Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Enam Puluh


__ADS_3

Mari kita ambil sisi positifnya. Setidaknya, karena kejadian Angkasa, Gantari dan Nevan bisa baikan.


"Aku masih marah, ya. Ini aku kasih jeda aja sebentar."


Gantari yang berada dalam pelukan Nevan, mendongak dan memukul pelan dada pemuda itu, hingga Nevan tergelak. Hilang sudah tampang ganas plus menyeramkan Nevan saat menerkam Angkasa tadi.


"Aku takut ngeliat kamu yang kayak gitu," aku Gantari.


Nevan tersenyum, lalu mengusap pelan puncak kepala Gantari dan menariknya lagi dalam pelukan. "Aku bisa jadi jauh lebih mengerikan kalau ada yang berbuat macam-macam sama kamu."


Gantari melepaskan pelukan, lantas menggeleng cepat. "Jangan ngomong kayak gitu," sergahnya tak suka.


Tak ada jawaban yang diberikan Nevan karena memang dia tidak bisa menjanjikan hal itu.


"Jadi selama ini, Pak Wiraguna diam-diam tetap menolong Angkasa?"


"Nggak ada orang tua yang benar-benar nggak peduli dengan anaknya, Dihyan."


"Ada."


Nevan mengangkat sebelah alisnya. "Siapa?"


"Orang tua ibuku."


***


Angkasa memacu mobilnya gila-gilaan. Dia bahkan tidak peduli ketika menerobos lampu lalu lintas dan dikejar mobil patroli polisi.


"Aku selesaikan urusanku dulu, baru setelah itu aku ikut kalian!" teriak Angkasa murka ketika polisi menyergapnya di depan Panca Hospital. Namun, para abdi negara itu tidak peduli. Mereka tetap mendesak agar Angkasa ikut dengan mereka.


Bunyi sirene sempat memancing perhatian, beberapa orang yang ada di sekitar halaman rumah sakit, bahkan orang-orang yang ada di dalamnya ikut keluar dan menonton adegan menegangkan tersebut.


Angkasa menepis kasar tangan polisi yang mencoba menyentuhnya. Bahkan, kini justru tangan Angkasa yang sudah berada di leher salah satu polisi muda tersebut, mencekiknya hingga sang teman sejawat mau tidak mau mengeluarkan senjata.


Beberapa orang memilih menyingkir setelah berteriak ngeri dan beberapa lagi memilih tetap menyaksikan adegan itu takut-takut.


Security berlarian dari segala arah ketika kegaduhan sudah mencapai puncaknya.


"Ini rumah sakit. Tolong jaga sikap Anda," desis Polisi dengan leher tercekik. Dia masih mencoba untuk tetap tenang.


Sedangkan, teman seprofesinya sudah mengangkat senjata dan mengeker tepat di kepala si pengusaha muda.


"Asa!"


Angkasa luluh. Ya, semudah itu. Matanya yang tadi berkilat merah, kini mulai mengedarkan pandang mencari si sumber suara, Farez.


Eh, ada Abang Farez. Apa kabar, Bang? Skip!


Farez, si dokter muda, berjalan mendekati polisi yang sedang mengarahkan senjata pada sepupunya dengan tergesa, lantas tampak membicarakan sesuatu dengan pelan, namun cukup lama. Bahkan, ia mengeluarkan dan menunjukkan kartu identitasnya pada polisi yang diajak bicaranya tersebut.


Setelah memohon pengertian dan menjamin Angkasa dengan dirinya sendiri, baru kemudian Farez beralih pada Angkasa yang mulai mengendurkan cekikannya.


"Asa, kamu ingin bicara denganku? Ayo kita bicara."

__ADS_1


Cekikikan terlepas, hingga membuat Polisi melorot dan berlari menjauh mendekati sang rekan.


Lagi-lagi, Farez menundukkan kepala. Meminta maaf pada para pasien dan keluarganya, terutama pada sang duo abdi negara.


Angkasa melihat semuanya. Dia melihat Farez memohon untuk dirinya sekali lagi dan dia benci hal itu.


***


Farez meletakkan sebotol minuman air mineral di atas meja tepat dihadapan Angkasa, namun yang disuguhi diam-diam saja.


"Minum. Kalau kamu memang mau bicara denganku," titah Farez. Kemudian, pria yang pernah atau masih tergila-gila dengan Gantari itu memilih duduk di seberang Angkasa.


Mengejutkan, karena Angkasa menurut lagi. Dia meminum air itu hingga tandas, tidak tanggung-tanggung menunjukkan kesungguhannya.


