
Akhirnya sesi klarifikasi berakhir dengan gondok-gondokkan. Gantari sebal dituduh mau CLBK, sedangkan Nevan kesal karena jawaban Gantari terkesan ogah-ogahan.
"Besok aku kesini lagi," ucap Nevan jengkel, lalu berlalu meninggalkan Gantari yang masih mendengus dan pamit pada kakek muda.
"Modus," gumam kakek muda sembari cekikikan. Kemudian menyetel tampang kalem, ketika Gantari mendekat dan duduk di sampingnya.
Hari ini Gantari membiarkan rambutnya tergerai. Ia mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam dan celana jeans dengan warna senada. Meski matanya tak terlalu lebar, namun gamang masih tergambar disana.
"Yang kamu ucapkan pada Shaness itu sudah benar."
Gantari menoleh dan mengangkat sebelah alisnya tanda tak paham.
"Masalah mereka itu nggak ada hubungannya denganmu," jelas kakek muda. Ia memutar tubuhnya menghadap Gantari, lalu melanjutkan, "Emang salah kamu kalau dunia ini sempit dan kejam?"
Mendengarnya Gantari tersenyum kecut. Dia ikut memutar tubuhnya. "Kalau dulu sewaktu Shaness cerita tentang Nevan dan aku langsung ngasih tau dia masalah ini, mungkin semuanya nggak akan sekacau ini, ya, kek?"
"Sakit hati, ya, sakit hati aja. Sekarang ataupun dulu, dia tetap akan sakit hati dan kecewa. Lagi pula kita semua tau Shaness. Dia itu kalau sudah cinta sama orang biasanya selalu gila-gilaan." Gaya bicara kakek muda memang begini, sedikit keras dan blak-blakan.
"Kamu jalani hidup kamu, dia juga akan menemukan obat untuk lukanya sendiri. Mencarikan obat untuk dia bukan tugas kamu." Kakek muda mengarahkan jarinya pada Gantari, lalu melanjutkan, "Memaafkan tunangannya atau mencari jalan lain, itu semua pilihan dia. Semua akan berjalan dan terlupakan."
Gantari termenung.
Semua akan berjalan dan terlupakan.
Kalimat kakek muda terus tergiang di telinganya dan dia mengangguk setuju untuk itu.
"Kakek juga sama kagetnya waktu tau Nevan itu mantan suami kamu. Kamu kan cuma cerita tentang Dion." Kakek menghela napasnya pelan. Pandangannya mengawang. "Kalau nggak terbongkar, kamu bakalan ngerahasiain ini selamanya?"
"Mungkin," jawab Gantari lirih.
***
Ardiman beberapa kali menelpon dan Gantari baru menjawabnya dipanggilan ketiga.
"Kamu sehat?"
Gantari meneteskan air matanya diam-diam. Dia merasa berdosa telah melukai hati orang-orang yang tulus menyayanginya dan Ardiman adalah salah satunya
"Jaga diri baik-baik, ya, Nak."
Isak tangis Gantari tidak terbendung lagi. Dia tersedu dan memohon maaf pada Ardiman berkali-kali.
"Om mu ini yang harusnya minta maaf," suara Ardiman terdengar serak. "Nggak tau apa-apa tentang kamu. Nggak tau kesusahan kamu." Hening sejenak. Gantari yakin sang paman juga tengah menangis. "Tapi mungkin, kalaupun tau Om tetap nggak bisa berbuat apa-apa."
Gantari menggeleng. Air matanya menetes kian deras. "Tari sayang sama Om. Jangan minta maaf sama Tari."
"Mas Irawan pasti marah sama Om, sejak Om ngebiarin kamu masuk rumah ini dengan menjadikan ibu kamu sebagai jaminan," suara Ardiman tercekat, kemudian sambungan terputus.
***
Sinar matahari tak cerah seperti kemarin. Hari ini cuaca mendung, hingga membuat rumah terasa gelap dan lembap. Darya Ardiwinata duduk di kursi sedirian. Tak ada anak atau pun cucu yang menemani. Ia menatap teh hijau kesukaannya dengan tak minat. Sedari tadi teh itu belum juga ia sesap, hingga perlahan uap putihnya mulai menghilang.
