
Shanessa sudah menyiram tanamannya di Shopee, juga sudah beberapa kali memanen ladangnya di Township, tapi Gantari dan Nevan serta beberapa karyawan belum juga selesai rapat.
Ia mendengus, dan dengusannya mampu membuat Utami, sekretaris Nevan, datang menghampirinya.
"Nunggu di ruangan Pak Nevan saja, Bu," ucapnya ramah.
Shanessa membeliakkan matanya. "Jangan manggil ibu, dong," kekehnya.
Utami tersenyum maklum. "Kakak mau kopi? Biar saya buatkan," tawarnya kemudian.
"Nah! Kakak terdengar lebih oke," balas Shanessa ceria. "Masalah kopi kayaknya ide bagus juga, tapi aku buat sendiri saja, ya?" Shanessa langsung meluncur ke arah pantry setelah mengerling singkat pada si gadis rambut berpotongan bob tersebut.
Jemari Shanessa menyusuri deretan cangkir berwarna putih tulang yang berjejer di rak pantry dan pilihannya berhenti pada cangkir bercorak bunga-bunga. Kini giliran memilih kopi. Rupanya di pantry kantor Nevan tersedia beberapa pilihan kopi dan perhatian Shanessa tertuju cukup lama pada kopi berwana hitam pekat. Ia kemudian memutuskan menyeduh kopi hitam tersebut.
Sejujurnya ia tidak tau takaran perbandingan gula dan kopinya yang tepat, dan dia memutuskan untuk menggunakan instingnya saja ketimbang searching di laman pencarian dulu. Ia mengaduk kopinya, hingga menimbulkan suara dentingan. Aroma kopi menyeruak dan menusuk indra penciuman Shanessa. Tidak ada yang spesial, pikirnya.
Shanessa menyeruputnya sedikit demi sedikit dan wajahnya mendadak meringis. Kopi hitam memang tidak sesuai dengan lidahnya. Ia meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja dan suara riuh orang-orang di luar mulai menarik perhatiannya. Shanessa mengintip dan rupanya rapat sudah selesai.
Ia berjalan cepat melewati beberapa karyawan, kemudian mengendap-endap ingin mengejutkan Nevan. Namun pembicaraan dua orang karyawan berhasil mengusiknya.
"Gantari sama si bos klop banget, ya. Ide mereka nyambung terus nggak ada putusnya."
"Iya, nggak pernah gue ikut rapat seseru tadi," balas sang teman yang sama antusiasnya.
Shanessa mematung. Mendadak suasana hatinya memburuk. Ia pulang tanpa jadi menemui Nevan.
***
Gantari baru saja sampai di kubikelnya, ketika ponselnya berbunyi dan menunjukkan nama Farez di layar. Intensitas rapat memang sengaja Gantari tinggikan mengingat waktunya di perusahaan ini tidak lama lagi.
"Halo, Farez."
Beberapa karyawan tampak mulai kembali ke kubikel masing-masing dengan berkas di tangan sambil berbincang santai. Nevan yang juga akan kembali ke ruangannya sempat-sempatnya melirik Gantari sebentar.
"Dihyan, bisa ke rumah sakit sekarang?"
Gantari yang mendengarnya panik bukan main. " Ibu kenapa?"
Farez terkekeh pelan. Sepertinya dia salah memilih kata. Ia buru-buru menenangkan Gantari yang ketara sekali khawatir.
__ADS_1
"Nggak apa-apa," katanya ringan. "Tapi bisa nggak aku pakai salah duanya sekarang? Aku mau kamu ke rumah sakit saat ini," jelas Farez hati-hati.
Gantari mengernyitkan dahi. Sekarang masih jam kerja, pikirnya. Namun, kemudian ia menyanggupi karena tak biasanya Farez begini.
Setelah izin didapat dari Nevan, Gantari langsung menuju rumah sakit menggunakan taksi. Nevan hanya memandang kepergian Gantari dengan tatapan datar.
"Tidak akan menikah apanya?" Gumam Nevan sinis, lantas ia memijit pelipis. Kepalanya memang sudah sakit sejak pagi tadi.
***
Sesampainya di rumah sakit, Gantari disambut suster Irma dengan senyum lebar. "dr. Farez ada di kamar ibu," ujarnya sumringah.
Meski makin bingung, Gantari tetap melanjutkan langkah. Di lorong, dia bertemu lagi dengan suster Siska yang juga tersenyum manis padanya. Terlalu manis hingga membuat Gantari curiga.
