Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Lima Puluh


__ADS_3

Meski terlihat tegar, rupanya Gantari gentar juga. Air matanya sudah menetes-netes seiring dengan langkah kakinya yang kian cepat.


Dia menghancurkan kebahagiaan orang lain?


Akan ada orang yang terluka demi kamu dan kamu juga tetap tidak akan bisa bahagia.


Ucapan Angkasa itu terus saja berdenging menyiksa telinga dan hatinya. Tiba-tiba bayangan Shanessa melintas di pikirannya. Shanessa yang tersenyum. Shanessa yang menangis. Dan ... Shanessa yang hancur.


Bahkan sesampainya di kantor pun Gantari masih tidak bisa konsentrasi. Rekan-rekannya sedang mencurahkan kebahagiaan karena memenangkan tender, tapi bagi Gantari itu sudah basi.


Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Nevan.


Gantari Dihyan Irawan


Kamu sedang apa? 13.45 PM


Read


Nevandra Ardiona


Bekerja. Ada apa? 13.55 PM


Read


Gantari Dihyan Irawan


Nggak apa-apa. Tiba-tiba aku merindukanmu.


13.56 PM


Read


"Gantari ayo makan. Pak Ang yang teraktir." Fajar mengansurkan seloyang pizza pada Gantari yang disambut Gantari denga senyum tipis.


Dia sedang tidak ingin melihat atau bahkan mendengar nama manusia satu itu sekarang.


"E-hm!"


Tanpa menoleh pun Gantari tahu siapa pelakunya. Dia lebih memilih meraih sebotol air mineral dan membuka tutupnya tanpa berniat minum.


"Gantari, setelah ini siapkan rapat, ya," titah yang maha biasa saja.

__ADS_1


Mau bagaimana pun Gantari harus bersikap profesional, jadi sudah payah dia membalas tatapan Angkasa dan mengangguk menyanggupi.


Seketika Gantari sadar, jika Angkasa tengah tersenyum miring padanya. Seolah sedang menertawai dirinya.


***


"Pacar! Pulang bareng yuk."


Gantari yang baru saja berjalan keluar kantor dengan kepala tertunduk langsung menoleh. Sontak senyumnya terkembang begitu saja ketika melihat Nevan.


Nevan balas tersenyum. Ia mengembuskan napasnya lega melihat Gantari baik-baik saja.


"Capek banget kayaknya, ya?"


Tidak ada jawaban yang diterima Nevan karena Gantari hanya berjalan mendekati dirinya dalam diam, lantas memeluk pemuda jangkung itu begitu saja. Hingga, membuat Nevan gelagapan.


Gantari masih tidak bicara karena ia memang sedang tidak ingin melakukannya. Ia hanya menelusupkan wajahnya semakin dalam ke dada bidang Nevan. Mencoba bersembunyi di sana dan mencari tempat teraman dari serangan rasa bersalah yang menghantuinya hari ini.


Nevan tahu betul, jika telah terjadi sesuatu pada Gantari. Itu sebabnya, ia datang ke sini. Pesan yang dikirimkan Gantari siang tadi sudah cukup menjadi alasan bagi Nevan untuk mengkhawatirkan perempuan yang kini berada dalam pelukannya.


Ia juga memilih diam dan tidak bertanya lagi. Satu-satunya hal yang ia lakukan adalah membalas pelukan Gantari erat.


"Aku lagi nggak mau pulang," ucap Gantari setelah masuk ke dalam mobil.


"Sepertinya itu lebih baik."


Cinta Luar Biasa dari Andmesh menjadi lagu pengantar bagi Gantari dalam lamunannya. Mungkin saja lagu itu sudah lama selesai dan berganti dengan lagu lain, Gantari sudah tidak lagi menyadarinya.


Ia baru kembali sadar dan tersentak ketika Nevan membukakan pintu untuknya.


"Sudah sampai," ucap Nevan dengan cengiran. "Mau aku gendong?"


Gantari melotot, lalu melompat keluar dengan cemberut, membuat Nevan terkekeh sediri.


"Bi Murni ada, kan?" tanya Gantari memastikan.


"Ada. Apa disuruh pulang aja?" goda Nevan, lalu menutup pintu mobilnya.


Gantari menoleh, lalu mendelik tajam pada Nevan. Tangan kurusnya juga spontan mencubit pinggang Nevan, hingga si jangkung meringis dalam tawanya.


Sambutan hangat diberikan Bi Murni pada Gantari. Sesekali ia melontarkan godaan yang membuat pipi Gantari bersemu merah.

__ADS_1


"Nanti biar aku ambil sendiri minumnya, Bi," tolak Gantari ketika Bi Murni menawarkan minuman.


"Iya, Bi. Biarin Dihyan membiasakan diri buat jadi nyonya rumah ini," celetuk Nevan sembari melempar jasnya ke sofa. Kemudian, ia menghenyakkan dirinya sendiri di sana. Tangannya bergerak untuk melonggarkan dasi dari lehernya dengan senyum terkulum, karena Gantari lagi-lagi mendelik padanya.


Sedangkan, reaksi Bu Murni lebih ekstrim karena sekarang wanita paruh baya itu sudah meledakkan tawa dengan tangan yang memukul pelan lengan Gantari.


"Bibi tinggal ke belakang dulu, ya. Mau telponan sama temen SMP," pamit Bi Murni, lalu melenggang menuju kamarnya setelah melihat Nevan mengangkat ibu jarinya.


"Bi Murni seru, ya," ucap Gantari setelah mengantar kepergian Bi Murni dengan senyum geli.


"Seruan kamu, Sayang," balas Nevan sembari menepuk sofa di sampingnya. Sebuah isyarat agar Gantari segera duduk di dekatnya.


Gantari menurut. Lagi pula kakinya juga sudah pegal berdiri dari tadi, tapi dia tidak memilih duduk melainkan berbaring di pangkuan Nevan.


Manja mode on.


Sudah lama mereka tidak begini. Rasanya rindu juga. Perlahan Nevan mengusap lembut rambut Gantari, hingga Gantari memiringkan tubuhnya ke arah Nevan dan memejamkan mata.


"Apa aku merebutmu, Dion?"


"Apa?" Nevan mengerutkan keningnya takut salah dengar, tapi sayangnya Gantari tidak ingin mengulangi ucapannya lagi.


"Apa aku perempuan jahat?"


Nevan yakin ia tidak salah dengar.


"Apa ada yang bilang macam-macam padamu?"


Gantari menggeleng. "Tiba-tiba merasa begitu," jawabnya pelan.


Nevan memang pundak Gantari dan memintanya untuk duduk. Dia ingin menatap wajah Gantari dan sorot matanya.


"Angkasa, kan?"


Gantari tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya.


"Dengar." Nevan menangkupkan telapak tangannya di wajah Gantari. Menatap wanita itu hangat. "Kita sudah memulainya dari awal dengan susah payah, jadi jangan menyerah lagi," lanjutnya parau.


"Berpikir menyerah pun nggak boleh," tekan Nevan. Tangannya turun ke pundak Gantari.


Perlahan Gantari mengulas senyum tipis, berbanding terbalik dengan matanya yang tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sayang." Nevan menarik Gantari dalam pelukannya. Mendekapnya begitu erat, seolah takut dilepaskan. "Bagaimana pun akhir cerita ini, kita lalui semuanya bersama."


"Bersama," ulangnya lagi.


__ADS_2