Ardiman datang dan pamit mau berangkat kerja, sedangkan Shanessa sejak subuh sudah pergi ke kampus, tumben sekali.
__ADS_1
"Tadi malam, aku menelpon Gantari dan dia terdengar baik-baik saja." Ardiman sengaja melapor, karena ia tahu betul jika pria di hadapannya itu sangat khawatir.
Kakek mengangguk singkat. Ia mencoba tetap tenang dengan menyeruput teh dinginnya yang pahitnya terasa berkali lipat.
"Shaness hari ini sidang skripsi, sebelum berangkat dia meminta doa Ayah."
Kakek mengganguk lagi. Tengokkannya tengah tercekat, itu sebabnya dia tak menjawab.
Ardiman meraih tangan kakek dan mencium punggung tangannya sebelum akhirnya melangkah keluar rumah. Wajahnya juga sama mendungnya dengan cuaca hari ini.
Tinggallah Darya Ardiwinata seorang diri dengan air tipis di bola mata tuanya. Dia tidak menyangka, memaksa Gantari agar kembali keposisinya justru menghancurkan hidup sang cucu.
Dia hanya tidak ingin cucunya dididik oleh mantan wanita penghibur. Dia hanya tidak ingin cucunya menghabiskan sisa hidupnya demi berbakti pada seorang kuli bangunan. Dia hanya ingin putri kesayangan putra tersayangnya hidup layak. Hidup yang pernah ia berikan pada Irawan, namun dicampakkan.
Namun, kini tak hanya kehidupan Gantari saja yang ia hancurkan tanpa sengaja, melainkan hidup Shanessa juga.
***
Ardiman membuka pintu mobil dengan sebuah tas laptop di tangan kanannya. Langkahnya gontai dan raut wajahnya tak semangat seperti biasa, hingga beberapa karyawan segan menyapa.
Pintu utama sudah di depan mata, dia mendongak dan langkah kakinya sontak terhenti ketika mendapati ada Gantari disana. Perempuan itu sedang berdiri menatapnya dengan sebuah senyuman. Namun, anehnya hatinya justru terasa seperti diremas melihat senyuman itu.
Gantari berjalan cepat menghampiri Ardiman, lantas memeluknya erat. Semalaman ia khawatir sekali mengingat percakapan terakhir mereka. Wajahnya ia benamkan di dada sang paman, hingga ia merasa ada elusan lembut di puncak kepalanya.
Gantari tetap Gantari. Perempuan cantik, pintar dan kuat. Ia menjumpai Ardiman dengan pakaian rapi seperti biasa, tak ingin tampak menyedihkan di hadapan yang disayang. Rambut ikal sebahunya sengaja ia gerai. Mata kecilnya ia beri eyeliner untuk menajamkan pesonanya. Bibir mungilnya ia poles pewarna bibir berwarna pink lembut. Gantari tetap Gantari. Matahari dengan pesona ceria yang menghangatkan.
Mereka akhirnya memutuskan duduk di kafe samping kantor setelah Gantari menolak masuk.
Ardiman yang sedari tadi menunduk, lantas mengangkat kepalanya dan mengerutkan kening. Gantari tahu sang paman tak paham, maka ia melanjutkan, "Ke rumah kami."
Jantung Ardiman perih bukan main ketika mendengarnya, namun ia berusaha mengangguk.
"Om benar-benar tidak tau kalau kamu pernah..."
"Aku tau," potong Gantari cepat. Ia tersenyum dan lagi-lagi itu membuat Ardiman terluka.
Setelah percakapan canggung itu mereka hening cukup lama. Beruntung seorang pelayan datang mengantarkan pesanan. Keduanya menolak makan dan memilih minum saja. Ardiman menghela napasnya panjang, kemudian berbicara setelah si pelayan berlalu, "Om harap, kamu jangan terlalu membenci kakek."
Ia meneruskan ucapannya lagi karena tampaknya Gantari belum ingin menanggapi. "Masalah ibumu..." Ardiman berhenti dan mencuri lihat reaksi Gantari, lalu melanjutkan dengan hati-hati, "Kakek melakukannya karena cuma itu yang bisa membuatmu mau tinggal bersama kami."
"Dia tidak benar-benar membenci ibumu, Gantari."
