Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Sering kali aku merindukanmu tanpa sebab - Ardiona Nevandra.


***


Nevan baru bangun ketika azan ashar berkumandang. Ia menyipitkan matanya untuk melihat angka yang ditunjuk oleh jarum jam dinding, rupanya dia tidur seharian. Untung saja pekerjaan sudah ia kirim dan selesaikan subuh tadi.


Ia beringsut turun dari ranjang dan langsung beranjak ke kamar mandi. Mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin, berharap bisa menemukan kesegaran.


Lamat-lamat terdengar suara Bi Murni yang sedang menelpon di luar. Nevan tidak langsung keluar kamar, dia berwudu dan menunaikan salat terlebih dahulu.


"Belum pulang, Bi?" tanya Nevan setelah keluar kamar.


Bi Murni menoleh dan pamit pada seseorang di seberang telepon. "Gimana, Mas? Udah mendingan?" tanyanya mengabaikan pertanyaan Nevan barusan.


Nevan mengangguk, lalu mengulas senyum tipis. "Bibi pulang aja, nggak apa-apa. Aku mau keluar sebentar," ujar Nevan, lalu beranjak pergi.


Nevan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pedal gas ia injak lebih dalam ketika menyalip mobil-mobil lain, hingga ia merasa pandangannya agak kabur akibat kecepatannya yang semakin tinggi. Bahkan, sesekali terdengar suara klakson panjang dari mobil lain yang ditujukan untuknya.


Setelah berputar tak tentu arah, akhirnya Nevan membelokkan mobilnya di sebuah masjid yang belum pernah ia datangi dan menunaikan salat magrib di sana.


Bahkan, ia sempat duduk cukup lama di undakan tangga teras masjid, meski sepatunya sudah rapi terpasang. Ia mengatup bibirnya, tampak berpikir lalu berdiri dan beranjak dari sana.


Mobilnya ia pacu kembali dan kini sudah terparkir di depan sebuah gang sempit. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu.


Nevandra Ardiona


18.55 WIB


Bisa temui aku sebentar?


Read


Gantari mengerutkan keningnya ketika membaca pesan Nevan barusan. Setelah menghilang selama seminggu, ia justru mengirim pesan seperti itu.


Meski begitu, Gantari membuka mukenanya dan meletakkan kitab suci yang tadi ia baca kembali ke atas nakas, lalu berjalan keluar rumah.


Dia tidak menemukan Nevan di sana, jadi ia terus berjalan menelusuri gang dan mendapati sebuah mobil hitam terparkir. Seketika ia teringat pada cerita Bu Fatimah mengenai mobil berwarna hitam beberapa hari yang lalu.


Gantari membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Ada Nevan di sana dengan jambang tipisnya.

__ADS_1


Seperti yang sudah-sudah, mereka akan terjebak dulu dalam hening, hingga salah satu dari mereka mengalah untuk memulai dan orang itu adalah Nevan.


"Aku akan menikah."


Meski menahannya mati-matian, tapi Gantari tetap terkejut ketika mendengar pengakuan Nevan tersebut. Ia sempat tercenung, namun kemudian mengangguk pelan.


"Seminggu lagi," tambah Nevan.


Gantari menggigit bibir bawahnya. Jemarinya sudah ia remas sejak tadi.


"Selamat," balasnya singkat tanpa menatap Nevan.


"Beri tau aku." Nevan menghela napasnya berat, lalu melanjutkan ketika Gantari balas menatapnya. "Haruskah aku membawamu pergi?"


Gantari menoleh pada Nevan, lalu mengerutkan kening tak mengerti.


"Hanya kita berdua," lanjut Nevan pelan.


Gantari menganga, lalu membuang pandang ke luar jendela. Mencoba mengendalikan rasa yang mendadak mendominasi.


"Dion." Gantari menunduk sejenak, melihat jemarinya yang ia remas sendiri.


