Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Empat Puluh Satu


__ADS_3

"Kan udah kubilang, jangan kerja di sana!"


"Kamu nggak tau situasinya."


Kemudian, terdengar Nevan mengumpat, membuat Gantari jengkel dan meninggalkannya pergi begitu saja. Nevan menggeram sebentar, lantas langsung melompat keluar mobil dan mengejar Gantari.


Siang tadi tumben-tumbenannya Gantari menghubungi Nevan dan rupanya ia membawa kabar buruk ini.


Gantari diam adalah hal yang paling dihindari Nevan, maka ia mulai mencoba mencairkan ketegangan.


"Aku nggak mengumpat kamu, Dihyan," katanya sembari mengimbangi langkah.


Gantari masih diam.


"Maaf, ya."


"Aku bukan marah gara-gara itu, tapi karena kamu nganggap aku lemah."


"Kapan aku ngomong gitu?"


"Kamu takut aku diapa-apain si Angkasa. Berarti kamu nganggap aku lemah, kan?"


"Kamu nggak kenal Angkasa."


"Makanya ini mau kenalan."


"Dihyan!"


Gantari nyengir.


"Aku lapar. Kamu nggak mau neraktir aku?"


Fiuh! Lihat siapa sekarang yang dikit-dikit mikir makan?


***


Ini hari pertama Gantari bekerja di Angkasa Grup dan dari tadi ponselnya tidak ada hentinya menerima pesan kekhawatiran Nevan.


"Akhirnya, kamu datang juga."


Gantari tersenyum tipis. "Sebelum mulai, tentu saya harus tau dulu pendapatan perbulan saya, Pak."


"Gaji maksud kamu?" Angkasa tertawa keras. Ia tidak menyangka perempuan di hadapannya ini matrealistis juga.


"Saya buka materialistis, tapi realistis," tegas Gantari seakan paham dengan pikiran Angkasa.


Ok! Angkasa mengangguk maklum. "Sama seperti gaji kamu di Rawikara Retail," ujarnya.


Gantian Gantari yang tertawa hambar. Dia berdiri dan membuat Angkasa gelagapan. "Oke, dua kali lipat."


"Tiga kali lipat," putus Gantari.


Angkasa sontak melebarkan matanya tak percaya. "Kamu tau berapa gajimu di Rawikara? Tiga kali lipat itu berlebihan," protesnya.


Ini dia. Gantari memang mau ditolak.


"O, benar." Gantari memasang tampang berpikir, lalu melanjutkan, "Kalau begitu permisi."


"Ok! Tiga kali lipat."


Oh, sial!


Gantari membalikkan badannya dan langsung melihat Angkasa yang sedang tersenyum culas.


"Ok. Deal!" balas Gantari tak mau kalah.


Senyum Angkasa memudar. "Itu pemerasan namanya."

__ADS_1


Gantari mengangkat sebelah alisnya. Ada yang menarik dari sosok Angkasa.


"Tabunganku habis dan aku butuh uang banyak," ujar Gantari santai.


"Bukannya kamu cucu keluarga Ardiwinata? Kenapa bisa kehabisan uang?"


Gantari tidak menjawab. Ia hanya mengulum senyum.


Keluar dari ruangan Angkasa, Gantari berkeliling mencari kubikelnya. Beruntung, ia bertemu dengan Leo.


"Terima kasih banyak, Nona."


Gantari membalas ucapan Leo itu dengan tatapan datar.


"Kamu berhutang banyak padaku."


Leo menunduk sungkan. "Saya mengerti."


"Kamu harus segera membayarnya."


"Baik, Nona."


Gantari melenggang pergi, lagi-lagi dengan senyum terkulum.


"Sarang mafia apanya?" gumamnya sambil berlalu.


Ah! Ada satu masalah lagi yang harus diselesaikan, Nevan.


Gantari mengeluarkan ponsel dari sling bag yang dibawanya dan deretan pemberitahuan dengan nama Nevan langsung menghiasai layar ponselnya. Ia lebih memilih menyentuh icon panggil, ketimbang membalas pesan Nevan satu persatu.


Nevan baru saja akan mulai rapat dengan kepala masing-masing divisi ketika ponselnya berdering. Ia menerima panggilan Gantari dengan menggeser icon jawab dan meletakkan ponselnya ke telinga kanan tanpa bersuara.


Gantari mengernyit. Panggilan sudah terhubung, namun tidak ada suara sapaan dari seberang. Mungkin, signal.


