Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Lima Puluh Sembilan


__ADS_3

Aku pernah kehilanganmu dan sekarang ... tak ingin lagi.


***


Shanessa berjalan penuh percaya diri memasuki lobi Angkasa Grup. Saking niatnya, dia datang memakai setelan baju kantor yang sengaja dibelinya kemarin siang. Dengan rok span hitam selutut dan blouse berwarna peach membuat kulit putihnya tampak makin bersinar. Rambut panjang kebanggaannya kali ini ia kuncir kuda, membuat beberapa orang semakin memaku pandang padanya.


"Permisi. Saya ingin bertemu dengan Pak Angkasa," ucap Shanessa pada seorang resepsionis dengan potongan rambut bob.


"Sudah ada janji?"


Belum sempat Shanessa menjawab, seseorang dari arah samping membuka suara. "Anda sudah datang?"


Shanessa menoleh, lalu tersenyum malu-malu. "Sudah, Pak Angkasa."


***


"Telepon Pak, telepon. Bukan dipelototin aja tuh hape."


Nevan yang sedang menatap hampa ponselnya, menoleh pada Fikri yang sudah memasang tampang frustasi.


"Apaan? Nelpon siapa?"


"Ya, Gantari lah! Masa gue? Kita kan udah putus."


Fikri menyenderkan kasar tubuhnya ke punggung kursi, setelah menutup berkas yang tadi dibolak-baliknya untuk menjelaskan prospek bisnis pada CEO Rawikara Retail tersebut.


"Ngapain?"


Ada pentungan nggak? Fikri sudah hampir meledak, nih. Dia mau membangunkan warga dulu, baru meledak.


"Terserah loe, deh. Nyerah gue."


Nevan menghela napas pelan, lalu meraih ponselnya. Menatapnya dalam, lantas memutar-mutar ponsel dengan wallpaper pantai itu dengan sebelah tangan. Kemudian, meletakkannya lagi.


"Terus rencananya, strategi apa yang mau kita pakai buat menjalin relasi dengan Kusuma Adi?"


"Bunuh aja, deh gue, Pak. Bunuh! Dari tadi gue koar-koar loe anggap lagi ngapain? Curhat?"


***


"Sekarang dia kemana? Tumben belum datang."


"Sejak menandatangani kontrak, Pak Ang menghilang." Wajah Leo menyiratkan kekhawatiran ketika menyampaikan hal itu, namun kemudian dia menatap Gantari minta penjelasan. "Kamu tau kalau Bapak Wiraguna pemilik saham terbesar di Hotte Mart?"


Pertanyaan Leo tersebut sempat membuat Gantari gelagapan. Tentu saja dia tahu, karena itu bagian dari rencananya dan Nevan.


Beruntung Leo tidak menuntut jawaban karena ia kembali melanjutkan, "Bapak Wiraguna kan pemilik Rawikara Retail yang dipimpin Pak Nevan, tapi kenapa tender diberikan pada Angkasa Grup?"


Glek!


Gantari hanya membalas tatapan Leo dengan ringisan, lantas menyisir rambutnya dengan jari. Kebiasaannya jika dia sedang salah tingkah.


"Aneh, kan? Iya, kan?" tuntut Leo. Dia bahkan mendekatkan wajahnya ke wajah Gantari.


"Biasa aja," jawab Gantari basi.


"Pak Ang? Bapak sudah datang?"


Hah?!


Gantari menoleh cepat, seiring dengan pergerakan Leo yang berdiri dan menyongsong kedatangan bosnya itu dengan wajah lega.

__ADS_1


Bukannya terharu, Angkasa yang disambut dengan suka cita oleh sekretarisnya itu justru berjalan menuju meja Gantari. Menatap wanita cantik yang jelas sekali terkejut karena kedatangan dirinya.


Siap-siap diterkam, deh, pikir Gantari.


