Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Seratus Tiga


__ADS_3

Loe nggak percaya diri, ya? Loe nggak percaya kalau loe mampu ngejaga Gantari dari om-om Wiratha itu? Pengecut loe, Van.


Besok temui Jero di tempat yang sama. Kita selesaikan secepatnya.


"Dion?" Gantari memegang pelan pundak Nevan yang dari tadi kerap tampak melamun, hingga pemuda itu terkesiap. Nevan yang sedang duduk terbungkuk dengan tangan bertaut menoleh dan menatap Gantari dengan sendu.


"Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa," katanya. Sebenarnya itu bukan pernyataan, tapi harapan.


"Aku ... mau." Gantari menurunkan tangannya dari pundak Nevan, lalu menunduk. "Aku mau tau apa yang sebenarnya terjadi pada ibu. Aku mau tau apa saja yang sudah diperbuat Jero untuk ibu."


Gantari mengangkat wajahnya, lantas menatap Nevan lekat. "Aku juga mau tau ... asal-usulku."


"Dihyan." Nevan meluruskan tubuhnya menghadap Gantari seutuhnya. "Aku sama sekali nggak peduli tentang masa lalu."


"Tapi aku peduli. Hubungan kita ... bukannya juga tentang masa lalu?"


...****************...


Nevan sudah tahu, jika kelemahan Gantari adalah Bulan, ibunya, dan dunia juga tahu pasti, jika kelemahan Nevan adalah Gantari Dihyan Irawan. Pemuda itu pasrah dan memutuskan menemani Gantari untuk menemui Jero sekali lagi.


Kali ini pertemuan terjadi cukup lama. Lagi-lagi Nevan dan Edo memilih untuk menjauh. Meski begitu, keduanya sama-sama terdiam tanpa obrolan. Suasana hati Nevan kepalang tak baik, walau hanya untuk sekadar basa-basi.


"Namanya Oscar Wilde. Seorang siswa pertukaran pelajar dari Irlandia." Jero memulai dan Gantari memilih diam mendengarkan.


"Dia sangat humoris, cerdas, juga tampan dan untuk pertama kalinya aku jatuh hati." Pikiran Jero melayang pada sosok remaja berambut belah tengah yang berhasil membuatnya nekat melupakan didikan orang tua.


"Meski masih muda, tapi Oscar begitu dewasa," kenangnya.

__ADS_1


"Tapi dia meninggalkanmu," sela Gantari tajam.


Jero menatap Gantari, lalu mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali. "Kamu benar. Dia meninggalkanku dan memilih menghadap Tuhan."


Darah Gantari berdesir. Dia sudah siap memastikan tebakannya, namun Jero kembali melanjutkan, "Dia pulang dan ingin memberitahukan keluarganya, namun kecelakaan itu justru membuatnya pergi ... selamanya."


Gantari merasakan bulu kuduknya meremang. Tanpa berkedip ia menatap Jero yang kini mulai mengusap ujung matanya yang mulai keriput.


"Aku hancur. Benar-benar hancur." Jero tampak susah payah mengatur napasnya, lalu kembali melanjutkan, "Saat itu aku dipaksa melalui semuanya sendiri. Aku benci pada takdir, aku benci pada dunia dan aku benci pada Tuhan, tapi tidak pada anak dalam kandunganku."


Wajah Jero terlihat begitu kalut dan Gantari mulai merasa khawatir melihatnya, namun Jero menolak berhenti.


"Aku takut tidak ada kesempatan lain untuk menceritakan semuanya padamu."


Gantari mengansurkan segelas air mineral pada Jero. Hatinya sudah mulai melunak, namun Jero hanya mengambil gelas itu, tapi tidak meminumnya.


Gantari dapat melihat tangan Jero yang memegang gelas bergetar. Namun wanita itu tetap tidak menghentikan ceritanya.


"Setelah kelahirannya, aku putuskan untuk memberikan Bulan pada Bidan Lin dan kembali pulang ke rumah sesuai keinginan orang tuaku, tapi rupanya hatiku tidak pernah terputus darinya. Bulanku."


Tangis Jero akhirnya pecah juga. Menimbulkan rasa pahit di kerongkongan Gantari.


"Diam-diam aku selalu mengawasi Bulan. Melihat perkembangannya dari jauh. Meski sudah memiliki keluarga baru pun, Bulan tetap tidak tergantikan."


"Ibuku ... tau tentang ini?"


Jero mengangkat wajahnya, lalu mengangguk pelan. "Seminggu sebelum dia menikah dengan Awan. Dia mengetahui segalanya."

__ADS_1


"Ibuku ... tidak membencimu?" Gantari menggigit bibir bawahnya, takut salah bicara, tapi dia butuh jawaban.


Senyum tipis tercetak di bibir Jero. Ia menghela napasnya pelan, kali ini terlihat lebih tenang.


"Putriku begitu baik. Dia tidak pernah memperlihatkan kekecewaannya padaku. Bahkan, ketika aku memintanya untuk menyembunyikan ini, dia ... setuju." Sebulir air mata Jero lolos lagi. Hatinya kembali tercabik. "Aku malu. Kenapa orang tua sejahat aku, bisa memiliki anak sebaik dia?"


"Maya. Apa hubungan kematian Maya dengan ibuku? Kenapa ibuku yang disalahkan?" tanya Gantari tidak tahan.


Jero menggeleng. "Itu bukan salah Bulan. Aku yang gagal menjadi seorang ibu. Karena aku terlalu meratapi Bulan, anak-anakku yang lain merasa tidak mendapat perhatian."


"Mereka tau sejak awal?"


Jero menatap Gantari lekat. Akhirnya ia meminum air mineralnya. Bahkan, ia menenggaknya hampir habis. Seolah mempersiapkan diri untuk kenyataan yang lebih pahit.


"Mereka tau. Aku bahkan ingin menemui Bulan dan memintanya untuk kembali padaku, tapi ... Kejadian malam itu, membuatku mengurungkan niat. Malam ketika aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk putriku. Malam ketika Bulan mendapatkan cap sebagai ... perempuan penghibur."


Gantari merasakan dadanya begitu sesak. Bahkan, rasanya untuk bernapas saja dia mulai kesulitan. Ia mengalihkan pandangannya. Tidak bisa membayangkan kejadian getir yang menimpa sang ibu.


"Aku ... aku takut. Aku mulai ragu keluarga baruku bisa menerima Bulan."


Gantari menggigit bibir bawahnya. Tangisnya mulai pecah, hingga pundaknya berguncang. Fakta bahwa, tidak ada yang mau menerima ibunya benar-benar membuat hatinya sakit.


Gantari merasakan tangannya diremas dan Jero yang melakukannya. "Maaf, Gantari. Maafkan aku."


Sekali lagi hatinya hancur. Ibu dari ibunya itu tampak tak kalah terluka. Gantari merasakan hatinya kacau balau. Dia marah, sangat marah, namun Bulan saja bisa memanfaatkan Jero, tapi dia bukan Bulan. Dia bukan Bulan yang tidak pernah membenci orang lain. Dia bukan Bulan yang bisa bersikap seolah semuanya adil-adil saja. Sekali lagi, dia bukan Bulan.


Sebuah pelukan kali ini diterima Gantari. Ia merasakan hangatnya air mata membasahi pundaknya.

__ADS_1


"Kecelakaan yang dialami ibuku. Apa ada hubungannya dengan putramu?" tanya Gantari dingin.


__ADS_2