Dia sudah berada di depan ruang inap dan membuka pintunya perlahan. Disana ada Farez lengkap dengan jas putihnya sedang berdiri sambil tersenyum menatap ibunya yang juga... menatapnya!
Gantari membelalakkan mata tak percaya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan berkali-kali menyebut nama Tuhan. Air matanya perlahan menetes dan dia langsung berlari menghambur memeluk sang ibu.
Tangis Gantari pecah, hingga membuat Farez meremang, namun senyum bahagia turut terbit dari sana. Berkali-kali Gantari mengucap syukur sembari mengecup bertubi-tubi wajah ibunya.
Ibu tersenyum lembut. "Apa kabar, Dihyan?" tanyanya lemah.
"Dihyan sehat, Bu," ucapnya sesegukan. "Ibu gimana?"
"Badan ibu pegel semua," balas ibu terbata-bata.
Farez menepuk pelan pundak Gantari, lalu meninggalkan ibu dan anak itu untuk melepas rindu. Sudah cukup lama Farez mengenal Gantari dan baru kali ini ini melihat wanita itu begitu bahagia. Diam-diam Farez ikut mengucap syukur.
Hingga sore Gantari belum juga kembali padahal sebentar lagi pak Sarif akan datang menjemput, membuat Nevan kesal sekaligus khawatir.
Bagaimana kalau ada adegan tampar- tamparan lagi, pikirnya.
Nevan menghampiri Pak Sarif dan mengajaknya berbincang. Mencoba mengulur waktu.
"Bapak nyari Gantari, ya?"
Pak Sarif tercengang dan dengan kikuk menjawab. "Iya, Mas. Seperti biasa."
"Kayaknya ban mobil bekalang kempes, deh, Pak."
__ADS_1
Pak Sarif menoleh pada ban yang dimaksud Nevan, lantas mengernyit.
"Tiap pagi dicek kok, Mas," jawabnya sopan.
Nevan tertawa hambar, kemudian mengangguk-angguk.
Ngobrol apa lagi, ya? Nevan berusaha keras memutar otaknya mencari topik.
Pak Sarif kan nggak pakai dasi, jadi mana mungkin bilang kalau dasinya miring, pikir Nevan.
Nasib baik, karena tak lama Gantari muncul dari dalam gedung kantor dengan tampang tak berdosa. Entah lewat mana masuknya tadi.
Nevan membalikkan badan dan mengomel tanpa suara, "Jangan libatkan aku dengan masalahmu."
Gantari mengangguk paham, kemudian pamit pulang, membuat Nevan semakin kesal saja. Bukan reaksi seperti itu yang dia mau.
Pak Sarif ikut pamit pada Nevan yang disambut Nevan dengan anggukan dan senyum paksa.
Esoknya, Gantari kembali minta izin untuk tidak bekerja dan akan kembali sore harinya seperti kemarin, membuat Nevan tertawa hambar.
Dia menjadikan aku alibi backstreet-nya? Sial.
Dengan ketus Nevan menanggapi, "Lakukan sesukamu."
Lagi-lagi Gantari tak peduli. Dia pergi setelah mengganguk tanpa ada beban. Meninggalkan Nevan yang hampir mati karena kesal.
Nevan mengembuskan napasnya kuat berulang-ulang, mencoba meminimalisir rasa kesalnya yang sudah sampai ubun-ubun. Ia bangkit dan membuka jendela berharap dapat menghirup udara segar untuk menenangkan dirinya.
"Aku dijadikan alibi backstreet?" ulangnya lagi masih tidak habis pikir. Dan dia kesal lagi.
"Aku mau makan saja," dengusnnya kemudian. Ia keluar ruangan dengan tampang kusut membuat karyawan tak berani menyapa.
"Lihat saja nanti. Aku nggak akan mau ngajak Pak Sarif ngobrol lagi," ocehnya sambil terus berjalan.
"Urus saja sendiri!"
Fikri yang baru datang langsung meneguk ludah. Dia belum menyampaikan kabar apapun, tapi Nevan rupanya sudah tahu dan tidak mau mengurusnya. Maka, Fikri memilih mundur teratur.
"Aku dijadikan alibi backstreet? Gila aja!" ucap Nevan pada dirinya sendiri lagi. Kemudian dia membanting pintu mobil dan meluncur membelah jalanan.
__ADS_1