Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Tujuh Puluh Empat


__ADS_3

Selagi menunggu Gantari bersiap-siap, Nevan memeriksa ponselnya, namun hanya sebentar karena fokusnya segera teralihkan oleh suara khas orang berlari dan tak lama terdengar suara teriakan yang semakin dekat.


"Bang Nevan!"


Grudug!


Dug!


Dug!


Nevan segera memasang kuda-kuda was-was. Jantungnya hampir saja copot karena Anwar langsung menyeruduknya dengan sebuah pelukan setelah berlari kencang.


Astaga!


"Abang! Makasih banyak gitarnya," ucap Anwar di sela pelukan. "Itu nggak kemahalan Bang? Kalau kemahalan ikhlasin aja, ya, Bang."


Nevan tergelak mendengar semua penuturan Anwar. Dia tidak menyangka bocah tengil tetangga Gantari itu bisa semanis ini.


"Gue ikhlasin kalau loe berhenti meluk gue," balas Nevan pura-pura kesal.


Anwar patuh. Dia melepaskan pelukannya. Matanya tampak berkaca-kaca, membuat Nevan ingin tertawa keras.


"Seneng nggak?"


"Seneng, Bang. Seneng banget," jawab Anwar dengan kepala terangguk antusias.


"Gue doain loe lagi gitaris profesional."


Hampir saja Anwar memeluk Nevan lagi ketika mendengar doa sang Abang dadakan tersebut, namun dia urungkan karena Gantari melongokkan kepalanya di pintu.


"Ada apa? Kenapa?"


Keduanya kompak menoleh dan menggeleng bersamaan, membuat Gantari menyipit curiga.


"A-aku pulang dulu, ya. Nitip Kak Dee ya, Bang Van." Anwar langsung ngacir lagi ke rumahnya tanpa peduli jika Gantari makin mengerutkan dahi.


"Aku beneran curiga, deh, sama kalian." Gantari melangkah keluar dan memilih duduk di samping Nevan, lantas memakai kaus kaki dan sepatu sneakernya.


Nevan tidak menjawab, dia justru memperhatikan pergerakan Gantari yang mengikat tali sepatu dengan rambut yang menjuntai menutupi sebagian wajahnya. Membuat jantung Nevan makin berdegup kencang.


Lamunan Nevan terusik ketika Gantari menoleh padanya dengan sebelah alis terangkat, lantas menegakkan tubuh karena sudah selesai dengan urusan sepatunya.


Nevan yang gelagapan karena tertangkap basah langsung berdeham. "Sini. Aku ikat rambutmu."


"Kenapa?" Gantari mengintip rambutnya sendiri, lalu menatap Nevan lagi.


"Nanti kusut kalau naik motor, lebih baik diikat," balas Nevan sembari memutar bahu Gantari agar membelakangi dirinya.

__ADS_1


Nevan mulai menyisir rambut Gantari dengan jarinya, lantas menyatukan dan menarik rambut Gantari ke atas dengan lembut. Dia tampak khidmat sekali ketika melakakukan itu.


Setelah dirasa cukup rapi, Nevan mengulurkan sebelah tangannya pada Gantari dan sang pacar yang paham segera mengaduk tas dan memberikan sebuah ikat rambut hitam dengan hiasan mutiara pada Nevan.


Nevan dengan cekatan mengikat rambut Gantari, lalu tersenyum puas melihat hasilnya. Namun, tiba-tiba fokusnya berpindah pada tengkuk Gantari yang jenjang.


Astagfirullah.


Nevan bangkit dengan cepat, lalu membuka jaket kulitnya dan menyampirkan jaket tersebut pada pundak Gantari yang sontak membuat Gantari menoleh kebingungan.


"Udah siap?"


"Udah. Ayo berangkat," jawab Nevan cepat, lalu segera beranjak meninggalkan Gantari menuju sepeda motor di halaman.


Gantari hanya terkikik geli melihat tingkah Nevan. Kemudian, ia memakai jaket dengan benar dan menyusul Nevan dengan menenteng sebuah helm.


"Masih ada satu lagi," goda Gantari sembari mengulurkan helm tersebut pada Nevan.


