
"Terima kasih, Pak Asa."
Angkasa menoleh dan mendapati Gantari mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum.
Asa?
Asa?
Asa?
Setetes air mata Angkasa meluncur begitu saja, hingga membuat Angkasa bingung sendiri.
Angkasa melangkahkan lebar kakinya ke arah Gantari dan menarik tangannya menjauh dari sana.
"Bapak kenapa?" tanya Gantari terkejut sembari mencoba melepaskan tangan Angkasa.
Angkasa tidak menjawab. Dia terus menarik paksa Gantari, hingga mereka jauh dari keramaian.
"Kamu mengenalku?" tanya Angkasa tajam.
Gantari mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Kamu mengenalku sebelumnya, kan?"
"Enggak!" balas Gantari kesal. Ia menyentakkan tangannya, hingga cengkraman Angkasa terlepas.
Angkasa menghela napasnya dalam, lalu mengusap kasar wajahnya. Kemudian, ia membalikkan badan memunggungi Gantari. Raut wajahnya mendadak berubah getir.
Cara Gantari menyebutkan namanya, sama seperti cara Almarhumah ibunya memanggilnya dulu.
Asa.
Gantari masih tidak mengerti. Dengan kening berkerut, dia pergi meninggalkan Angkasa untuk kembali menuju rekan-rekannya.
Setelah kejadian tersebut, Angkasa tidak lagi terlihat. Bahkan, ketika penutupan acara, Angkasa juga tidak muncul.
"Ayo! Kita makan," ajak Leo antusias.
Rekan-rekan lain menyambutnya tak kalah antusias. Wajar saja, mereka sudah bekerja keras beberapa hari ini. Sampai tidak enak tidur, tidak enak mandi, dan tidak enak makan, katanya.
Gantari ikut antusias, namun tiba-tiba dia teringat sesuatu dan celingak-celinguk mencari keberadaan Angkasa.
"Pak Ang mana?"
Untung saja Fajar punya pikiran yang sama dengan Gantari.
Leo yang sedang tebar pesona lewat senyum menawan menoleh pada Fajar. "Pak Ang ada urusan, jadi nggak bisa ikut."
"Lah, terus yang bayar siapa, dong?" raut Wulan sudah khawatir saja.
"Uangnya udah sama aku. Tadi ditransfer Pak Ang," jawab Leo enteng.
Kemudian, sorakkan bahagia kembali terdengar.
"Ayo buruan! Nanti diusir guru kalau kita ribut di sini." Vivi terkikik, lalu menarik Wulan pergi duluan dari sana.
Itu adalah hari terakhir mereka masih bisa cekikikan karena setelahnya semua orang wajahnya berubah serius akibat tugas semakin berat. Hampir setiap hari mereka survei lapangan dan rapat menentukan strategi untuk memenangkan tender. Ini kali pertama Angkasa Grup mengikuti tender sebesar itu, jadi wajar saja jika mereka sedikit was-was.
Gantari melirik ponselnya dan tidak menemukan pemberitahuan apapun di sana. Seulas senyum terbit di bibirnya.
Sepertinya Nevan juga sedang sibuk.
__ADS_1
"Pak Ang kok nggak muncul-muncul, sih? Besok kan udah mulai perang," keluh Vivi.
Ucapan Vivi tersebut membuat Gantari mendongak. Benar juga, Angkasa tidak menampakkan batang hidungnya setelah kejadian melontarkan pertanyaan aneh padanya tempo hari.
"Leo, Bos loe mana?" desak Wulan.
Leo cuma bisa celingak-celinguk, lalu mengangkat bahu. Mana berani dia menelpon Angkasa menanyakan keberadaannya.
"E-hm!"
Suara dehaman keras itu sontak mengambil alih perhatian. Membuat jantung Wulan berdegup kencang dan tidak berani menoleh.
Tadi gue ngomong macam-macam nggak, ya? gumam Wulan sembari menutup kuat matanya.
"Gantari?"
Gantari mengangkat sebelah alisnya ketika justru namanya yang disebut. Sepertinya, tadi dia tidak ikut bergunjing.
"Ke ruangan saya sekarang."
Kok the javu?
Meski begitu Gantari tetap mengekor Angkasa menuju ruangannya. Beberapa laporan ia bawa karena Angkasa butuh tahu strategi besok.
"Kamu udah makan?"
Hah?
"Maaf, Pak?"
"Kamu udah makan, belum?" Angkasa melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu melanjutkan, "Ini udah siang, loh. Jangan kerja terus."
