
Usai mengantar Shanessa pulang, Nevan pun kembali ke rumahnya. Suasana hati mereka sama-sama dalam keadaan tak baik, hingga perjalanan dilalui tanpa obrolan seperti biasa.
Bi Murni datang menghampiri, menanyakan apa ada yang perlu ia kerjakan sebelum pulang. Namun, Nevan menggeleng dan meminta Bi Murni untuk pulang saja karena malam akan segera tiba. Bi Murni menurut. Dia pamit pulang dengan membawa beberapa lauk seperti biasa.
Rumah semakin sepi dan Nevan selalu menyukainya. Semilir angin senja tidak ia rasakan, meski kini dia sedang berdiri di beranda lantai dua. Cahaya matahari berwarna oranye yang membias adalah hal yang paling ia suka. Warna indah itu belum ada yang mengalahkan.
Suara adzan Maghrib menginterupsi dan Nevan beranjak memasuki rumah. Melangkah menuju kamar mandi dan berwudhu untuk menghadap sang maha agung. Pikirannya masih melayang dan dia memohon maaf untuk ketidak kekhusukannya.
Kenapa kabar ibu Dihyan tidak pernah terpikir olehnya selama ini?
Terakhir yang ia dengar, sang mantan ibu mertua pamit hendak menemani temannya di sebuah perkebunan. Meski sempat melarang, namun Ibu Gantari itu berdalih jika dia kesana bukan untuk bekerja melainkan menghabiskan masa tua dilingkungan yang menyegarkan.
Anehnya, Dihyan tak ikut melarang. Hal yang tidak masuk akal, karena biasanya Dihyanlah yang mati-matian meminta ibunya agar selalu dekat dengannya. Meski tak paham, akhirnya Nevan setuju.
Sejak kepergian sang ibu, Gantari menjadi lebih muram. Bahkan beberapa kali Nevan memergoki matanya sembab. Ketika diajak untuk mengunjungi sang ibu, Gantari selalu menolak dengan alasan dibuat-buat.
Malam itu, dua bulan setelah kepergian sang ibu, Gantari pulang larut malam. Wajahnya tampak sangat kacau. Ketika ditanya, tak ada jawaban yang ia berikan. Padahal selama pernikahan mereka, jika keluar rumah walaupun sebentar Gantari selalu memberi kabar.
Setiap hari keanehan Gantari semakin menjadi-jadi. Dia semakin sering keluar rumah tanpa izin ketika Nevan pergi bekerja. Bahkan, kerap kali ia pulang lebih dulu ketimbang Gantari. Baik-baik Nevan menanyakan alasan kepergiannya, namun selalu tidak ada jawaban yang memuaskan. Hingga, Nevan kehabisan kesabaran dan dengan sedikit memaksa menanyakan apa yang sebenarnya ia lakukan seharian. Namun, yang didapat Nevan berbeda dari yang ia harapkan. Selama mengenal Gantari, Nevan tidak pernah melihatnya begitu. Gantari menatapnya dengan tatapan tajam dan melontarkan kalimat yang sama tajamnya.
"Harusnya kamu mengejar cita-cita kamu! Bukanya jadi tukang kuli bangunan begini."
Nevan tersentak. Dadanya mendadak nyeri.
"Harusnya aku juga mengejar cita-citaku," Gantari mulai menangis. Nevan hendak memegang pundaknya, namun Gantari keburu menepisnya.
__ADS_1
"Aku mau jadi dokter kaya, sehingga tidak perlu mengharapkan uang dari orang miskin."
Gantari terisak. Tubuhnya melorot ke karpet.
"Dion," Gantari mendongak dengan wajah basah. Tatapannya begitu terlihat tersiksa, membuat Nevan tidak berani balas menatap.
"Harusnya kita tidak menikah," lanjutnya lirih.
Deg.
Nevan menghirup napas panjang melalui mulut. Ia tercekat setiap mengingat masa itu. Jantungnya perih. Seluruh tubuhnya terasa tak nyaman dan dia tidak suka dengan rasa seperti ini.
Kepalanya terasa pening, seketika pandangan berubah buram. Nevan beringsut mundur, hingga punggungnya membentur tembok dan ia baru tersadar dimana sekarang ia berada.
Rumah sakit.
Nevan berbalik cepat dan melangkah pergi dari sana. Dadanya bergemuruh, pikirnya tak karuan, hingga seseorang menyapanya pelan.
"Shaness belum pulang?" Si dokter berwajah flower boy-lah pelakunya.
Nevan tercenung. Ia menatap Farez cukup lama tanpa memberi jawaban, membuat Farez salah tingkah dan berpikir dia telah salah orang. Hampir saja Farez mengayunkan langkah ketika Nevan bersuara, "Sudah berapa lama...," ucapannya menggantung di udara sejenak, tapi kemudian ia lanjutkan, "Ibu Dihyan dirawat?"
Farez mengerutkan dahi, namun kemudian ia menjawab, "Sekitar lima tahun."
Ya Allah.
__ADS_1
Selama ini tak pernah terpikir olehnya ada sesuatu yang mengganjal. Selama ini tidak pernah sekali pun ia meragukan keputusannya dimasa lalu. Selama ini tidak pernah sekalipun ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain dan hari ini mendadak dia meragukan semua itu. Hari ini mendadak dia tau satu hal yang tidak dia ketahui sebelumnya dan mungkin bisa menimbulkan rasa ingin tau lainnya.
***
Hari ini sekali lagi Nevan ke rumah Shanessa dan kedepannya mungkin akan lebih sering. Ya, demi membantu Shanessa memenuhi tantangannya sendiri.
"Kita menikah setelah kamu menyelesaikan kuliah."
Keluar dari mobil, Nevan berjalan mendekati pintu kediaman Ardiwinata. Sepatu hitam pantofelnya bergerak pelan menginjak hamparan rumput halaman yang terpotong rapi. Tatapannya lurus pada si pintu, namun tiba-tiba pintu itu terbuka dan Gantari keluar dari sana lengkap dengan stelan formal.
"Dia udah pulang?" batin Nevan bertanya sendiri.
Berselisih jalan begini, rasanya efek slow motion aktif begitu saja. "Kenapa masih pagi sudah sial begini?" gumam Nevan mencoba melebarkan langkah kakinya agar slow motion efect norak ini segera berakhir.
Melihat Gantari yang tidak melirik padanya bahkan untuk sedetik saja membuat harga diri Nevan tidak terima.
"Eh!" Nevan menghentikan langkahnya dan memilih memutar tubuh menghadap orang yang barusan ia panggil 'eh'.
Gantari yang mendengar satu suku kata itu ikut berhenti meski tidak ikut memutar tubuh, jadi Nevan yang berisiatif mundur beberapa langkah.
"Walau pun kita punya cerita kurang enak dimasa lalu, tapi bisa kan basa basi sedikit mulai sekarang," Nevan menarik napasnya pelan, kemudian menelusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan melanjutkannya, "Karena bagaimana pun sebentar lagi kita akan jadi saudara."
Gantari menoleh, membalas kontak mata sepihak Nevan tadi. Nevan tersentak, ada desir aneh yang muncul ketika pandangannya beradu.
"Sayang!"
__ADS_1
Kontak terputus. Shanessa yang berdiri di ambang pintu melambai ceria melihat kedatangan pria pujaan.
"Aku udah siap. Yok! Ke kampus," lanjutnya tersenyum manis.