
Gantari sudah bilang tidak perlu dirayakan berlebihan, namun Darya menolak keras untuk itu. Bahkan, Ardiman dan Shanessa ikut bersekongkol dengan sang kakek dan menyiapkan segalanya.
"Dulu kan nggak dirayakan. Sekarang apa salahnya?"
Penata rias dari tadi tampak serius memoles wajah Gantari. Selalu menjadi tantangan baginya agar membuat calon mempelai wanita terlihat pangling ketika nanti bertemu dengan calon mempelai pria dan tamu undangan.
Terlebih karena Gantari memang sudah memiliki paras yang cantik, jadi jangan sampai kecantikan naturalnya itu justru tertutupi oleh dempulan make-up. Gantari yang sesekali mengikuti instruksi MUA tampak sedang menatap sang kakek yang duduk di kursi tak jauh darinya melaui cermin.
"Tapi ini kan ... yang kedua, Kek."
"Terus apa salahnya?" Darya berdiri, lalu mengusap pelan puncak kepala Gantari. "Aku ini kakekmu, bukan kakek orang lain dan lagi ... bisa-bisa Awan marah kalau tau aku nggak memanjakan putrinya."
Gantari tidak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Belakangan, ia memang sedikit mellow, hingga sang penata rias refleks menghentikan aksinya dan memilih melongo saja, tak berani protes. Kemudian, Gantari berdiri dan berbalik untuk memeluk sang kakek.
"Aku bahagia sekali, Kek."
...****************...
Nevan sedang bersiap. Dari tadi dia berdiri tegap di depan cermin panjang sekadar memastikan jika penampilannya sudah maksimal. Beberapa kali Nevan tampak mengatur napas. Ternyata gugupnya belum juga mau reda.
"Supaya bisa berangkat sekarang gimana kalau cerminnya gue masukin mobil aja?"
Nevan menoleh pada Fikri yang muncul dari balik pintu, lalu merapikan setelan jas putihnya lagi.
"Dari mana aja loe baru nongol sekarang?"
__ADS_1
Fikri memilih duduk di pinggiran ranjang, lalu memasang ekspresi lesu. "Ini hari patah hati gue dan loe dengan teganya nyuruh gue buat mendampingi. Hargai perasaan gue dong, Van!"
Melihat drama tersebut mau tidak mau Nevan mendecih sebal. "Mulai sekarang segera coret nama Gantari dari modus bucin loe!"
Fikri langsung berdiri tak terima. Ia menatap Nevan sengit dari balik cermin. "Kagak! Dia boleh jadi istri loe, tapi Gantari itu cinta pertama yang akan gue jaga di dalam hati gue," ucap Fikri sembari memegang dada.
Mendengar itu Nevan langsung berbalik dan mengambil bantal, lantas memukulkannya dengan kesal pada Fikri. Bahkan, Nevan tidak lagi peduli jika bajunya kusut.
Pintu terbuka dan Edo yang melihat kejadian itu langsung memasang tampang datar. "Jangan sampai gue yakin kalau kalian berdua itu belok, ya."
"GILA LOE!"
"AMIT-AMIT!"
...****************...
"Pak Nevan itu ... Cinta pertama aku," ungkap Utami sesegukan. Sedangkan, Farez hanya mengangguk paham dan lagi-lagi hanya bisa membalas dalam hati.
Dan, Gantari itu ... cinta terpendamku.
Tangis Utami makin pecah ketika melihat Nevan menjabat tangan Ardiman sebagai wali nikah Gantari. Pemuda itu bahkan tampak berkali lipat lebih tampan ketika memakai setelan putih tulang.
"Ya Allah, Pak Nevan ganteng banget." Utami menangis lagi. Kali ini dia bahkan menangis di pundak Farez.
"Bismillahirrahmanirrahim."
__ADS_1
Darah Farez berdesir. Inilah saatnya ia harus melepas Gantari. Farez merasakan matanya berembun, namun ia buru-buru menghapusnya.
"Nevandra Ardiona Bin Fauzan Ismail?"
"Iya, saya."
"Saya nikahkan engkau dengan keponakan kandung saya, Gantari Dihyan Irawan Binti Irawan Ardiwinata dengan mas kawin ...."
Ucapan Ardiman tidak lagi terdengar karena tangis Utami kian pecah di telinga Farez. Farez juga tidak lagi peduli. Lebih baik dia tidak melihat dan mendengar saat-saat sakral itu, namun pandangannya terpaksa kembali terarah pada ke depan ketika para saksi berkata dengan lantang, "Sah!"
Disambut oleh para tamu undangan yang dengan kompak mengucapkan, "Alhamdulillah." Farez akhirnya tersenyum, meski senyum itu terasa pahit sekali.
Nevan tampak tersenyum lega. Lega sekali, bahkan ia menoleh dan membagi senyum manisnya pada kerabat dan saudara yang hadir.
Tak lama Gantari berjalan pelan keluar kamar dengan dengan didampingi Shanessa. Wanita itu benar-benar memancarkan aura kebahagiaan. Senyum malu-malunya begitu manis bertengger di bibir Gantari. Kebaya modern putih yang Gantari kenakan begitu indah membalut tubuh jenjangnya dan membuat warna kulit Gantari terlihat semakin cerah.
Rambut Gantari yang disanggul dan dihiasi aksesoris berbentuk mutiara berkilauan membuat orang lain enggan memalingkan wajahnya, terutama Nevandra Ardiona. Laki-laki itu tak sekali pun mengalihkan pandangannya dari wajah Gantari sejak melihat wanita itu berjalan mendekat ke arahnya.
Shanessa yang berjalan dengan tangan merangkul Gantari, diam-diam mengedarkan pandangan demi mencari seseorang. Senyumnya langsung terkembang ketika menemukan keberadaan Angkasa dengan wajah tertekuk ikut duduk di jajaran para tamu undangan.
Sebenarnya, Angkasa tidak berniat hadir, namun karena rengekan Shanessa akhirnya ia datang juga. Eh, sebentar! Sejak kapan Angkasa patuh dengan permintaan gadis manja itu?
Pelan-pelan Gantari duduk di samping Nevan, lantas memutar tubuhnya menghadap sang suami dengan kepala menunduk. Nevan menatap Gantari dengan rasa syukur yang membuncah di dadanya. Kemudian, ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh puncak kepala Gantari dan ikut menunduk khidmat sekali.
Ada doa yang sedang Nevan pinta pada sang pencipta. Kemudian, air matanya menetes begitu saja di sela doa tersebut, membuat Gantari yang menunduk, sedikit mengintip khawatir ke arahnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Nevan tersenyum manis setelah doa itu selesai disampaikan. Kemudian, dengan lembut dikecupnya kening sang istri cukup lama. Ya, istrinya.
Rupanya tak hanya Nevan karena Gantari juga meneteskan air mata. Begitu panjang jalan yang mereka lalui. Begitu pahit kisah yang harus mereka telan. Meski ini bukan akhir segalanya, tapi Nevan dan Gantari sudah begitu bahagia.