Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
S2: Mas


__ADS_3

"Dion, hp-mu bunyi tuh!"


"Dion, lihat ini, deh!"


"Dion, bisa tolong ambilkan talenan."


"Dihyan?"


"Ya?"


Nevan menyenderkan tubuhnya ke meja pantry, menatap serius Gantari yang sedang memotong bayam.


"Kayaknya kita harus ngubah panggilan, deh. Masa kamu manggil aku Dion-Dion aja."


Gantari menoleh, membalas tatapan Nevan dengan bingung. "Biasanya juga nggak masalah."


"Tapi kurang mesra," balas Nevan cepat. Ia kembali menegakkan tubuhnya dan berdiri di samping Gantari yang bersiap menggoreng bawang untuk menumis.


"Terus manggil apa? Bang Nevan?"


"Jangan," protes Nevan cepat. Entah kenapa ia tidak suka dipanggil begitu.


"Terus apa?"


Nevan tampak berpikir sejenak sambil menggaruk-garuk dagunya. "Gimana kalau Ayah-Bunda?"


Gantari langsung menggeleng tegas. "Kayak anak SD pacaran."


Nevan mengerucutkan bibirnya. Kemudian, kembali berpikir. "Honey?"


"Ogah!"


Benar juga. Gantari disuruh manggil begitu mana mungkin mau.


"Mas?"


Nevan tersentak. Ia menoleh menatap Gantari yang juga menatapnya dengan senyum manis.


"Mas, ambilin penggorengan, dong."


Uhuk!


***

__ADS_1


Nyatanya hidup memang harus terus dilalui. Minggu ini Nevan dan Gantari mondar-mandir ke Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan dan hasilnya baik-baik. Mungkin, memang Tuhan belum berkehendak untuk memberi mereka kepercayaan lagi.


"Mas, jangan pakai baju itu dong!"


Nevan terlonjak kaget. Ia baru saja melangkah keluar kamar mandi dengan bersenandung dan langsung disambut demikian oleh sang istri.


Gantari yang sedang melipat pakaian, bangkit dan berjalan menghampiri Nevan dengan sebuah kaos putih di tangannya.


"Pakai ini aja," katanya sembari menyodorkan kaos tersebut.


Nevan yang semakin bingung, akhirnya menunduk. Memperhatikan kaos hitam yang sedang dikenakannya dengan saksama. Tidak ada yang salah.


"Emang baju yang ini kenapa, Dihyan?" tanya Nevan bingung sambil memegang ujung kaos hitam yang dikenakannya.


"Nggak suka. Jelek. Mas lebih keren pakai baju putih."


Nevan melongo. Apa tadi kata Gantari? Jelek? Bukannya dulu dia tergila-gila setiap kali Nevan memakai baju hitam?


Gantari tidak peduli dengan tampang bingung sang suami. Ia langsung memutar tubuh Nevan dan mendorongnya kembali ke dalam kamar mandi.


"Buruan ganti baju, ya! Aku siapin makan malam," teriak Gantari dari luar.


***


"Hari ini jangan terlambat, Pak."


"Gue serius. Meeting hari ini penting."


"Iya-iya!"


Tut! Sambungan terputus dan Nevan langsung melempar ponselnya ke atas ranjang. Belakangan, Fikri makin cerewet saja. Seingatnya ia cuma terlambat sekali, ehm ... mungkin dua kali, tapi tidak seharusnya Fikri jadi bersikap berlebihan begitu, kan? Lagi pula Nevan sudah siap dan tampan paripurna.


Nevan memperhatikan pantulan dirinya di cermin panjang. Kemeja dongker lengkap dengan dasi motif arsir sudah membuat Nevan tampak begitu memukau. Ia mengangkat tangan kirinya dengan penuh gaya untuk sekedar mengintip jam tangannya di sana dan masih ada cukup waktu sampai meeting di mulai. Kenapa Fikri seheboh itu? Dia tidak akan terlambat!


Nevan berbalik dan meraih jas yang tersampir di punggung kursi. Kemudian, menatap cermin lagi. Sempurna!


"Astaga! Kenapa pakai kemeja itu?"


Nevan membalikkan badannya cepat, menatap Gantari yang berjalan ke arahnya dengan tampang tidak terima. "Dihyan, ini bukan hitam. Ini warna dongker."


Gantari rupanya langsung menuju lemari dan mengambil sebuah kemeja putih. "Mau dongker, kek. Mau pink, kek. Aku nggak peduli. Pokoknya kamu harus pakai kemeja putih."


Gantari menyodorkan kemeja putih tersebut pada Nevan yang disambut Nevan dengan tampang memelas. "Dihyan, aku mau meeting bukan ngelamar kerja."

__ADS_1


"Jadi Mas tetap mau pakai kemeja itu?"


Nevan menganggukkan kepalanya ragu.


"Ya udah, jangan dekat-dekat aku!"


"Dihyan." Nevan merengek, tapi Gantari tidak peduli. Ia berbalik dan meninggalkan Nevan yang sedang memegang kemeja putih di tangannya.


***


Fikri sedang gelisah karena bos yang katanya tidak akan terlambat itu, nyata belum juga tiba sampai saat ini. Padahal meeting akan dilaksanakan 10 menit lagi.


Wajah panik Fikri berubah bingung ketika melihat sosok Nevan akhirnya datang juga dengan langkah terseret. Ia mendorong pintu kaca dengan tidak bertenaga, lalu berjalan mendekati Fikri.


Kerutan di kening Fikri berangsur hilang dan berganti dengan tawa yang tidak tertahankan. "Bapak nggak salah kontum?"


"Diam! Ruangannya dimana?"


Fikri terpaksa menutup mulutnya, meski ia masih merasa geli dan aneh setiap kali melihat Nevan yang hari ini tampil tak seperti biasa. Biasanya Nevan selalu tampil keren dan maksimal ketika bertemu klien. Tapi kenapa hari ini Nevan bergaya seperti anak magang?


Meeting akhirnya berlangsung dan Firki tidak henti-hentinya tertawa. Bahkan, selama Nevan bicara tadi, asisten pribadinya itu masih sempat-sempatnya terkikik geli.


"Kemeja Bapak habis?"


"Diem loe!"


"Puahhahaa." Fikri meledakkan tawanya lagi. Ia benar-benar puas tertawa hari ini.


"Ini gara-gara Dihyan." Nevan memulai sesi curhatnya dan Fikri bersiap mendengarkan dengan khidmat. "Dia kenapa, sih? Masa tiap hari gue disuruh pakai baju putih. Warna lain nggak boleh. Ancamannya nggak main-main lagi."


"Apa?"


"Nggak boleh nyentuh dia."


"Puahhahaa." Fikri tertawa lagi. Kali ini lebih lepas. Ia benar-benar tampak begitu bahagia di atas penderitaan sang atasan.


"Mungkin pertanda, Pak."


"Pertanda apa?"


"Bapak pikir aja sendiri, putih identik dengan apa."


"AMIT-AMIT!" Nevan melempar berkas di hadapannya dengan membabi buta ke arah Fikri yang sudah ngacir keluar ruangan dengan tawa yang kian meledak.

__ADS_1


***


Detik-detik season dua menuju tamat. Terima kasih untuk dukungan kalian semua 🙏


__ADS_2