Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

Ujian kali ini Shanessa hadapi sendiri. Sidang skripsi ia lalui dengan begitu tenang. Tak ada kepanikan, tak ada rasa grogi yang biasa ia tunjukkan pol-polan. Bahkan, ketika selesai sidang pun hatinya tetap sama, hampa.


Shanessa memilih menyingkir dari perayaan bahagia teman seperjuangannya hari ini. Ia duduk di kursi lorong dan mengeluarkan ponsel. Menatap layarnya lama, lalu menyentuh pilihan dial tepat di nama Nevan.


***


Nevan melangkah masuk dan langsung menyisir seluruh penjuru kafe untuk menemukan Shanessa. Setelah tadi Shanessa menelpon dan memintanya untuk bertemu.


Tidak sulit menemukan gadis itu. Shanessa memang selalu suka duduk di dekat jendela dan menatap ke arah jalan raya. Hari ini Shanessa memakai kemeja dan tampak begitu formal.


Nevan melangkah mendekat dan seketika jantungnya tersentak ketika melihat sosok lain yang duduk di seberang Shanessa. Sosoknya yang tadi tak terlihat olehnya, Gantari Dihyan Irawan. Sedangkan, di samping Gantari duduk pula Farez.


Mereka tak tampak mengobrol. Ketiganya tampak diam dan canggung, hingga Nevan mendekat.


"Eh! Kamu udah datang?" Shanessa menyapa Nevan seperti biasa. Seolah hubungan mereka baik-baik saja.


Gantari menunduk, sedangkan Farez tampak sesekali melirik pada Gantari. Ekspresi khawatir tersirat dari wajah dokter muda itu.


"Aku ngundang Gantari dan Farez. Nggak apa-apa, kan?"


Nevan yang baru saja menghenyakkan tubuhnya di samping Shanessa hanya menjawab dengan dehaman. Suasana benar-benar tidak nyaman. Sebenarnya apa maksud Shanessa?


"Hari ini aku sidang skripsi dan berhasil lulus," beritahu Shanessa. Sebuah kabar baik yang tidak disampaikan dengan ekspresi bahagia. "Itu berarti kita sebentar lagi akan menikah, kan, Sayang?"


Deg!


Nevan menoleh ke arah Shanessa. Sebenarnya apa tujuannya?


"Aku harap nggak ditunda lagi karena ...." Shanessa menoleh pada Gantari, menatap sang sepupu tajam. "Sekarang banyak pelakor."


Rahang Nevan mengeras. Ia hendak menegur Shanessa, namun Farez keburu menyela.


"Jaga ucapanmu, Shanessa!"


Farez berdiri, lantas meraih tangan Gantari. Tatapannya begitu tajam menghujam Shanessa yang tersenyum penuh cemooh. "Bukan begini caranya menyembuhkan lukamu. Maaf, tapi lebih baik kami pergi."


Farez melangkah pergi dengan menarik Gantari bersamanya. Namun, langkahnya sempat terhenti ketika Shanessa kembali bersuara dengan keras.


"Kalian cocok. Nikah aja!"


Nevan menghela napasnya kasar, lalu mencengkram kuat tangan Shanessa, hingga membuat gadis itu kembali tersenyum puas.


"Sakit hati, ya, mantan istrimu aku hina?"


"Shanes!"


Shanessa menarik tangannya, hingga cengkraman tangan Nevan terlepas. Kemudian, ia menatap Nevan dingin.


"Aku sudah menepati janjiku, sekarang giliran kamu!"


Nevan tidak langsung menjawab, ia masih menatap gadis di depannya tidak percaya. Siapa dia? Dia tidak seperti Shanessa yang ia kenal.

__ADS_1


"Kamu memang nggak ada niat menikahiku, kan?" sentak Shanessa. Senyum miris terukir di bibirnya.


"Perasaan kita masih kacau. Lebih baik kita menata perasaan dulu." Akhirnya Nevan membalas.


Shanessa menatapnya sengit. "Kamu memang nggak pernah berniat menikah denganku!" tukasnya tajam.


"Kapan?"


"Dua minggu lagi," jawab Shanessa datar.


"Baik."


Shanessa bangkit dan membalikkan badannya, lantas berjalan keluar kafe. Setetes air mata lolos dari matanya.


***


Bibir Gantari bergetar. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk melangkahkan kakinya mengikuti Farez dan memilih melorotkan tubuhnya, hingga berjongkok di pelataran parkir.


Gantari membungkuk, lalu membenamkan wajah dikedua telapak tangannya sendiri. Samar, terdengar isakan dari sana Gantari menangis. Hati Farez pedih mendengarnya, ia ikut berjongkok. Kemudian, memeluk wanita itu dalam diam.


***


Sejak kejadian hari itu Nevan tidak lagi muncul. Gantari bahkan menertawai dirinya sendiri karena bisa-bisanya berharap Nevan akan datang dan memberi penjelasan untuknya. Penjelasan apa? Penjelasan kalau dia perusak hubungan orang?


"Assalamualaikum."


Gantari yang sedang menyiram tanaman pagi ini langsung memutar tubuhnya dan mendapati .... Farez disana. Ia segera mengulas senyum ketika menyadari sempat memperlihatkan raut kecewa.


"Wa'alaikumsalam."


"Aku beli soto lamongan," katanya ceria.


