
"Maaf, aku baru bisa datang sekarang," kata Gantari parau.
Ini memang kali pertama Gantari berhasil menguatkan dirinya untuk datang. Wajar saja, bagi Gantari orang terbaring jauh di bawah tanah itu adalah separuh jiwanya.
"Tenanglah di sana karena aku sudah ... ikhlas."
Sebuah usapan lembut di puncak kepala Gantari rasakan setelah ia lagi-lagi menitikkan air matanya. "Sudah ada aku di sini, jadi jangan khawatir lagi ... Ibu."
Gantari terisak, lantas menyenderkan kepalanya di dada Nevan.
"Nah, ibu lihat, kan? Dihyan manjanya belum berubah juga. Aw!"
Nevan mengusap-usap pinggangnya yang baru saja menjadi korban pencubitan. Ia memandang ngeri pada Gantari yang sudah menatapnya dengan tatapan siap dengan ronde selanjutnya.
"Aku bercanda," ujar Nevan cepat, tak mau cari mati. Ia kembali menarik Gantari dalam pelukannya dan menyenderkan dagunya di puncak kepala Gantari. "Doakan aku, ya, Bu. Supaya bisa membahagiakan anak ibu yang galak ini."
Gantari menarik tubuhnya ingin membebaskan diri dari pelukan Nevan, namun sang suami justru mengunci tubuhnya. "Aku bercanda lagi."
...****************...
"Makan yang banyak, Gantari." Tiwi menyodorkan semangkuk ayam rica-rica pada sang menantu yang hari ini datang berkunjung. Pagi tadi, dia sudah heboh masak ini dan itu, hingga membuat Gantari jadi tidak enak hati.
"Jangan banyak-banyak, Ma. Dihyan takut gemuk," seloroh Nevan yang duduk di samping Gantari. Ia memang sengaja menggoda istrinya itu.
Gantari tersenyum, lalu diam-diam tangannya bergerilya di bawah meja makan untuk mencubit paha Nevan agar berhenti bicara macam-macam. Sedangkan, Nevan hanya terkikik saja, lantas mengambil capcay udang bakso yang ada di depannya.
"Kenapa, ya, perempuan takut gemuk?" Fauzan ikut bersuara. Ia meneguk minuman sebentar, lalu melanjutkan, "Pada hal laki-laki mencintai apa adanya."
__ADS_1
Berbeda dengan Gantari yang memilih diam, Tiwi sudah mencibir duluan. "Katanya emang apa adanya. Nyatanya, malah cuci mata di luar sana."
Fauzan melotot kaget, sedangkan Nevan sudah tersedak dengan capcaynya.
"Jangan percaya dengan ucapan laki-laki yang seperti itu, Gantari. Itu cuma modus males ngasih nafkah lebih. Perempuan harus bisa merawat diri, biar nggak ada alasan laki-laki melarikan diri," nasihat Tiwi menggebu-gebu.
"Kartu kamu yang pegang. Khawatir kenapa lagi, sih?"
"Khawatir, sih, enggak. Waspada, harus."
Fauzan menghela napasnya. Kemudian, dengan tenang berkata, "Ya, udah. Biar kamu nggak waspada terus, gimana kalau kita buat anak lagi. Kasian Nevan jadi anak tunggal terus."
Uhuk!
Nevan tersedak lagi. Ia melirik Gantari yang melongo melihat perdebatan kedua orang tuanya.
...****************...
Ternyata sudah lewat pukul 05.00 WIB. Suaminya itu pasti sedang ke masjid untuk salat subuh. Gantari kembali berbaring, melanjutkan tidurnya sebentar, selagi ia sedang dapat jatah libur. Namun, matanya enggan terpejam.
Akhirnya, Gantari bangkit dan memilih ke kamar mandi untuk mencuci wajah. Namun, setelah selesai dengan kegiatan kamar mandi pun Nevan belum juga pulang, hingga membuat Gantari kembali memeriksa jam di atas nakas. Keningnya, berkerut karena biasanya Nevan tidak pernah pergi selama ini.
Mungkin ada acara di masjid, begitu akhirnya Gantari berpikir. Selagi menunggu sang suami pulang, Gantari memilih menuju pantry dan membuat kopi seperti biasa. Namun, hingga kopi selesai diseduh, bahkan diletakkan di atas nampan bersama kue kering yang tidak ia buat sendiri, Nevan tetap belum pulang juga.
Pikiran Gantari jadi tak tenang. Ia berjalan cepat menuju pintu depan, meninggalkan kopinya yang masih mengepulkan asap.
Langit subuh sudah tampak mulai berangsur terang ketika Gantari membuka pintu utama. Cahaya dari ufuk timur memendar memamerkan keindahannya untuk alam semesta.
__ADS_1
Gantari melangkah keluar dengan gusar. Seketika udara pagi menusuk kulitnya yang hanya memakai piyama super pendek. Matanya langsung menyorot ke arah jalan berharap dapat melihat Nevan pulang berjalan kaki dari sana. Namun, tidak ada.
"Kenapa keluar pakai baju kayak gitu?"
Gantari tersentak, lalu memutar tubuhnya cepat dan seketika ia langsung mengembuskan napas lega. "Aku kira kamu kemana."
Nevan yang sedang berjongkok sembari memutar-mutarkan pedal sepeda, terkekeh. "Kangen, ya?"
Gantari tidak menjawab. Ia berjalan mendekati Nevan dan ikut berjongkok di sana. "Lagi ngapain?"
"Ngecek sepeda. Takutnya nanti berulah kalau dibawa pergi jauh. Udah lama nggak dipakai soalnya."
"Emang kamu mau kemana?"
"Bukan aku."
Gantari menautkan kedua alisnya tidak mengerti. "Terus?"
"Kita." Nevan mengedikkan dagunya ke arah belakang dan rupanya ada satu sepeda lagi terparkir disana.
"Ah, Dion ...," rengek Gantari. "Aku udah lama nggak gowes."
Nevan tersenyum kecil, lantas menyampirkan sajadah ke pundak Gantari. "Cari keringat, Sayang. Masa cari keringatnya di kamar terus."
"IDIH!"
...****************...
__ADS_1
Extra Part terakhir, ya ❤️ Bye-bye Bang Nevan.