
Adegan malam ini dimulai dari Anwar yang sedang memainkan gitar di teras rumah Gantari. Sang kakak tetangga penganggurannya itu belum juga pulang, meski Maghrib udah usai beberapa saat yang lalu.
Mengingat pertemuan terakhirnya dengan Gantari yang terbilang aneh, memberikannya uang jajan, membuat Anwar menjadi sedikit khawatir. Dia takut saja Gantari yang tidak biasa menganggur jadi tertekan.
"Harus gitu menggalau di depan rumah orang?"
"Astagfirullah!" Anwar terlonjak kaget. Dia yang sedang melamun dengan jari yang terus memetik senar gitar, sontak saja memegang dada. Kemudian, dilihatnya Gantari berdiri di belakang Nevan yang barusan membuatnya terkejut itu.
"Kak Dee nggak diapa-apain sama si Abang ini, kan?" tanya Anwar khawatir, sembari berdiri.
Nevan yang mendengarnya langsung mendengkus sebal. Sedangkan, Gantari langsung menggeser tubuhnya agar berdiri di samping Nevan, lantas tersenyum geli setelah menggelengkan kepalanya terlebih dahulu.
"Abang ini siapa maksud kamu?"
"Siapa aja deh, yang ngerasa. Lagi males ngasih penjelasan gue," balas Anwar ringan.
Nevan sudah hampir menggeplak kepala Anwar, tapi tidak jadi karena ada Gantari di sana. Jaim, dong, depan pacar.
"Udah, deh. Kalian lanjutin kelahinya. Aku mau bikin kopi," cetus Gantari tidak mau ambil pusing, lantas melangkah memasuki rumah.
"Dua ya, Sayang."
"Tiga, Kak Dee," sahut Anwar tidak mau kalah.
"Hm!" Gantari hanya membalas dengan dehaman singkat pada kedua laki-laki tersebut.
Kini, tinggallah Nevan dan Anwar di luar yang saling melempar tatapan tajam.
"Loe mending pulang aja, deh."
Anwar menggeleng kuat. "Kalau berdua-duaan, yang ketiga setan."
"Lah, elo dong! Loe mau jadi setan?"
Anwar yang merasa perkataan Nevan benar jadi terkejut sendiri.
"Enak aja!" elak Anwar tak terima.
"Makanya, dari pada jadi setan. Mending loe pulang," usir Nevan halus.
"Ogah! Nanti Kak Dee diapa-apain sama loe."
"Diapa-apain gimana? Ya, kagaklah!"
"Nggak percaya gue. Kapan gitu loe janji mau beliin gue gitar Yamaha elektrik-akuistik. Mana? Mana?"
Nevan ingat. Dia memang pernah menjanjikan itu untuk Anwar, asal tetangga pacarnya itu mau menjaga Gantari dari Angkasa selagi ia tidak ada.
"Astagfirullah! Lupa gue." Nevan menepuk keningnya sendiri karena bisa-bisanya melupakan janji.
"Heleh, Bang. Sebenarnya tanpa gitar pun, gue pasti jagaiin Kak Dee. Dia itu kesayangan gue."
Nevan melotot tak suka dan dengan tegas dia berkata, "Besok tu gitar nyampe ke rumah lo. Sekarang Lo pulang. Cepat!"
__ADS_1
"Beneran?"
Nevan mengangguk, membuat Anwar pasrah untuk percaya saja kali ini dan ia akan segera meluncur pulang ketika Nevan mencegahnya lagi.
"Siniin gitar loe."
"Buat apaan?"
"Udah, buru. Loe mau gue pecat jadi adek angkat?"
Akhirnya, Anwar menyerahkan gitarnya pada Nevan dengan mata menyipit curiga.
"Loe mau ngebucin, kan?"
Anwar langsung berlari kencang pulang ke rumahnya karena Nevan hampir saja memukulnya jika dia tidak ngacir duluan.
Sedangkan, Nevan masih tampak tersungut-sungut melihat Anwar yang kabur dari geplakannya. Kemudian, dengan kesal Nevan duduk dan mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi seseorang untuk memesan gitar Yamaha CPX1000 Acoustic-electric Guitar Translucent Black, incaran anak muda saat ini.
Wuih! Menang banyak Anwar.
"Loh, Anwar mana?"