"Halo?" Gantari berinisiatif memulai.


Duh! Ternyata Tuan Muda Nevandra Ardiona sedang ngambek.


"Hai! Dion."


Tak ada jawaban.


"Aku udah selamat sampai tujuan, ya, dan sekarang lagi jalan-jalan di koridor. Sebentar lagi mau makan."


"Hm."


"Udah dulu, ya, Sayang."


Bip!


Sambungan terputus. Menyisakan Nevan yang tertegun dan berakhir dengan senyum-senyum sendiri.


Fikri yang duduk di dekat Nevan menyadari itu, lantas memasang ekspresi jijik. Kemudian, ia meregangkan tangannya menunggu rapat di mulai karena sempat tertunda akibat si bos yang sedang kasmaran.


"Ah! Aku kangen Gantari," ucap Fikri tiba-tiba.


Plak!


Fikri melotot kaget karena pundaknya dipukul Nevan dengan berkas yang digulung. Namun, ia kembali melanjutkan.


"Sedang apa, ya, dia sekarang?"


Plak!


"Apa? Kenapa? Emangnya salah aku merindukan Gantari?"


Plak!

__ADS_1


Plak!


"Pak Nevan!" teriak Fikri habis kesabaran.


Karyawan lain sontak menatap heran ke arah mereka. Sedangkan, Utami sudah dari tadi memasang tampang jengah.


"Amit, amit," gumam Utami sembari menggeser kursinya menjauh.


***


"Nona Gantari?"


Gantari yang baru saja selesai sarapan di kantin kantor, menoleh dan mendapati Leo menyapanya.


"Ya?"


"Ditunggu Pak Angkasa di ruangan," katanya sopan.


Gantari tampak berpikir sebentar, lalu mengangguk. Ia kira, hari ini ia akan santai seharian. Fiuh!


"Bapak memanggil saya?"


"Oh!" Angkasa mengangkat telunjuknya ke udara entah apa maksudnya. "Gantari Dihyan Irawan, kemari."


Gantari mendengkus. Sampai kapan lah si gondrong ini akan berhenti memanggil nama lengkapnya?


Ngomong-ngomong, Gantari baru menyadari jika bos barunya ini memakai kalung berbentuk rantai yang cukup mencolok ukurannya. Membuat Gantari salah fokus saja.


"Kamu dengar?"


Gantari tersentak. "Apa?"


Angkasa melotot geram. Dia menggebrak meja dan menyuruh Gantari duduk.


Gantian Gantari yang melotot. "Kenapa bapak marah-marah? Lagi PMS?"


Mendengar ucapan Gantari barusan, sontak membuat Angkasa menjambak frustasi rambutnya sendiri.


Nah! Ini juga buat Gantari salah fokus karena kalau dilihat-lihat rambut Angkasa itu halus sekali. Ia sontak mengintip rambutnya sendiri.


Kalah jauh, pikirnya.


"Bapak pakai sampo apa?"


Brak!


Meja di gebrak kembali. Tak tanggung-tanggung, kali ini Gantari sampai terlonjak kaget.


"Sekali lagi Bapak mukul meja, saya angkut mejanya keluar!" sungut Gantari sambil memegang dada.


Angkasa akhirnya mengalah. Berulang kali ia tampak mengatur napas agar tenang. Kalau bukan karena ia terlanjur menanda tangani kontrak gaji tiga kali lipat, mungkin Angkasa sudah menyeret Gantari keluar.


Menunggu Angkasa tenang, akhirnya Gantari memilih duduk.


Setelah merasa sudah cukup terkendali, Angaksa kembali bersuara. "Ini tugas pertama kamu," katanya sembari menyodorkan sebuah berkas dengan map hijau.


"Menangkan tender ini bagaimana pun caranya," lanjut Angkasa tajam.


Gantari melirik berkas yang disodorkan Angkasa, lantas mengambil dan membukanya.


"Wow! Tender besar," gumam Gantari.


"Saingan kamu nggak terlalu berat, hanya kulit kuaci saja," ujar Angkasa lagi, lalu ia menyeringai dan melanjutkan, "Salah satunya, Nevandra Ardiona."


Gantari mendongak, lalu tertawa hambar.


Bukan memenangkan tender yang diinginkan Angkasa, tapi mengalahkan Nevan.

__ADS_1


Dasar mafia bocah!


__ADS_2