
Rute selanjutnya adalah ke rumah keluarga Nevan. Mereka sengaja datang dengan tidak memberi kabar karena jika bilang-bilang sang ibu akan masak besar.
Tiwi tidak bisa berkata-kata ketika mendengar kabar itu. Dia langsung memeluk sang menantu dan mengucapkan banyak doa dan harapan.
"Kamu jangan capek-capek. Kalau perlu tambah satu lagi buat bantuin Bi Murni." Begitulah wejangan Tiwi. Dulu, dia harus menunggu lama untuk mendapatkan Nevan dan syukurlah kini untuk mendapatkan cucu tidak perlu waktu lama.
"Kalau mau apa-apa bilang aja, nanti mama buatkan. Nggak usah beli di luar," lanjut Tiwi lagi.
Fauzan mengangguk setuju. "Biasanya bakal minta aneh-aneh tuh, Van. Dulu mama kamu minta ikan lele goreng yang kumisnya harus tujuh."
"Terus? Dapat, Pa?" tanya Nevan ikut penasaran.
"Ya, enggak. Papa potong aja satu kumisnya."
Semua tergelak mendengar jawaban Fauzan tersebut. Mengenang masa lalu terkadang memang mengasikkan.
"Jangan pergi jauh-jauh dulu, ya, Gantari. Nggak bagus lagi hamil pergi jauh-jauh," ucap Tiwi setelah tawanya reda.
Nevan dan Gantari saling bertatapan. Seolah sudah di skak mat duluan sebelum memulai.
"Minggu depan rencananya kami mau ke Surabaya, Ma."
"Nggak usah. Kamu aja yang pergi sendiri. Gantari jangan dibawa jauh dulu," protes Tiwi cepat.
Diam-diam Fauzan memperhatikan raut kecewa yang ditunjukkan Gantari. Maka, ia ikut bersuara. "Nggak apa-apa. Anak itu harus dibiasakan kuat dari kandungan."
Gantari yang menunduk mulai mengangkat wajahnya karena merasa mendapatkan pembelaan. Sedangkan, Tiwi yang sudah hendak protes terpaksa bungkam ketika Fauzan melanjutkan, "Kalau kata dokter nggak apa-apa, ya udah pergi aja."
"Iya, nanti konsultasi ke dokter dulu," timbal Nevan, hingga membuat Tiwi akhirnya mengalah pasrah.
Kedua laki-laki itu memilih duduk di teras sambil minum kopi. Sedangkan, Gantari dan Tiwi lanjut ngobrol di dalam.
"Perasaan kamu gimana?"
Gantari terperangah. Dia memang tidak memiliki tempat berbagi. Andai ibunya masih hidup, pasti dia bebas bercerita ini dan itu.
__ADS_1
"Awalnya takut, Ma," aku Gantari.
Tiwi mengulum senyum, lantas menggenggam tangan menantunya itu. "Wajar. Semua perempuan waktu hamil pertama pasti ada perasaan takut. Mama juga dulu gitu."
"Melahirkan itu ... sakit nggak, Ma?"
Tiwi terkekeh. "Kamu udah mikir sampai kesitu?"
Pertanyaan Tiwi itu dibalas anggukan malu-malu oleh Gantari.
Tiwi menghela napasnya pelan, lalu tersenyum tulus ketika menjawab, "Ya, jelas sakit. Kalau nggak sakit, nggak mungkin Allah memuliakan seorang ibu."
...****************...
"Kamu nggak jadi keluar kota?"
"Jadi." Nevan yang sedang mengutak-atik laptopnya di atas ranjang, menoleh sebentar, lantas kembali asik lagi.
"Kapan? Katanya beberapa hari lagi. Ini udah seminggu, loh."
Gantari mengerucutkan bibirnya, hingga membuat Nevan tertawa.
"Biasanya kalau urusan luar kota aku ngajak Fikri, tapi urusan yang ini aku ajak Utami aja, deh. Biar sekalian bisa nemenin kamu."
"Lah, sama Fikri juga nggak apa-apa. Aku nggak perlu ditemenin, Dion. Kan ada kamu."
Nevan menggeleng tegas. Ada pertimbangan lain yang sudah ia pikirkan sejak kemarin. "Aku nggak akan ngajak Fikri. Yang ada, dia malah godain kamu seharian."
Jawaban Nevan tersebut justru membuat Gantari tertawa geli. Lucu saja melihat suaminya cemburu pada asistennya sendiri. "Harusnya aku yang cemburu. Kamu sama Fikri itu terlalu mesra."
Nevan melebarkan matanya kaget. Ia meletakkan laptop di pangkuannya ke atas nakas, lantas memutar tubuhnya menghadap Gantari. "Kamu dengar gosip di kantor, ya?"
"Nggak dengar juga, aku udah curiga."
"Dihyan!" protes Nevan tidak terima. "Kamu kira-kira, dong, kalau curiga."
__ADS_1
Gantari makin meledakkan tawanya, membuat Nevan menggelitiki pinggangnya supaya Gantari berjanji berhenti tertawa. Bukannya berhenti, tawa Gantari makin keras, hingga keduanya terjatuh dan berbaring di atas di ranjang.
"Kamu beneran nggak ada pengen sesuatu, ya, Dihyan?" tanya Nevan setelah Gantari berhenti tertawa.
"Nggak ada."
Nevan menggulingkan tubuhnya, hingga ke posisi tengkurap. Kemudian, menatap wajah Gantari yang masih berbaring. "Tapi kata Vivian hamil muda justru banyak pengennya."
"Tapi aku nggak pengen apa-apa, Dion."
"Tapi aku pengen, kamu ngidam."
"Dih!"
Nevan nyengir. Namun, introgasinya belum usai. "Kamu kalau pagi nggak muntah-muntah?"
Gantari menatap Nevan dalam, lalu menggeleng.
"Kata Vivian, dia dulu muntah terus kalau pagi."
Gantari bangkit dari tidurnya, lantas kembali duduk. "Vivian mulu. Kamu curhat apa aja?"
Nevan kembali menggulingkan tubuhnya. Kini dia bahkan meletakkan kepalanya di pangkuan Gantari.
"Nggak curhat. Cuma cerita-cerita aja sambil lembur."
"Oh! Pantes kamu betah lembur."
"Kamu cemburu?" goda Nevan tersenyum usil.
"Enggak."
"Vivian itu anaknya udah dua. Terus aku mau nanya-nanya sama siapa, dong? Sama Utami? Jangankan anak, pacar aja dia belum punya."
Gantari terkekeh, lalu mengusap sayang rambut Nevan.
__ADS_1
"Tenang aja. Hati ini sudah ada yang memiliki dan nggak akan berpaling, apalagi cari yang lain."