Gantari berdeham. Mencoba meluruskan situasi. Ia menyerahkan beberapa laporan yang dibawanya pada Angkasa.
"Kami sudah melakukan survei dan ini hasil analisisnya. Rencananya, strategi yang kita gunakan adalah ...."
"Aku belum makan. Boleh aku makan dulu?"
Gantari yang sedang serius menjelaskan terpaksa harus segera mengatup bibirnya ketika mendengar ucapan Angkasa tersebut.
"Oh! Baik, Pak."
"Kamu di sini aja."
Gantari yang sudah berdiri, kini tampak melongo.
Benar, kan? The javu.
***
Nevandra Ardiona
Hari ini aku jemput, ya? 06.55 AM
Read
Gantari terseyum. Akhirnya, dia muncul juga.
Gantari Dihyan Irawan
Ok 06.56 AM
__ADS_1
Read
Gantari menepuk keningnya sendiri ketika menyadari pesan yang dikirimnya sangat singkat, lalu ia mengetik ulang pesan balasan.
Gantari Dihyan Irawan
Ok, aku tunggu di rumah ya, Dion...
06.57 AM
Read
Nevan tersenyum geli ketika membaca pesan balasan kedua dari Gantari.
Gantari memang nggak cocok basa-basi, pikir Nevan.
Gantari langsung berlari keluar rumah dan mengunci pintu ketika mendapat pesan dari Nevan jika dia sudah sampai.
"Nggak usah lari, nanti jatuh."
Gantari terlonjak, lalu menoleh dan mendapati Nevan sudah berdiri di belakangnya.
"Kok nggak nunggu di mobil aja?"
Gantari berjalan mendekati Nevan sembari memasukkan anak kuncinya ke dalam sling bag yang ia bawa.
Nevan tidak menjawab. Ia hanya tersenyum hangat, lalu dengan cepat meraih tangan kanan Gantari dan menautkan jemari mereka.
Gantari gelagapan, namun Nevan sudah keburu menariknya melangkah menyusuri jalan setapak. Sehingga, mau tidak mau Gantari ikut berjalan bersamanya dengan bergandengan tangan tanpa bisa protes lagi.
Sama seperti biasa, mereka jalan dalam keadaan diam. Namun, kali ini keduanya sama-sama diam dengan senyum malu-malu terkulum di bibir masing-masing.
"Nanti pulangnya aku jemput, ya?" ucap Nevan setelah mobilnya sampai dan berhenti di pelataran parkir Angkasa Grup.
Gantari terseyum, lalu mengangguk. Ia mencoba membuka safety belt, namun kesulitan dan ini kesempatan Nevan menciptakan momen drama korea karena ia dengan sigap membantunya, hingga tatapan mereka bertemu dan mengakibatkan degup jantung tak karuan.
Klik!
Sabuk pengaman sudah berhasil dibuka, namun Nevan masih enggan beranjak dari posisinya. Ia menatap dalam bola mata Gantari yang tampak bergerak liar karena gugup dan menikmati setiap embusan napas Gantari yang menerpa wajahnya.
Wajah mereka semakin lama semakin dekat. Hampir saja Gantari terhanyut oleh pesona pria di hadapannya ini, terlebih ketika Nevan membelai lembut sebelah pipinya.
"Semangat kerjanya, Sayang," ucap Nevan memecah keheningan. Kemudian, senyum usil terbit di bibirnya.
Gantari melotot, lalu mendorong dada Nevan dengan kesal, hingga membuat Nevan terkekeh geli.
Ia akan menarik handle pintu dan keluar dari sana, ketika Nevan menarik cepat tangannya dan melayangkan sebuah kecupan di pipinya.
Gantari kaget dan melotot lagi. Namun, kali ini ia memilih buru-buru keluar dari mobil dan berjalan cepat sambil mengipasi wajahnya yang sudah memanas.
Nevan juga merasa wajahnya panas, lantas ia kembali memacu mobil dengan senyum yang betah sekali muncul di bibirnya. Berdeham sebentar, lalu tersenyum lagi. Ah! Nevan.
Dengan ekspresi datar, Angkasa keluar dari mobilnya. Menatap punggung Gantari yang berlalu memasuki kantor sejenak, lalu berganti memandang kepergian mobil Nevan dengan tatapan tajam.
***
AYE, AYE!
Taqabbalallahu minna wa minkum, semua. Semoga silahturahmi kita tetap terjaga ❤️
love love love.
__ADS_1