
Nevan sedang duduk di teras dengan menggunakan kaos oblong berwarna putih. Sesekali ia mendongak memperhatikan kelip bintang di langit dengan sepiring ubi rebus di sampingnya.
Gantari muncul dari belakang. Ia menatap sendu punggung suaminya, kemudian beralih pada ubi rebus buatannya. Kerongkongannya selalu terasa pahit ketika melihat Nevan si anak mami kini telah menjalani hidup sebagai kuli. Ia segera menguatkan dirinya kembali, kemudian memeluk Nevan dari belakang dengan ceria.
"Makan ubi rebus ditambah kopi, beugh, mantap," ucapnya.
Nevan terkekeh, lalu mengecup singkat puncak kepala Gantari. "Ide bagus," balasnya.
Gantari melepas pelukan, lantas duduk di samping Nevan. "Aku cari dulu sebentar, ya. Lima menit," balasnya sembari mengangkat lima jarinya.
Nevan mengangguk, namun ketika melihat Gantari mulai memakai sendal, Nevan berucap, "Kopi hitam aja, ya, Sayang."
Gantari mengernyit, lalu duduk lagi. "Sejak kapan kamu suka kopi hitam?"
Nevan tertawa hambar. "Tadi siang Bang Ahmad nawarin kopi hitam di proyek dan rasanya enak juga."
"Dan murah," lanjut Gantari sambil mengerling. Ada air tipis yang menyelimuti bola matanya, lantas ia menunduk, mencoba menyembunyikannya dari Nevan.
"Ayo! Aku temenin ke warung," ajak Nevan semangat. Bukannya ia tidak tahu, tapi suasana seperti ini harus segera dialihkan.
Gantari mendongak dan tersenyum manis. Ia mengangguk, lalu meraih tangan Nevan. Kemudian mereka berjalan ke warung sambil bergandengan.
"Kopinya berapa sendok?" tanya Gantari setelah tiba di rumah lagi, membuat Nevan menggaruk kepalanya tak mengerti.
"Dua sendok aja, ya," inisiatif Gantari yang disambut anggukan setuju Nevan.
"Gulanya?" tanya Gantari lagi.
"Dua sendok juga biar adil," balas Nevan cekikikan dan akhirnya mereka sepakat.
Setelah satu gelas kopi hitam siap diseduh, mereka kembali lagi ke teras karena ubi rebus sudah menunggu di sana. Nevan langsung menyeruputnya, lantas berdecak nikmat membuat Gantari mencibir tidak percaya.
Nevan kembali mengambil ubi rebus yang sudah tak hangat lagi dan memakannya sambil menatap langit malam, membuat hati Gantari terisis lagi melihatnya.
Lelaki di hadapannya ini biasa hidup serba tercukupi, namun memilih hidup sepahit ini demi dirinya. Gantari hampir menangis, lantas buru-buru diambilnya gelas kopi Nevan dan langsung meminumnya, membuat Nevan melotot kaget.
Gantian Gantari yang mendecak nikmat, lalu mereka tertawa bersama. Begini saja sudah bahagia.
***
Nevan masih duduk sendirian di sofa, walaupun Gantari sudah pamit pulang beberapa saat yang lalu. Ia merasakan hatinya teriris, hingga menyisakan pedih yang teramat sangat ketika kenangan itu berputar lagi. Nevan memukul dadanya sendiri karena rasanya sesak sekali, hingga untuk bernapas saja begitu sulit.
Bibirnya tampak bergetar, lantas tangisnya pecah begitu saja. Hanya sedu sedan yang terdengar begitu pilu mengema ke setiap penjuru ruangan. Di bawah lampu pijar yang memancarkan warna keemasan ia terisak sendirian.
Diam-diam Bi Murni memperhatikan semua dari jauh. Air matanya ikut tumpah melihat Nevan begitu tampak terluka.
Sedangkan Gantari, ia sama tersiksanya. Pak Sarif bahkan menepikan mobilnya sejenak, memberi waktu nona mudanya itu untuk terisak hingga tenang, karena ia sadar, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
***
Setelah menangis, dada Nevan sedikit lega. Ia beranjak ke kamar dan bersiap mau keluar. Menikmati tamparan angin selalu menjadi alternatif terbaik memperbaiki perasaan baginya. Nevan mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu.
Nevandra Ardiona
21.58 WIB
Gue baik-baik aja.
Nevan melempar asal ponselnya ke atas ranjang setelah pesan terkirim pada Fikri. Lebih baik dia laporan, dari pada pintunya jebol oleh mantan preman itu. Kemudian ia kembali mencari pakaian di lemari, hingga ponselnya berdenting tanda sebuah pesan diterima.