Gantari muncul dengan tiga cangkir kopi hitam yang ia letakkan di atas nampan. Tatapannya agak sedikit bingung karena tidak menemukan Anwar di sana.
"Pulang. Mau tidur katanya."
Gantari mendecih. Tentu saja ia tidak percaya. Ia memicingkan matanya ke arah Nevan sembari meletakkan nampan ke atas meja. "Kamu usir, ya?"
Nevan tidak menjawab. Ia hanya tertawa kecil, lalu mulai memetik senar gitar yang tadi dipinjamnya pada Anwar.
Jreng!
Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
O-OW! Gantari sampai membulatkan matanya ketika mendengar Nevan bernyanyi. Bukan, ini bukan kali pertama Gantari mendengarnya, tapi memang sudah lama sekali dia tidak mendengar Nevan melantunkan sebuah lagu. Lama sekali, ketika mereka masih bersama dulu.
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu
Mata Gantari yang tadi membulat kaget, kini berganti dengan senyum yang dikulum manis.
Takkan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan cinta ini
Dan, Gantari merasakan hatinya berdesir ketika Nevan melanjutkan liriknya.
__ADS_1
Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Gantari memalingkan wajahnya ke arah lain karena air matanya sudah mendesak ingin keluar. Hingga, akhirnya air mata itu benar-benar tidak lagi bisa dibendung dan menetes mengaliri pipi kemerahan Gantari begitu saja.
Nevan yang menyadari itu segera menghentikan lagunya. Ia meletakkan gitarnya di atas meja, lantas berlutut di hadapan Gantari yang masih bersusah payah menghentikan air matanya dengan kepala tertunduk.
Pelan, dihapusnya air mata Gantari.
"Ayo, kita mulai melangkah lagi, Dihyan," ucap Nevan lembut, sembari tangannya beralih menggenggam tangan wanita cantik itu.
Gantari yang tadinya menunduk, pelan-pelan mulai mengangkat wajah, membalas tatapan Nevan yang memandangnya dengan begitu hangat. Sejujurnya, dia ingin sekali langsung berkata iya dan menghambur memeluk Nevan. Namun, keraguan masih saja menyelimuti hatinya.
"Kenapa harus aku?"
Dialog lama terulang lagi. Dulu, Nevan tidak menemukan alasan kenapa menjatuhkan pilihannya pada Gantari, mungkin kini alasan itu sudah ada.
Namun, ternyata tidak.
"Nggak semua hal di dunia ini butuh alasan, Dihyan." Nevan menghela napasnya pelan, lalu melanjutkan dengan sabar, "Kalau kamu nanya, kenapa harus kamu, jujur aku juga nggak tau jawabannya."
Sorot mata Nevan begitu teduh ketika menatapnya, membuat Gantari merasakan ketulusan di sana.
"Tapi kalau kamu masih ingin mendengar alasannya ...." Nevan menjeda ucapannya dan menatap Gantari semakin dalam ketika melanjutkan, "Ya karena itu kamu, Gantari Dihyan Irawan dan bukan orang lain."
Gantari menggigit bibir bawahnya yang sudah mulai bergetar. Tangis sepertinya akan pecah lagi. Namun, dia tetap menatap Nevan yang lagi-lagi kembali melanjutkan, "Dan sayangnya aku tau, kamu bisa membuat nyaman walau tanpa kepastian."
Akhirnya, jawaban Nevan barusan sukses membuat Gantari menangis lagi, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Namun, kali ini Gantari benar-benar memeluk Nevan dengan begitu erat.
Di atas meja, tiga cangkir kopi hitam dengan aroma khas yang menjalar, menjadi saksi jika ...
Gantari sudah membulatkan tekad untuk kembali melangkah bersama Nevan.
***
Jika : Seneng, Bang?
Bang Nevan : Seneng. Makasih banyak, Jika.
Jika : Sama-sama, Bang. Tapi, Bang Nevan bisa nyanyi, toh? Abang nggak pernah nanyiin Jika, loh 🤧
Bang Nevan : Masa, sih? Kayaknya pernah, deh.
Jika : Kapan? Kagak pernah, Abang.
Bang Nevan : Pernah, Jika. Waktu kita upacara 17-an di lapangan.
Jika : Maksud Abang, lagu Indonesia Raya?
__ADS_1
Bang Nevan : Hooh
Jika : 😒😒😒