***
Seperti yang sudah diwanti-wanti Nevan kemarin, hari ini dia datang lagi. Memakai kemeja navy dan celana chino berwarna hitam dia duduk menyilangkan kaki di kursi teras rumah Gantari. Tatapannya fokus pada ponselĀ yang berada di tangan kanan membaca berita berjudul "Evaluasi Belajar Online, Seorang Menteri Kaget Dapat Keluhan Tidak Ada Sinyal-Listrik" sembari menunggu si empunya rumah datang. Ia tersenyum sinis ketika membaca tersebut. Miris sekali negeri ini, gumamnya.
Tadi dia sudah celingak-celinguk dan mengintip jendela rumah sekadar memastikan Gantari memang tidak di dalam. Sesekali dia mendongak dan mendecak karena Gantari belum juga pulang meski rasanya bokongnya sudah panas.
Di jam kedua, Gantari baru muncul dengan tas selempang dan gaya casual. Rambut ikal sebahunya bergoyang seirama dengan langkah kakinya. Dari jauh Nevan bisa melihat kening Gantari mengernyit ketika melihat keberadaannya.
"Dari mana?"
Tak disangka kernyitan Gantari makin menjadi ketika mendengar pertanyaan Nevan barusan dan mau tak mau Nevan mendecih sebal.
__ADS_1
"Aku cuma penasaran," sungut si tampan.
Gantari berlalu dan memasukkan anak kunci untuk membuka pintu, sebelum Nevan menginterupsi, "Kamu masak apa?"
"Nggak masak," jawab Gantari malas.
"Kenapa nggak masak?"
"Kenapa nanya?"
Nevan menghela napasnya, kemudian mengembuskan pelan, "Cuma penasaran."
Gantari mendengus, lalu melangkah hendak masuk rumah ketika lagi-lagi Nevan menyela, "Kalau kamu jarang masak, bisa-bisa nanti kamu lupa caranya."
Mendengar ucapan Nevan barusan, Gantari memutar tubuh. Ia mengangkat sebelah alisnya, lalu dengan penuh penekanan berkata, "Kamu belum makan."
"Nggak usah kepo."
Gantari melongo, kemudian tertawa hambar. "Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Kamu belum makan. Makanya ngelantur," ucapnya dengan ekspresi datar.
"Kalau udah tau, makanya tawarin aku makan."
"Aku nggak masak."
"Makanya masak."
Hampir saja Gantari meledak, tapi dia tahan. Dia menghela napasnya panjang, mencoba menambah stok kesabaran.
"Mending pulang, deh. Makan."
"Nggak usah sok perhatian."
Gantari mengucapkan istighfar dalam hati berkali-kali. Dia tidak tau apa yang terjadi pada pria di hadapannya ini. Dan lagi, sepertinya Nevan tidak masuk kerja atau kabur dari kantor, tapi itu bukan urusannya. Dia melirik jam dinding di dalam rumah yang baru menunjukkan pukul 11.00 WIB, lantas menatap Nevan lagi.
"Kalau kamu masih berniat menagih cerita, seperti nggak hari ini."
"Kalau nggak hari ini harusnya kamu konfirmasi. Aku udah nunggu hampir dua jam dan gara-gara itu aku jadi lapar," terang Nevan diplomatis.
Tidak jauh-jauh dari masak, makan, dan lapar. Ternyata benar, Nevan memang sedang ngelantur karena perutnya kosong. Gantari maklum, jadi sekarang dia akan bicara baik-baik.
"Aku nggak tau kalau kamu kesini."
"Aku udah bilang kemarin."
Gantari menggelengkan kepalanya. Kalimatnya kurang tepat, jadi dia koreksi lagi, "Maksudku, aku nggak menyangka kalau kamu akan benar-benar kesini."
"Kamu kira aku tipe orang yang nggak menepati janji?"
Harusnya Nevan tidak bilang begitu. Harusnya Nevan tidak bicara soal janji karena sekarang pikirannya melayang pada sebuah kenangan.
Harusnya Nevan tidak bilang begitu. Harusnya Nevan tidak bicara soal janji karena sekarang Gantari seolah ditarik ke ruang nostalgia.
"Besok aku kesini lagi," kata Nevan kikuk, lalu melangkah pergi.
__ADS_1