Fikri Pradana Putra
22.03 PM
Udah makan belum?
Nevandra Ardiona
23.05 PM
Nggak usah ngelunjak
***
Jika biasanya Fikri yang akan mondar-mandir menunggu Nevan, tapi hari giliran Widia. Dia dari tadi mondar-mandir dan mendesak Utami untuk mencari tahu apakah si bos hari ini datang atau tidak.
"Tunggu bentar lagi, deh, kak," ucap Utami tak enak.
Widia pergi lagi dengan wajah tertekuk karena berkas-berkas tidak bisa dikirim kalau belum ditandatangani Nevan. Itu berarti pekerjaannya jadi tertunda. Fiuh!
Akhirnya orang membuat Widia uring-uringan pagi ini datang juga. Dia melangkah santai memasuki pintu dan membuat hampir semua karyawannya terperangah.
"Ba-bapak udah sehat?" Utami yang menyambut pertama kali.
Nevan tak menjawab. Ia hanya mengerling pada sekretaris manisnya itu.
"Ternyata dua hari libur, bapak potong rambut? Keren, Pak. Kayak Song Joong Ki," celetuk Nanda polos.
Nevan memegang ujung rambutnya. Ya, dia baru saja mengganti model rambutnya menjadi comma hairstyle. Kemudian tersenyum manis.
"Semua berkas yang ingin saya tanda tangani, berikan pada Gantari," Nevan memutar tubuhnya menghadap Gantari, lalu melanjutkan titahnya, "Gantari, bawa berkasnya ke ruangan saya."
Gantari melongo. Begitu juga dengan Utami. Apa selama liburan dia kena amnesia, sampai lupa yang mana sekretarisnya?
__ADS_1
"Kayaknya si bos habis piknik, deh. Sumringah banget," ujar Widia sembari menyerahkan setumpuk berkas pada Gantari.
"Iya, kayaknya kita butuh piknik juga nih, biar bisa ganti model rambut," timpal Nanda yang juga ikut menyetor berkas pada Gantari.
Gantari melotot melihat berkas sudah menumpuk di mejanya, lalu dengan susah payah ia mengangkatnya menuju ruang Nevan.
"Pak," katanya terengah, "Kayaknya Bapak salah ngasih intruksi, deh."
Gantari meletakkan semua berkas tepat di hadapan Nevan, lantas melanjutkan, "Ini tugas Utami, sekertaris bapak, bukan tugas saya."
Nevan melirik Gantari, lalu mengangkat sebelah alisnya.
"Duduk," titahnya.
Gantari diam saja. Dia masih betah berdiri tegak. Namun, kemudian duduk juga setelah Nevan mengedikkan dagunya.
"Mulai sekarang ini tugas kamu," katanya santai, sembari membuka salah satu berkas.
Gantari hendak protes, namun keburu di sela Nevan. "Pikiran saya sekarang sedang tidak fokus. Bagaimana kalau saya salah mengambil keputusan?"
Gantari diam, menatap atasannya itu dengan tajam.
"Bukankah tugas utama seorang risk analyst adalah membantu perusahaan untuk membuat keputusan bisnis yang baik?"
Gantari tidak tahan untuk tidak mendengus ketika mendengar semua itu. Membuat Nevan tersenyum tipis, lalu melanjutkan menandatangani berkas kedua, ketiga, dan seterusnya tanpa mengajak Gantari diskusi sedikit pun seperti yang tadi dia sampaikan.
"Ok. Semua sudah selesai, sekarang kamu boleh keluar," ujar Nevan tiba-tiba.
Gantari menghela napasnya tak percaya. Dari tadi dia cuma duduk diam memperhatikan Nevan menggoreskan tanda tangan, buang-buang waktu saja.
"Ayo, keluar," ulang Nevan.
Gantari bangkit dengan kasar, lalu berbalik menuju pintu hendak keluar, namun Nevan memanggilnya lagi.
"Gantari?"
Gantari menoleh cepat dengan tatapan siap membunuh.
"Bawa sekalian berkasnya," lanjut Nevan cuek.
"Istighfar, istighfar," gumam Gantari sembari mengangkat tumpukan berkas.
Fikri datang dengan senandung dangdut. Ia langsung masuk ke ruangan Nevan, setelah mengedipkan mata genit pada Gantari terlebih dahulu.
"Whoa! Ternyata beneran gunjingan cewek-cewek, kalau loe mendadak mirip Song Joong Ki," Fikri mendekatkan wajahnya pada rambut Nevan.
"Itu gaya rambut koma, kan?" tanya Fikri masih antusias.
__ADS_1
Nevan hanya membalasnya dengan tatapan datar.