Mereka akhirnya makan bersama di teras. Farez merasakan Gantari menjadi lebih pendiam dan kerap kali tertangkap basah sedang melamun.


"Apa ...." Farez sengaja menggantungkan kalimatnya, menunggu Gantari menatapnya. "Sudah lebih baik?"


Gantari menyuap soto lamongannya, lalu mengangkat bahu. "Sedikit lebih baik."


Farez tersenyum. Wanita itu memang bukan wanita lemah. "Kamu kerja di mana sekarang?"


Gantari tampak terdiam sejenak. "Nggak kerja. Tabunganku masih banyak."


Kali ini Farez terkekeh. Dokter muda ini memang mudah sekali tertawa, terutama pada Gantari.


"Sepupuku memimpin perusahaan. Aku bisa merekomendasikanmu kalau mau," tawar Farez.


Gantari tampak berpikir. Dia memang tidak mungkin selamanya menganggur.


"Nggak sekarang. Mungkin besok, lusa, minggu depan, atau bulan depan," timpal Farez ketika melihat raut ragu Gantari.


"Kamu sedang melibatkan aku dalam nepotisme, ya?"

__ADS_1


Farez melongo, kemudian tertawa keras lagi.


***


Gantari sedang mengganti gorden seluruh jendela dengan yang baru dibelinya sore tadi. Ia memanjat kursi, memaku, untuk memasang gorden sendiri. Padahal Bu Fatimah sudah berteriak panik agar Gantari menunggu Anwar saja.


"Ini kerjaan laki-laki, Neng. Tunggu si Anwar aja. Bentar lagi juga pulang," katanya.


Gantari terkekeh saja, lalu kembali melanjutkan aksinya memaku di sana dan di sini. Sedangkan, Bu Fatimah mengekor dengan panik.


"Duh! Bentar lagi Maghrib. Aku mandi dulu, ya, Bu." Gantari memasukkan perkakas perangnya ke dalam lemari, lalu mengambil handuk di belakang pintu.


"Yaudah. Kalau gitu ibu pulang dulu, ya. Nanti malam ke sini lagi."


Bu Fatimah memang setiap malam bertandang ke rumah Gantari sekadar menemani. Dia sibuk menonton sinetron, sedangkan Gantari akan sibuk dengan laptopnya.


Bu Fatimah sudah sampai di ambang pintu, namun memutar tubuhnya lagi. "Itu siapa, ya?" katanya.


Gantari yang sedang menyepol rambutnya, menoleh pada Bu Fatimah.


"Itu di depan gang ada mobil dari sore. Sampai mau maghrib nggak balik-balik." Bu Fatimah jalan mendekat pada Gantari lagi. "Apa Bu Suryo beli mobil lagi? Kaya bener ah," lanjutnya.


Kalau sudah membicarakan tetangga, maka ceritanya akan panjang. "Mobilnya cakep bener, loh, Neng. Warna hitam."


"Kapan ibu lihatnya?" respons Gantari.


"Tadi pagi waktu ibu ngantar gorengan udah ada mobilnya, tapi sebentar habis itu pergi," cerita Bu Fatimah. Ia memang menitip gorengan ke warung-warung dekat di sini, jadi kerap mondar-mandir.


"Barusan ibu ke warung beli paku mobilnya ada lagi," lanjutnya.


"Duh! Malah ngegosip." Bu Fatimah cekikikan. "Ibu beneran pulang, ya."


Gantari tersenyum melihat Bu Fatimah berlari kecil keluar. Ia hendak menutup pintu, namun ada seseorang yang sedang berdiri di dekat dinding gang.


Gantari melonggokkan kepalanya, lalu berjalan ke luar, namun orang itu justru berbalik dan pergi.


***


Bi Murni sedang beres-beres rumah Nevan subuh ini. Sesekali ia mencuri lihat Nevan yang sibuk sekali dengan laptopnya. Jambang tipis yang belum pernah Bi Murni lihat sebelumnya, kini merambat di wajah rupawan Nevan. Rambutnya juga tidak rapi seperti biasa. Tanpa bertanya pun Bi Murni tahu, kalau Nevan tidak tidur semalaman.


"Makan dulu, Mas. Itu udah Bibi siapkan," ucap Bi Murni pelan.


"Tolong buatkan kopi aja, Bi," balas Nevan tanpa menoleh.


"Kalau kopi, Bibi nggak mau buatkan." Suara Bi Murni terdengar bergetar. Ketimbang melihat Nevan meraung malam itu, kondisi tuannya sekarang jauh membuat hatinya Bi Murni sakit.


"Tidur, Mas. Jangan nyiksa diri sendiri kayak gini." Bi Murni akhirnya tersedu.


Nevan akhirnya menoleh. Sorot matanya begitu sangat lemah. "Kalau aku tidur, rasanya aku nggak mau bangun, Bi."


Bi Murni makin memecah tangis. Ia melangkah mendekati Nevan dan memeluknya erat. Mengusap rambut sang tuan muda pelan. "Bibi di sini. Apa pun keputusan Mas Nevan, Bibi dukung."

__ADS_1


Dan, sebulir air bening akhirnya lolos dari mata Nevan.


Akhirnya Nevan tidur dengan bantuan dua butir obat tidur. Sebuah alternatif yang sudah cukup lama ia tinggalkan, tapi tidak ada jalan lain, karena dia memang butuh tidur agar tetap waras.


__ADS_2