"Lima tahun yang lalu atau pun sekarang, aku nggak pernah membencimu," ucap Gantari. Ia mendongak dan menatap Nevan lekat.


"Rasa bersalah?" gumam Nevan tak percaya.


Air matanya menetes sekali lagi, hingga membuat dadanya sesak. Ia bahkan memukul-mukulkan tanggannya ke setir mobil, lalu berteriak putus asa.


Gantari menyusuri gang di kegelapan malam dengan langkah lebar. Ia ingin cepat-cepat pergi dari sana karena air matanya sudah tak sanggup lagi ia bendung. Bibirnya tampak bergetar meski sudah coba ia tahan dengan menggigitnya.


Ia membuka pintu dengan tangan gemetar, lantas menutupnya cepat dan seketika tubuhnya melorot ke lantai. Gantari akhirnya menumpahkan tangis, hingga terisak di balik pintu.


***


"Ini bagaimana?"


"Itu bagus."


"Bagaimana kalau yang ini?"

__ADS_1


"Itu juga boleh."


Mirna mendengkus. Salah satu anggota muda Wedding organizer itu medesah pasrah dan membawa kembali contoh motif henna yang akan digunakan Shanessa ketika akad. Dia sudah cukup pusing dengan tenggat waktu yang amat singkat, ditambah sang pengantin yang tidak bisa diajak bekerja sama. Meski resepsi ditunda, namun tetap saja semua persiapan akad harus direncanakan dengan matang.


"Ok! Semua aku yang pilih, ya, tapi jangan ada protes besok," sungut Mirna sambil lalu.


Selain berprofesi sebagai wedding organizer, Mirna juga merupakan kakak tingkatnya di kampus, jadi mereka memang sudah akrab.


Shanessa menoleh, namun tak memberi reaksi. Tak ada raut bahagia khas calon pengantin di sana. Keadaannya jauh berbeda dari ketika tunangan dulu.


Ardiman jalan mendekat dan berdiri tanpa suara di dekat Shanessa yang sedang duduk sendirian di sofa, membuat Shanessa sontak mendongak. Tak lama bibirnya tampak mulai bergetar akibat menahan tangis. Kemudian, dengan cepat didekapnya erat sang ayah, diikuti oleh suara tangis pilu Shanessa.


***


Tiwi datang menemui Nevan di rumahnya. Rupanya sang putra tengah fokus dengan setumpuk berkas yang berserak di meja kerja.


"Apa kamu yakin?"


Nevan mendongak. Rautnya datar sekali.


"Apa kamu yakin akan menikahi Shanessa?" ulang Tiwi.


Nevan tidak menjawab. Ia justru kembali menekuri pekerjaannya dan baru berhenti ketika terdengar suara isakan dari sang ibu.


"Kali ini mama nggak akan memaksamu lagi," ucap Tiwi dengan suara parau. "Apa pun keputusanmu, akan mama dukung," lanjutnya. Kemudian ia kembali terisak.


Nevan bangkit dan berjalan mendekati Tiwi yang duduk di hadapannya, lalu memeluk sang ibu erat.


***


Gantari sedang memberikan kucing-kucing liar makanan di beranda samping rumah, ketika ponselnya berdering dan menunjukkan nomor tanpa nama. Meski begitu, Gantari tahu betul siapa pemiliknya. Ia termenung menatap layar ponselnya lama.


Ketika panggilan akhirnya diterima, Gantari tak lantas bicara. Ia diam sejenak, baru kemudian menjawab. "Halo?"


Begitu pula dengan orang di seberang sambungan, dia juga diam. Tak ada balasan dari ucapan Gantari barusan.


"Aku baik-baik saja," ucap Gantari.


"Aku merasa lebih tenang sekarang," lanjutnya lagi.

__ADS_1


Hening.


"Kakek?" Gantari menarik napasnya dalam, lalu melanjutkan, "Aku sudah memaafkan, Kakek. Jadi, aku mohon, Kakek juga bisa memaafkan aku."


__ADS_2