
Apa kabar dunia? Masih sanggup berjuang hari ini? Jangan mau kalah dengan Nevandra Ardiona, karena kali ini dia akan kembali berjuang meyakinkan Gantari.
Hubungan mereka sudah baik-baik saja. Sudah terlampau baik malah, jadi Nevan agak sedikit was-was kalau kabar yang dibawanya akan menjadi guncangan.
Tidak! Mariah bukan masalah, mungkin.
Nevan berjalan menuju rumah Gantari sore ini. Wajahnya yang tampak lelah berubah sumringah ketika melihat Gantari sedang duduk di kursi teras.
Perempuan cantik itu sedang memotong kuku rupanya, jadi dia tidak menyadari kehadiran Nevan.
"Cukup kuku aja yang dipotong, cintaku jangan."
Uhuk!
Gantari mendongak dan mendapati Nevan sedang nyengir lebar. Sedangkan, si perempuan hanya mencibir saja.
"Nggak pakai bucin berapa, ya, Bang?"
"Nggak bisa. Udah harga mati," kekeh Nevan, lalu mengacak rambut Gantari sekilas. Kemudian, ia memilih duduk di samping sang wanita pujaan.
"Hari ini hari apa?" tanya Nevan kemudian.
"Jumat." Gantari yang sudah selesai, memperhatikan kuku tangannya sejenak. Sekadar memastikan jika semuanya sudah rapi.
"Pantes. Salah satu hari baik buat potong kuku." Nevan mengangguk. Sedikit mengingat kata-kata guru agamanya beberapa tahun yang lalu. Kemudian, dia sedikit terkejut karena Gantari menarik tangan kanannya.
"Mau ngapain?" tanya Nevan was-was karena Gantari mulai mengarahkan pemotong kuku ke arah jarinya.
"Selain hari Jumat, hari Senin sama Kamis, bagus juga," jelas Gantari mengabaikan pertanyaan Nevan barusan, lantas mulai memotong kuku telunjuk tangan kanan sang kekasih.
Hati Nevan menghangat. Dulu, ya, dulu ... Ini adalah rutinitas yang selalu Nevan tunggu setiap minggunya dan dia sama sekali tidak menyangka akan merasakannya kembali.
"Kangen?"
"Hm?" Nevan terkejut karena rupanya Gantari sudah menatapnya dan itu membuat Nevan jadi salah tingkah.
"Banget," jawab Nevan akhirnya.
Gantari tersenyum, lalu kembali melanjutkan aksinya. "Selama ini siapa yang motong kuku kamu?"
"Aku sendiri."
"Dulu bukannya nggak bisa?" Gantari menoleh lagi.
"Dulu bukannya nggak bisa, tapi manja sama kamu. Kalau sekarang mau nggak mau potong sendiri, dari pada dipotongin Bi Murni," kekeh Nevan, membuat Gantari ikut ternyum geli.
"Emang manja," tekan Gantari sembari menyipitkan matanya ke arah Nevan.
"Sama kamu. Cuma sama kamu."
Pandangan mereka beradu beberapa saat. Tatapan hangat yang saling merindukan, namun segera terputus karena Gantari memilih menunduk melanjutkan kegiatannya. Sebenarnya, demi menyembunyikan rona merah di pipi.
"Dihyan, dua hari besok kita nggak akan ketemu," ujar Nevan memulai.
Tersirat raut kecewa di wajah Gantari yang gagal ia tutupi.
"Ada kerjaan di luar kota?"
Nevan mengangguk. "Di Jogja."
Gantari hanya mengangguk paham dan akan melanjutkan memotong kuku Nevan lagi, ketika Nevan melanjutkan, "Dengan Mariah."
Ucapan Nevan tersebut sukses membuat pergerakan Gantari terhenti. Kali ini rautnya berubah terganggu. "Mariah?"
Nevan melepaskan tangannya dari tangan Gantari, lantas beralih menggenggamnya. "Iya, Pak Huda sakit, jadi ..."
__ADS_1
Kemana hilangnya semua kalimat penjelasan yang sudah Nevan rancang?
"Berapa hari?" tanya Gantari tiba-tiba.
"Dua hari."
"Berdua aja?"
"Sama Fikri juga."
Gantari tidak tahu. Apa ia harus lega karena mereka tidak pergi berdua atau tetap harus khawatir karena yang pergi Fikri, bukan dirinya.
"Dihyan, kamu ikut aja."
Seolah tertangkap basah, Gantari hanya bisa tersenyum hambar. "Profesional, dong, Pak CEO."
Meski sebenarnya ada perasaan ingin mengiyakan tawaran tersebut, namun segera Gantari tekan. Dia tidak mungkin segila itu.
"Kamu beneran nggak apa-apa?"
"Emang kenapa?"
Kali ini Nevan yang menunjukkan raut kecewa. Ketakutannya tentang kecemburuan Gantari rupanya tidak terjadi dan itu justru lebih menyesakkan.
