
Gantari mengitari ruang tamu dengan gelisah. Sedari tadi dia menunggu Nevan yang tak kunjung pulang. Pada hal jam sudah menunjukkan pukul 16.40 WIB. Biasanya pukul 16.30 WIB suaminya itu sudah pulang. Terlambat 10 menit? Oh, oke.
Samar-samar suara derum mobil terdengar, membuat Gantari mengembuskan napas lega, lantas membuka pintu depan dengan gusar. Ada kabar yang membuat hatinya gelisah dan harus ia sampaikan secepatnya pada Nevan.
"Aku kira kamu lembur." Gantari berjalan keluar rumah, lantas mendekati Nevan. Meraih tangan sang suami dan menciumnya.
"Assalamualaikum," ucap Nevan tenang.
Gantari tertegun, lalu nyengir. Saking semangatnya, ia sampai lupa menyambut Nevan dengan salam. "Wa'alaikumsalam."
"Cuma terlambat 10 menit, kan?" Nevan menggeser lengan bajunya sedikit untuk melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Udah kangen, ya?" godanya, lalu tersenyum nakal.
Gantari mengerucutkan bibirnya, lalu menggeleng cepat. "Ada yang mau aku tunjukin sama kamu."
Kemudian, dengan tak sabaran Gantari menarik Nevan masuk ke rumah. "Lihat!"
Gantari menunjukkan sesuatu yang baru ia ambil dari atas meja depan televisi.
"Testpack?"
"Aku hamil, Dion!"
Nevan terperangah. Ia masih mencoba mencerna kabar yang baru saja Gantari sampaikan. Namun kemudian, senyum yang begitu sumringah terukir dari sana. "Kamu hamil, Dihyan?" tanya Nevan memastikan.
"Iya."
Nevan masih tidak percaya. Ia menatap Gantari lama sekadar memastikan jika yang ia dengar bukan candaan. Kemudian, masih dengan senyum yang super cerah, Nevan menarik Gantari dalam pelukannya, lantas tertawa bahagia.
"Alhamdulillah," ucap Nevan, lalu dengan bertubi-tubi mencium kening Gantari.
"Gimana ini, Dion?"
Ciuman yang diberikan Nevan sontak terhenti karena ucapan Gantari barusan. Ia beralih mengintip wajah Gantari dengan bingung seolah baru saja salah dengar.
__ADS_1
"Sekarang gimana?" ulang Gantari lagi dan kali ini alis Nevan bertaut. Ia melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Gantari serius.
"Gimana, apa?"
"Ya, gimana? Kita baru aja nikah, masa udah hamil." Gantari menghentakkan kakinya, lantas duduk di sofa depan televisi. Nevan yang masih belum mengerti mencoba mendekati Gantari dan duduk di sampingnya.
"Kamu takut?" tanya Nevan hati-hati. Ia memang pernah dengar, jika hamil merupakan hal cukup membuat was-was sebagian wanita.
Gantari menoleh menatap Nevan, lalu menggeleng. "Bukan itu."
"Terus kenapa?"
"Kamu nggak ngerti."
Nevan menggaruk kepalanya dengan telunjuk. Dia memang sedang tidak mengerti. "Makanya jelasin," pinta Nevan lembut. Ia menarik tangan Gantari, lantas menggenggamnya.
"Kita baru nikah, Dion."
"Iya, terus?"
"Emang kenapa?" tanya Nevan mencoba tetap sabar. Dia tahu ada hal yang membuat hati istrinya itu gusar.
Gantari kesal. Ia melepaskan tangan Nevan dari tangannya, lalu menundukkan kepala.
"Kamu mau kita menghabiskan waktu berdua dulu?"
"Bukan." Gantari masih menunduk, namun kali ini tangannya menarik-narik ujung bajunya sendiri.
"Terus, apa?" Nevan merendahkan wajahnya, mencoba mengintip wajah Gantari. Namun, tak lama karena Gantari kembali mengangkat wajahnya dan menatap Nevan ragu.
"Gimana kalau ...." Ada nada bimbang disana, hingga Gantari menghentikan ucapannya sejenak. "Gimana kalau orang-orang mengira ini anak di luar pernikahan."
"Astaga, Dihyan!"
__ADS_1
Nevan tergelak keras sekali. Ia merasa hal yang dikatakan Gantari barusan benar-benar lucu, hingga membuat Gantari mendelik sebal ke arahnya.
Nevan paham. Ia berdeham, mencoba menghentikan gelegar tawanya. Kemudian, mengulurkan sebelah tangan dan mengusap puncak kepala Gantari.
"Kamu itu wanita bersuami. Kamu lupa?"
"Tapi kita baru nikah tiga minggu, Dion."
"Oke, aku paham, tapi sejak kapan omongan orang jadi penting untukmu? Ini anak kita dan faktanya dia ada setelah pernikahan. Itu udah cukup, kan?"
"Tapi, orang nggak tau. Mereka pasti mengira kita nikah karena aku hamil."
Nevan menghela napasnya tak berargumen lagi karena saat-saat seperti ini wanita lebih butuh didengar ketimbang diyakinkan. Kemudian, tangan Nevan beralih pada pipi Gantari dan mengusapnya lembut, menunggu Gantari menumpahkan keluh kesahnya.
"Ini gara-gara kamu, sih?"
"Loh, kok aku?"
"Kamu keseringan buatnya," sembur Gantari, lantas bangkit dari sana meninggalkan Nevan yang melongo kaget.
***
Kakak-kakak Kece: Season dua? Nggak salah judul ini, Jika?
Jika: Katanya mau lihat Gantari hamil 🙄
Kakak-kakak Kece: Wkwkwk iya, sih.
Jika: Demi kamu, loh, ini. Demi kamu.
Kakak-kakak Kece: Terus novel yang lain gimana, Jika?
Jika: Tetap lanjut.
__ADS_1
Kakak-kakak Kece: Alhamdulillah.
Jika: Tetap lanjut kalau Jika niat, HOAKAKAKAK.