Gantari segera menurunkan pandangan karena merasa telah tertangkap basah menatap Angkasa dengan pandangan super terkejut. Dia berdeham kecil, berusaha tampak biasa-biasa saja. Namun, di sela usahanya untuk menenangkan diri, Gantari merasakan sebuah usapan di puncak kepala, hingga membuat dirinya kembali mendongak dan mendapati Angkasa sebagai pelakunya.


"Aku ingin bicara. Bisa temui aku sebentar?" ucap Angkasa dengan suara berat.


***


Gantari sudah terduduk di sofa ruang kerja Angkasa, sedangkan si empunya ruangan juga sudah duduk di seberangnya dengan tatapan tak terbaca.


Karena Angkasa tak kunjung bicara, maka Gantari yang memulai duluan. Dia menyodorkan sebuah amplop yang sebelumnya ia ambil dari dalam tas dan meletakkannya ke atas meja tepat di hadapan Angkasa.


Dan, reaksi yang diberikan Angkasa hanya alis yang terangkat sebelah. Tatapannya belum berubah.


"Sudah sebulan saya bekerja dan ini surat pengunduran diri saya," ucap Gantari.


Semalam dia sudah memikirkannya. Dia tidak akan berubah haluan lagi, hari ini Gantari harus mengundurkan diri tepat seperti yang sudah ia dan Nevan rencanakan sebulan yang lalu.


"Sudah direncanakan dengan matang rupanya?" ucap Angkasa dingin.


Gantari mencoba mengangkat dagunya, lalu berkata dengan berani, "Benar. Memang sudah direncanakan."


Terdengar tawa hambar dari laki-laki berambut sebahu itu, namun hanya sebentar karena setelahnya dia kembali menatap Gantari tajam.


"Kamu kira aku akan melepaskanmu? Tidak, Gantari Dihyan Irawan," desisnya.


"Di dalam kontrak, aku memiliki kebebasan untuk mengundurkan diri jika berhasil memenangkan tender. Tidak peduli Anda izinkan atau tidak," balas Gantari meningkatkan.


Tawa hambar kembali Angkasa gaungkan, namun kali ini terdengar geram.


Kontrak khusus? Kenapa dia bisa tertipu oleh Gantari?


"Aku Angkasa dan aku nggak peduli dengan semua itu."


Gantari mendengkus. Merasa lucu sekaligus muak saja, sih.


"Kamu memang Angkasa, tapi kamu lupa kalau aku adalah Gantari yang lebih tidak peduli dengan semuanya," balas Gantari tak kalah tajam.


Mendadak wajah Angkasa berubah teduh dan kali ini dia tersenyum. "Aku suka wanita sepertimu."


Gantari melotot. Tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Angkasa benar-benar gila.


Gantari masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Angkasa dan laki-laki itu memang melepasnya, namun berganti dengan memegang kedua pundak Gantari.


Ini tidak beres.


Gantari beringsut mundur, namun kakinya terhalang sofa yang tadi ia duduki, sedangkan Angkasa terus saja bergerak mendekatinya.


Tatapan teduh yang tadi ia perlihatkan sekarang berubah dengan tatapan yang membuat Gantari diselimuti rasa tidak nyaman. Dia masih terus mencoba menyingkirkan tangan Angkasa, namun bukannya melepaskan, Angkasa justru menjatuhkan wajahnya ke leher Gantari.


"Kau gila!" Gantari mendorong tubuh Angkasa sekuat yang dia bisa, namun laki-laki bertubuh kekar itu justru tampak makin kesetanan. Dia bahkan mengunci tubuh Gantari dengan dekapannya.


"Angkasa, bangs*t kau!" Gantari berteriak, memaki apapun yang ia ingat, berharap ada seseorang yang datang dan menghentikan kegilaan ini.


Gantari panik. Ia masih mencoba dan terus mencoba sekuat tenaga menyingkirkan Angkasa dari tubuhnya.