Nevan yang sudah selesai memakai helm, menggeram frustrasi. Namun, di raihnya juga helm itu dan memakaikannya di kepala Gantari.


"Jangan sengaja menggodaku, ya, Dihyan. Aku nggak bisa menjamin untuk terus bisa menahan diri."


Uhuk!


***


"Gimana kalau aku ganti profesi jadi customer service saja?"


Shanessa terkikik. Baginya sindiran Angkasa tersebut seperti humor tingkat tinggi yang berhasil membuatnya ingin tertawa terus.


"Aku nggak sedang melawak. Jangan tertawa," titah Angkasa.


Shanessa mengatup bibirnya, meski senyum masih betah terukir di sana, membuat Angkasa mendengkus jengkel.


"Leo mana? Bukannya ini harusnya pekerjaan dia?" ucap Angkasa sembari menggoreskan tanda tangannya di laporan yang di bawa Shanessa.


"Sepertinya Pak Leo sedang lelah, jadi saya berinisiatif membantu." Itu benar karena memang Shanessa yang berinisiatif, eh bukan, memaksa Leo agar dirinya bisa membantu segala pekerjaan yang berhubungan dengan Angkasa.


Semenjak kejadian terakhir, Shanessa merasa Angkasa tidaklah menakutkan seperti yang terlihat. Semenjak kejadian itu, entah mengapa Shanessa selalu mengkhawatirkan Angkasa. Semenjak kejadian itu, sepertinya hati Shanessa sudah tersentuh oleh pesona lain seorang Angkasa.


"Kamu naksir?"


Deg!


Shanessa panik. Apa perasaannya begitu mudah terbaca?


"E-em ... Sa-saya juga masih ra ...." Nah, kan gagapnya kambuh hanya pada Angkasa seorang.

__ADS_1


"Sudahlah. Itu juga bukan urusan saya kalau kalian saling naksir."


Loh, kok?


"Maksud Bapak saya naksir siapa?" tanya Shanessa bingung.


"Menurut kamu? Saya?"


Oh, jantung bertahanlah.


"Ya, Kamu dan Leo, lah!"


Amblas lagi. Shanessa menarik kasar laporan yang sudah ditandatangani Angkasa, lantas memutar tubuhnya dan melangkahkan kaki keluar dari sana dengan hentakkan sebal.


Sepertinya mengkaji ulang perasaannya pada Angkasa merupakan tindakan yang paling tepat.


***


Kembali pada pasangan yang sedang dimabuk asmara, Nevan dan Gantari. Mereka kini terlihat lebih tenang tanpa adanya adu argumen atau saling menggoda seperti biasa. Keduanya memilih diam. Menikmati hempasan angin yang entah kenapa selalu berhasil memperbaiki suasana hati.


Meski, kini sebenarnya hati mereka sedang baik-baik saja.


Gantari semakin mengeratkan pelukan akibat laju kendaraan yang semakin tinggi, sedangkan Nevan dari tadi tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.


Cinta ini pernah menjadi milik kita berdua, lantas pernah hilang dan meninggalkan luka. Kini, kesempatan datang lagi dan aku pastikan meski harus terjatuh, hingga terjerembab dan berdarah, namun aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi.


***


Leo : Jika!


Jika : Astaga! Kok ada Bang Leo?


Leo : Huum. Aku mau ngomong sebentar sama kamu.


Jika : Apa lagi ini Tuhan? 🤧


Leo : Tolong, dong, Jika. Jangan buat nasibku ngenes.


Fikri : Plak! Nggak usah sok-sok request ya anak baru. Gue yang dari awal ngenes aja, santuy.


Leo : Itu kan, kan Abang. Aku nggak mau. Jikaaaaa!


Fikri : Jikaaaaaaa! Nasib aku juga dipikirin, dong.


Farez : Diem loe pada! Gue itu dedengkotnya ngenes. Kalau pun ada nasib lain yang harus dipikirin Jika, itu harusnya nasib cinta gue.


Jika : Huweeee 🤧 Ya, Allah ... tolongin umatmu yang manis ini. Bang Nepaaaaannnn ... tolongin adekmu yang butuh pelukan ini *tetep

__ADS_1


__ADS_2