Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
S2: Ancaman


__ADS_3

Gantari baru saja pulang dari kediaman Ardiwinata karena ia dengar sang kakek sakit. Namun, syukurlah keadaan Darya baik-baik saja, hanya vertigonya yang sempat kambuh semalam.


Mengendari mobil dengan sedikit bersenandung membuat Gantari teringat pada kebiasaan Nevan, hingga ia terkekeh geli sendiri. Akhirnya, ia berinisiatif untuk mampir dan membuat sedikit kejutan untuk sang suami. Tadinya, ia cuma pamit pada Nevan mau ke rumah kakek saja.


Gantari memasuki Rawikara Retail dan menyapa beberapa karyawan yang ia kenal baik. Datang ke tempat itu memang kerap membuatnya seperti bernostalgia.


"Hai! Utami."


Gantari mendekat dan menyapa sekertaris Nevan yang tampak begitu sibuk di meja kerjanya. Utami yang baru menyadari keberadaan Gantari tampak terkejut. Sadar dari keterkejutannya, Utami akhirnya bangkit dan menghampiri Gantari dengan senyuman ramah.


"Hai, Gantari. Nyari Pak Nevan, ya?"


Gantari balas tersenyum. "Iya. Ada kan?"


"Lagi keluar." Utami melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu melanjutkan, "Mungkin sebentar lagi balik."


Gantari mengangguk paham. "Ya, udah. Aku tunggu di ruangan aja, ya."


Utami terperangah. Sepengatahuannya hubungan Nevan dan Gantari sedang tidak baik.


"Kamu ...." Pergerakan Gantari yang hendak berbalik menuju ruangan Nevan terhenti dan memilih kembali menatap Utami yang melanjutkan, "Kamu sama Pak Nevan baik-baik aja?"

__ADS_1


Gantari mengulum senyum dan itu membuat Utami terlihat kecewa. Terlebih ketika senyum itu semakin cerah saat mengatakan, "Alhamdulillah semakin baik."


Utami menundukkan kepalanya, lantas mengangguk dan tersenyum pahit. Dia melirik miris kotak makan yang berada di sudut meja kerjanya. Sebuah bekal yang sudah ia persiapkan untuk diberikan pada Nevan saat makan siang nanti. Tidak mudah bagi Utami menyiapkan mentalnya untuk seberani ini dan ketika ia sudah mulai berani, Gantari justru kembali.


"Pak Nevan baik banget, ya." Utami mengangkat kembali wajahnya, menatap Gantari lebih berani. "Nyariin kerjaan untuk orang yang udah nabrak kamu."


Utami kira tindakan Nevan yang bersikap baik pada Mariah merupakan pertanda jika hubungannya dengan sang istri semakin memburuk. Karena itulah, Utami berpikir untuk menjadikannya sebagai momen untuk menarik perhatian Nevan dengan cara memasakannya makanan kesukaan sang atasan.


Kedua alis Gantari bertaut. Ia tidak mengerti dengan ucapan Utami. "Maksud kamu?"


"Mariah. Namanya Mariah, kan? Dia bisa dapat pekerjaan berkat Pak Nevan."


Wajah Gantari tampak mengeras. Namun, ia tetap mencoba mengulas senyum. "Aku ke ruangan dulu, ya."


"Kita bicara sebentar."


"Aku sibuk."


"Itu perintah bukan tawaran!"


Utami akhirnya mengikuti Fikri ke tangga darurat karena ia merasa Fikri sedang tidak bercanda dengannya. Ia memperhatikan sekeliling dan sedikit terkejut ketika mendapati Fikri sudah berdiri begitu dekat dengannya.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain, sih?" sentak Utami tak suka.


"Ini kedua kalinya gue denger loe ngomong macam-macam sama mereka," ujar Fikri tajam. Selaras dengan tatapannya yang juga begitu tajam menghujam Utami.


Utami beringsut mendur. Ia mulai tidak nyaman dengan aura yang ditunjukkan Fikri.


"Kalau loe nggak bisa dapat kebahagiaan loe, jangan hancurin kebahagiaan orang lain!" Suara Fikri terdengar pelan, namun penuh penekanan, hingga membuat Utami berjenggit ngeri.


"A-aku ...."


"Ini baru peringatan. Sekali lagi gue denger loe jadi kompor, gue nggak janji masih bisa ngomong baik-baik sama loe!" Fikri mencengkram lengan Utami dengan sorot mata berkilat marah, lantas melepaskannya secara kasar. Kemudian, membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan Utami yang sudah gemetar.


Utami kembali melangkah mundur, lantas menopang tubuhnya pada pegangan tangga. Kakinya mendadak lemas.


Fikri terus melangkah dengan dada bergemuruh. Baginya cinta tak harus segila itu. Ia menjadi saksi betapa Nevan dan Gantari sudah menjalani hidup yang pahit dan dia harap jangan ditambah lagi.


Langkah Fikri terhenti ketika melihat Gantari keluar dari ruangan Nevan. Ia menghampiri istri atasannya itu dengan senyuman seperti biasa.


"Mau kemana? Pak Nevan bentar lagi balik."


"Oh, Fikri." Gantari tampak tidak fokus. "Itu ... tiba-tiba aku ingat sesuatu yang harus dikerjain. Jadi, aku harus pulang sekarang."

__ADS_1


Gantari menyelipkan rambutnya ke telinga tanpa mau menatap Fikri, lantas beranjak pergi dari sana. Fikri tidak bisa menahannya lagi. Ia hanya menatap Gantari yang kian jauh melangkah.


Tolong, jangan ada masalah lagi.


__ADS_2