
Menerka kadang membuat lelah, namun bertanya juga bukan solusi yang mudah.
Setelah melihat seseorang yang Gantari yakini sebagai Fikri, dia jadi tidak banyak bicara. Sesekali Anwar melirik Gantari lewat spion motor, namun ia memilih diam untuk menghargai.
"Kak Dihyan kenapa?" bisik Bu Fatimah pada Anwar ketika sudah sampai di rumah. Pagi ini mareka membantu Gantari memasak di rumahnya.
Anwar awalnya hanya menjawab dengan bahu terangkat, namun kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah sang ibu dan berbisik. "Mungkin kangen sama Bu Bulan."
Fatimah menoleh dan menatap iba ke arah Gantari yang sedang mencuci beras, lantas mengangguk paham. Hidup sendiri tanpa ayah dan ibu bukanlah hal yang mudah.
Sebelum air matanya keburu menetes, Fatimah memilih melanjutkan mencuci ayam. Biasanya, kegiatan mereka selalu diselingi obrolan, namun tidak dengan kali ini. Gantari lebih memilih banyak diam.
"Mau dicuci 10 kali air beras pasti butek, kok, Neng," tegur Fatimah ketika melihat Gantari menuangkan air beras kelima.
Gantari menoleh, lalu terkejut sendiri ketika melihat beras di dalam wadah magic com dan jari jemarinya yang sudah mulai keriput. Tidak ada jawaban yang bisa Gantari berikan, karena ia hanya meringis saja.
Sedangkan, Anwar tidak menanggapi mereka dan memilih tetap fokus mengiris bawang dengan air mata berlinang.
***
Mobil sewaan Rawikara Retail sudah menunggu setengah jam sebelum kedatangan Nevan dan Mariah. Mereka dijemput oleh sopir sewaan dan sekarang sedang menuju hotel.
Ketika melewati jalan Malioboro, Nevan menoleh dan memandang tempat yang selalu jadi salah satu tujuan wisatawan itu dengan pandangan tertarik. Meski ini bukan kali pertama ke Jogja, namun dia belum pernah menjelajahi Malioboro. Terakhir kali ke Malioboro, ia hanya numpang ngopi saja di Loko Coffee Shop.
"Kalau malam lebih ramai."
Ya, itu suara Mariah. Gadis yang kini sedang duduk di samping Nevan. Nevan menoleh dan memandang Mariah yang sedang meringis canggung.
"Aku cukup tau banyak tentang Jogja dan selalu merindukannya meski berkali-kali ke sini," lanjut Mariah.
"Oh, ya?" balas Nevan seadaanya. Ia hendak kembali menghadap kaca, namun Mariah kembali melanjutkan.
"Dulu aku kuliah di Jogja, di UGM."
Kali ini Nevan tertarik. Dia kembali menatap Mariah. Rupanya gadis itu cukup banyak bicara. Hal yang bertolak belakang dengan gadis yang dia temui di hotel malam itu atau gadis yang menemuinya di pagi ketika gosip pernikahan bisnis menyeruak.
"Tidak di Luar Negeri?
Mariah terseyum, lantas menggeleng. "Papa nggak begitu percaya padaku," katanya pahit.
__ADS_1
"Dalam negeri nggak buruk," balas Nevan. Ia diam sejenak, lalu melanjutkan, "Saya juga ingin, tapi sebaliknya. Saya diminta untuk melanjutkannya di Luar Negeri."
"Hidup kita banyak aturan, ya, Mas? Dari lahir sampai tua, sudah dirancang alurnya."
Mas?
Nevan mengangkat sebelah alisnya. Namun, ia teringat dengan cerita Mariah barusan, jika ia pernah kuliah di Jogja. Mungkin terbiasa.
Setelah itu, Nevan tak lagi berbicara. Ia memilih memeriksa ponselnya sebentar dan terlihat mengetik sesuatu, lantas kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Kemudian, ia mengarahkan pandangannya lagi ke luar kaca mobil.