Gengsi itu ... bisa dimusnahkan dari dunia ini nggak, sih?
***
Leo tidak sabar untuk bertemu Angkasa. Sudah tiga hari dia sakit dan pagi ini dia ingin secepatnya stor wajah pada Big Bos. Jadi, pagi-pagi dia sudah masuk ke ruangan Angkasa dan menunggu di sana.
"Pak Ang!"
Angkasa terperanjat. Dia yang baru saja masuk ke ruangannya langsung disambut sang asisten pribadi dengan begitu antusias.
"Udah, Pak." Leo menjawab dengan cengiran lebar. Tiga hari dirawat karena tifus membuatnya bersyukur bisa bekerja lagi.
"Kok cepet banget?"
Luntur sudah wajah sumringah Leo. Positif thinking, Loe. Positif thinking!
"Saya udah kuat buat kerja, kok, Pak. Nggak usah khawatir."
"Bukan, gitu. Saya masih belum puas ngerepotin Shanessa. Kamu bisa pulang lagi, nggak?"
"Pak Ang!" protes Leo kesal, hingga membuat Angkasa membulatkan matanya terkejut.
***
"Jadi berangkat?"
Nevan tersenyum karena pagi-pagi Gantari sudah menelponnya.
"Jadi. Ini udah di bandara."
Bandara? Kenapa nggak ngasih kabar waktu mau berangkat?
Gantari memilih mengangguk. Dia jadi tidak tahu harus bicara apa lagi dan memilih memainkan cincin yang tersemat di jari manisnya dengan jempol.
"Kenapa diam?"
"Hati-hati, ya. Kalau udah sampai ...." ucapan Gantari terpaksa terputus karena seseorang bersuara memanggil nama Nevan, hingga membuat kening Gantari berkerut.
"Pak Nevan, kita harus ke pesawat sekarang."
Mariah?
__ADS_1
"Oh, oke. Dihyan?"
"Hm?"
"Aku berangkat, ya."
"Iya."
Gantari meletakkan kembali ponselnya ke atas meja setelah panggilan terputus dengan helaan napas yang terlampau panjang untuk sepagi ini. Sejenak pandangannya terpaku pada sebuah cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
Lamunannya terganggu karena terdengar suara Anwar yang meneriakkan namanya dari luar.
"Jadi belanja nggak, Kak Dee?" Teriak Anwar ketika Gantari menyingkap pintu.
"Jadi. Ganti baju dulu, ya," balas Gantari setelah tersenyum geli karena Anwar sudah siap dengan menenteng tas belanjaan dan mendekat ke arahnya.
"Hilih, udah cakep gitu, Kak. Kalau cakep-cakep banget nanti Bang Nevan marah, loh."
Gantari tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil jaket parka yang dulu pernah dipakainya bersama Nevan ketika jalan-jalan pagi.
Nevan, lagi.
Gantari buru-buru menggeleng, lantas segera duduk di belakang Anwar. Siap meluncur ke pasar tradisional pagi ini.
"Kak Dee udah izin sama Bang Nevan, kan? Nanti jadi gosip, aku nggak salah, loh."
"Bagus malah kalau jadi gosip, biar impas," balas Gantari sekenanya.
Anwar tidak lagi melanjutkan obrolan karena fokus melajukan kendaraan. Kondisi jalan agak ramai dan dia terpaksa pandai-pandai mencari celah agar tidak terjebak macet.
Hari ini Anwar sedang libur, sehingga bisa menemani kakak tersayangnya itu untuk belanja. Rencananya, Gantari ingin masak banyak dan membagi-bagikannya pada tetangga terdekat. Hari ini adalah ulang tahun Bulan, ibunya.
"Pelan-pelan, mau lampu merah tuh." Gantari mengingatkan. Maklum, anak muda kadang nekatnya kelewat batas. Terlalu percaya diri jika bisa melalui sebelum lampu berubah merah dengan sekali gas.
"Iya, Kak, tenang. Hari ini aku bawa motor pelan-pelan kayak kakek-kakek."
Gantari tertawa, lalu mengetuk pelan helm Anwar. Namun, tawa Gantari langsung memudar ketika melihat sosok yang sedang mengendarai motor sport sedang antre tak jauh dari mereka.
"Fikri?"
***
Catatan:
Bela-belain update demi seseorang yang sedang gulang guling di kasur.
Bang Nevan : Maksudnya aku?
Jika : Dih, jangan buat orang-orang salah paham, deh, Bang.
Bang Nevan : wkwkwk.
Jika : Nggak usah ketawa. Sana balik. Jika kena serbu, noh, gara-gara Abang.
Bang Nevan : Serius?
Jika : Biasa aja tuh mata. Nggak usah digede-gedein.
Bang Nevan : Salah mulu dari tadi.
Jika : Emang. Beginilah caranya membunuh perasaan.
Bang Nevan: Sedih banget, sih, Jika.
Jika : Huweeeee 🤧
__ADS_1