Napas Gantari sudah memburu. Dia marah, kesal, sekaligus benci dengan dirinya yang tidak berdaya. Air matanya sudah bertengger di pelupuk mata, hanya tinggal menunggunya untuk terjatuh saja.

__ADS_1


Pintu terbuka dengan kasar, setelah sesaat tadi terdengar kegaduhan dari luar dan sebuah tarikan kuat sukses membuat tubuh Angkasa menjauh dari Gantari.


Dug!


Kemudian, sebuah hantaman tentu saja segera melayang tepat di hidung Angkasa, hingga mengucurkan darah segar.


Gantari berlari mendekati Nevan dengan tubuh bergetar, lantas memeluk pria itu dengan erat.


"Dion," isaknya gemetar.


Nevan juga sama gemetarnya karena emosinya yang terlanjur membuncah. Dia membalas pelukan Gantari dengan sebelah tangan, namun dia belum bisa menghibur belahan jiwanya itu lantaran amarahnya masih tertuju pada Angkasa yang sedang menyeringai sembari menghapus darah yang keluar dari hidungnya.


"Sekali lagi loe berani nyentuh Dihyan, gue habisin loe!"


Bukannya takut, Angkasa justru berdiri dan memandang dua sosok manusia di depannya itu dengan tatapan meremehkan.


"Dulu dia memang milik kamu, tapi sekarang ...."


Dug!


Dug!


Brak!


Nevan melepaskan pelukan Gantari, lantas menghambur ke arah Angkasa dan dengan napas memburu menyerang laki-laki brengs*k itu secara membabi buta.


Akhirnya tangis Gantari pecah juga, dia berlari dan mencoba menarik Nevan agar menghentikan tindakannya. Disusul Leo yang juga turut mencoba melerai.


"Dion, hentikan! Aku mohon."


Benar, Nevan memang mengentikan pukulan, namun berganti dengan menginjak kuat dada Angkasa dengan sepatu pantofelnya.


"Dion sudah!" pekik Gantari di sela isakannya.


Masih dengan napas memburu, Nevan menghujam Angkasa dengan tatapan yang berkobar marah. Kakinya masih setia menapak di dada sang pengusaha muda.


"Loe marah gara-gara ternyata Hotte Mart milik bokap loe?"


Leo terperanjat. Dia yang sedang berjongkok mencoba menolong Angkasa langsung terdiam. Sedangkan, kilatan marah sudah terpancar di matanya Angkasa.


"Selama ini loe kira Atmadja Wiraguna benar-benar ngebuang loe? Loe cari tau dulu pemilik saham Angkasa Grup loe ini." Nevan mendecih, lantas menarik kakinya dari dada Angkasa.


Melihat itu, Leo segera membantu Angkasa untuk bangun. Meski, pikirannya masih tidak mengerti.


Nevan menoleh pada Gantari, lantas merangkul pundaknya. Kemudian, berjalan ke luar ruangan, namun tepat di depan pintu langkahnya kembali terhenti. Ia menolehkan kepalanya sedikit pada Angkasa.


"Cari tau juga alasan nyokap loe ... bunuh diri." Kali ini tidak ada nada marah di suara Nevan. Setelah mengucapkan pernyataan yang sukses membuat wajah Angkasa memucat, dia kembali melanjutkan langkah dan membawa Gantari pergi dari sana.


Angkasa hanya menatap kepergian mereka dengan pikiran berkecamuk.


Angkasa Grup?


Saham?


Ibunya?


Seorang perempuan sedang berdiri mematung di balik meja Leo yang terletak tepat di depan ruangan Angkasa. Namun, Nevan dan Gantari tidak menyadari keberadaannya.


Lagi pula, perempuan itu juga tidak berniat menyapa. Dia hanya diam melihat kepergian dua orang yang melangkah menjauh dengan Nevan yang setia merangkul Gantari.


Perempuan itu, Shanessa.

__ADS_1


👉👈 👉👈 👉👈 👉👈 👉👈 👉👈 👉👈


__ADS_2