"Pemilik saham Angkasa Grup, siapa?" tanya Angkasa sembari menghentakkan botol kosong ke atas meja.


"Banyak. Yang punya saham di Angkasa Grup bukan satu orang, kan?" elak Farez tenang.


"Kamu tau maksudku, Farez."


"Gegora tbk. Seperti yang kamu tau."


"Dalangnya?!" sentak Angkasa tak sabar.


"Atmadja Wiraguna."


Secepat kilat, Angkasa langsung bergerak dan menerkam Farez. Menarik kerah kemeja navy yang dikenakan Farez dengan kuat.


"Mau sampai kapan? Mau sampai kapan kamu mendoktin pikiranmu sendiri, kalau Papamu itu benci padamu?"


"Dia nggak pernah membencimu, Asa," tekan Farez. "Berhenti menyalahkan dirimu sendiri karena kejadian itu."


Bruak!


Sebuah hantaman melesat tepat di tulang pipi Farez, hingga membuat dokter idaman para suster itu meringis juga. Namun, ia tampak tidak berniat membalas.


"Jangan mengungkitnya lagi. Kau tau, kan?!"


Sesaat Farez terdiam, tidak menjawab. Dia hanya memegangi pipinya yang lumayan nyeri juga. Baru kemudian, ia mendongak dan menatap Angkasa yang napasnya sudah memburu.


"Hadapi. Sudah cukup kamu bersembunyi, Asa."


***


"Mau pulang?"


Gantari menggeleng.


"Mau ke rumahku lagi?"


Sesaat Gantari menatap Nevan, namun kemudian kembali menggeleng.


"Mau nikah?"

__ADS_1


"Nikah lagi," desah Gantari malas. "Saat-saat kayak gini, jangan bercanda dong, Dion." Gantari mengembuskan napasnya pelan, lalu menatap keluar jendela mobil.


"Bercanda apanya? Aku serius."


"Iya, serius, iya."


"Emang serius. Kamu aja yang nggak mau diseriusin."


Gantari menoleh cepat, memandang Nevan dengan tatapan sengit.


Astaga! Ini mau berantem lagi, nih?


Akhirnya diputuskan secara sepihak, Gantari dibawa Nevan ke kantornya. Selain karena Nevan sebentar lagi ada pertemuan, Gantari juga memang sudah lama tidak bertandang kesana.


Hal ini sukses membuat Gantari mau tidak mau bernostalgia juga. Meski tidak begitu lama bergabung di Rawikara Retail, namun tetap saja menyenangkan bisa kembali dan mengingat masa-masa itu.


"Gantari!" Elma berlari menyambut Gantari dengan heboh. "Kamu balik lagi? Asik, dong."


Gantari hanya terkekeh, lalu memeluk Elma sekilas.


Irfan yang baru datang sehabis menyeduh kopi, ikut menghampiri dengan cangkir di tangannya.


"Gantari, apa kabar?" serunya terlampau bahagia.


"Baik, Fan," jawab Gantari sembari tersenyum.


"Astaga. Senyum loe masih manis aja, Tar," ujar Irfan takjub. Dia tidak tahu, kalau kening bos besarnya sudah berekerut tujuh.


"Modus mulu loe, Fan," timpal Nanda yang buru-buru keluar dari kubikelnya dan ikut bergabung, lalu memeluk Gantari, rindu.


"Serius. Pantes aja hari ini gue pengen bikin kopi item, rupanya Gantari datang."


Pepet terus, Fan. Jangan kasih kendor.


"Ini kopinya buat loe aja." Irfan menyodorkan cangkir kopi yang baru diseduhnya pada Gantari dengan senyum merekah. Namun, baru saja tangan Gantari ingin meraihnya, Nevan sudah keburu menyambar.


"Buat saya saja. Pacar saya sedang tidak minum kopi."


UHUK!!


***


Haihaihai!


Ayo kita buktikan pada dunia kalau aku bisa update setiap hari HAHAHAHAA ...


Tapi boong.


Aku sedikit curhat, ya. Sebenarnya ... nggak jadi, deh, wkwkwk.


O, iya. Ada yang mau request lanjutan cerita. Kuy, tulis dikomentar. Kali aja bisa aku wujudkan.


Bang Nevan : Bilang aja mentok ide, Jika.

__ADS_1


Astaga, Bang Nevan kok ngomongnya gitu sih 🤧 Baru aja baikan sama Gantari udah ngebully Jika 😭


Au, ah! Love love love, dulu deh.


__ADS_2