya. Ini putri yang saya ceritakan kemarin."


Nevan tersenyum, lalu menggangguk sopan. Sekilas, ia melihat putri Huda itu tampak tak begitu bahagia meski bibirnya juga turut mengulas senyum.


"Namanya, Mariah."


"Cantik," gumam Nevan tanpa sadar.


***


Iklan.


Jika : Panjaaaaaaaaaaaanggggggg.


wkwkwkwk itu udah ya, yang request iklan panjang.


kabooooorrrr.

__ADS_1


__ADS_2