***
Nevandra Ardiona
Aku udah sampai di Jogja, ya.
09.05 WIB Read
Gantari membuka pesan dari Nevan dan menatapnya lama. Lagi-lagi ia bingung ingin membalas apa. Ada hal yang masih mengganggu pikirannya.
Kenapa Dion harus berbohong?
"Kak Dee! Semua udah aku antar ke tetangga, ya."
Fatimah yang sedang mengelap meja makan, tempat mereka sarapan barusan, sontak menoleh dan mencibir. "Cuma sama kamu aja dia bisa manis gitu, Neng. Kalau sama Emaknya, cemberut dulu."
"Apa sih, Mak? Jangan cemburu gitu, ah." Anwar mendekati Fatimah, lantas memeluknya dari belakang, hingga membuat Fatimah makin panjang ngomelnya.
Gantari yang melihat tingkah konyol ibu dan anak itu hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala.
"Eh, itu mau diantar kemana, Kak? Sini sekalian."
Rupanya Anwar sudah selesai menggoda ibunya dan kini sedang berdiri di samping Gantari yang sibuk memasukkan semur ayam dan goreng tempe ke dalam kotak makan.
"Nggak usah, An. Ini biar kakak aja yang ngantar," tolak Gantari.
"Emang mau di antar kemana?"
"Rumah Sakit."
__ADS_1
***
Hanya butuh waktu 25 menit untuk sampai ke Hotel Tentrem. Hotel yang selalu jadi andalan Nevan setiap kali bertandang ke Yogyakarta.
Sesampainya di hotel, Nevan memeriksa ponselnya lagi dan belum mendapatkan jawaban dari Gantari. Bahkan, pesannya sudah dibaca atau tidak saja, Nevan tidak tahu karena Gantari memiliki kebiasaan menonaktifkan pemberitahuan, sehingga centang biru tidak terlihat meski pesan sudah dibaca.
Sebuah kebiasaan yang kadang membuat Nevan uring-uringan, namun percuma karena Gantari tetap melakukannya.
Sebelum berangkat meninjau proyek, Nevan menyempatkan diri menelpon Fikri dulu yang terpaksa gagal ikut hari ini.
"Gimana?" tanya Nevan setelah panggilan dijawab.
"Aman, Pak. Sudah kita tekan dan beri peringatan. Untung saja ketahuan sekarang. Bisa-bisanya mereka lalai begitu," lapor Fikri dari seberang.
Nevan mengangguk, meski faktanya Fikri tidak akan melihat itu. "Pastikan jangan sampai lewat dari batas waktu yang sudah ditentukan, semua harus sudah selesai. Tidak ada toleransi lagi."
"Baik, Pak."
"Siang nanti, segera susul saya kesini."
"Siap, Pak."
***
Gantari memakirkan motornya di halaman Sila Hospital. Tadi, ia menolak tawaran Anwar untuk mengantarnya karena merasa tidak enak sudah merepotkan tetangganya itu dari pagi.
Sembari merapikan rambut, Gantari teringat dengan pesan Nevan yang belum sempat ia balas. Ia mengeluarkan ponselnya dari sling bag dan segera melakukan panggilan setelah menemukan nama Nevan di daftar kontak. Langsung telepon saja, repot kalau harus mengetik pesan. Namun, raut Gantari berubah kecewa ketika justru suara operator seluler yang menyambutnya.
Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, cobalah ....
Tut!
Tut!
Tut!
Gantari memutuskan sambungan dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dengan wajah kecewa. Kemudian, ia meraih tiga kotak makan yang tergantung di sepeda motornya dan membawanya ke dalam Sila Hospital tempat almarhum ibunya dirawat selama lima tahun.
***
__ADS_1
Catatan:
Yang gulang guling di kasur kayaknya udah nggak gulang guling lagi, jadi nggak ada iklan. Ngakak.